Share

UNS Bantu Selamatkan Naskah Kuno dari Kerusakan

Bramantyo, Okezone · Kamis 24 Juli 2014 11:07 WIB
https: img.okezone.com content 2014 07 24 373 1017296 0UZ9gFAPdt.jpg Museum Radya Pustaka di Solo memiliki ribuan manuskrip kuno berusia lebih dari ratusan tahun. Mereka pun menggandeng UNS dalam proses digitalisasinya. (Foto: Bramantyo/Okezone)

SOLO - Museum Radya Pustaka di Solo memiliki ribuan naskah atau manuskrip kuno berusia ratusan tahun atau lebih. Sayangnya, tidak semua dokumen tersebut berada dalam kondisi baik. Bahkan, beberapa masuk dalam kategori rentan rusak.

Menurut Ketua Komite Museum Radya Pustaka Purnomo Subagyo, menjelaskan, mereka memiliki 392 naskah carik, 1.000 naskah Jawa cap atau cetak, dan 105 naskah tedhakan atau naskah yang telah ditulis ulang. Mereka pun berupaya menyalin manuskrip kuno dalam bentuk digital dengan menggandeng Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

"Sebagian besar ribuan naskah kuno itu kondisinya rapuh. Saat ini kami sudah memiliki sebuah alat  perekaman digital untuk merekam naskah kuno tersebut agar tidak punah," kata Purnomo di Solo, Jawa Tengah, belum lama ini.

Alat tersebu adalah sebuah meja dari mika putih yang memiliki kemiringan di salah satu sisinya. Meja ini terhubung dengan kamera DSLR dan komputer. Untuk menghindari bayangan, meja pun dilengkapi delapan lampu di atas dan empat lampu di  bawah. Meja buatan dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) UNS tersebut dibanderol Rp40 juta.

"Petugas khusus akan bertugas untuk  melakukan alih media ini. Per harinya  dia mampu menyalin 100 lembar naskah," imbuh Purnomo.

Purnomo mengungkapkan, digitalisasi naskah kuno akan mempermudah pengunjung untuk membaca isinya melalui komputer. Mereka tidak perlu merasa takut akan merusak koleksi berharga tersebut. 

Kurnia Heniwati adalah petugas museum Radya Pustaka yang bertugas menyalin naskah kuno. Dia menjelaskan, alat yang mereka gunakan mirip dengan yang ada di Monumen Pers.

"Tetapi di sana dipergunakan untuk alih media koleksi koran tua," jelasnya.

Menurut Nia, sejak dimulai tiga bulan lalu, dia sudah menyelesaikan digitalisasi tiga buah naskah kuno. Ketiga naskah itu adalah Serat Yusuf yang berisi tentang kisah Nabi Yusuf, Serat Nasangul Badingah yang berisi tentang kisah para nabi dan teologi Islam serta Serat Iskandar yang menceritakan tentang Iskandar Zulkarnain atau dikenal dengan  Alexander The Great.

"Naskah ini dibuat pada 1729 oleh pujangga Kraton Surakarta dengan tulisan tangan dan berbahasa Jawa Kuno. Biasanya dibuat dalam tembang Macapat," terangnya lebih lanjut.

Nia berharap, proses digitalisasi akan mempermudah para peneliti mengakses informasi dari serat-serat tersebut. Mereka tidak perlu membuka naskah, namun cukup salinan digitalnya saja.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini