Pertimbangan Kawula Muda RI dalam Milih Presiden

Rachmad Faisal Harahap, Jurnalis · Rabu 09 Juli 2014 15:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 07 09 373 1010266 19WafrbiPg.jpg Visi dan misi calon presiden menjadi salah satu alasan anak muda Indonesia, khususnya mahasiswa, dalam memilih seorang pemimpin. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA - Visi dan misi calon presiden menjadi salah satu alasan anak muda Indonesia, khususnya mahasiswa, dalam memilih seorang pemimpin. Dengan visi misi, kita bisa melihat tujuan dan rencana masing-masing kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam membenahi negeri ini.

Kedua hal inilah yang menjadi acuan mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad), Deden Amwar, dalam memilih presiden Indonesia untuk lima tahun ke depan. "Ketika debat, mereka menjelaskan tentang visi dan misi dengan cara penyampaian yang jelas," ujarnya saat dihubungi Okezone, baru-baru ini.

Selain itu, mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) itu melanjutkan, pertimbangan lainnya adalah karakter capres dan cawapres tersebut, apakah sudah mampu terlihat secara luas. "Hal-hal tersebut menjadi salah satu poin saya untuk memilih presiden, terutama pada ASEAN Economic Community (AEC) itu sangat penting," ucapnya.

Sedangkan menurut mahasiswi Universitas Bung Karno (UBK) Eka Is Kurnianingsih, yang pasti, dia akan melihat rekam jejak calon pemimpin terlebih dahulu. Apakah mereka mempunyai pengalaman atau tidak dalam memimpin rakyat, apakah mereka pernah bermasalah dengan hukum atau tidak.

"Kalau masalah ras atau agama, saya enggak terlalu mikirin, karena menurut saya sudah enggak zaman pilih pemimpin sesuai dengan ras, suku, agama atau apalah itu. Terlalu tradisional dan enggak modern, membuat Indonesia enggak maju," ungkap mahasiswi Ilmu Komunikasi itu.

Dalam kacamata Eka, visi misi hanyalah perencanaan yang akan direalisasikan. "Tahulah kebanyakan politikus hanya janji ini janji itu tapi hasilnya nihil," tuturnya.

Selain itu, Eka juga melihat orang di belakang calon pemimpin tersebut, siapa saja dalam tim suksesnya, atau partai apa saja yang menjadi pendukungnya. Eka mengimbuhkan, akan bahaya juga orang di belakangnya capres adalah mafia yang jadi incaran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bisa jadi si mafia itu tidak ingin mensejahterakan rakyat, tapi justru memiskinkan rakyat. Jika ini terjadi, maka bisa hancur bangsa Indonesia.

"Kemudian faktor hati nurani. Makin ke sini makin bisa kita lihat jelas mana yang hanya sekedar ambisius untuk berkuasa di Indonesia, dan mana yang tulus memperbaiki Indonesia," katanya.

Eka menambahkan, gaya kampanye juga menjadi poin pertimbangan lainnya. Misalnya, kampanye hitam yang bertebaran dimana-mana dengan mengusung isu SARA, antek asing dan masih banyak lagi.

"Kampanye hitam ini justu menjadi membuat saya menyadari mana yang harus dipilih dan mana yang harus diabaikan. Karena lewat fitnah-fitnah tersebut, saya makin cari tahu kebenarannya," tambahnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini