Share

Indonesia Tidak Siap Hadapi Pasar Bebas ASEAN

Margaret Puspitarini, Okezone · Rabu 30 Juli 2014 18:43 WIB
https: img.okezone.com content 2014 07 30 373 1019141 QdiDaYuyX5.jpg Indonesia Tidak Siap Hadapi Pasar Bebas ASEAN (Ilustrasi : asean.gunklaten)

JAKARTA - Siap atau tidak, tahun depan Indonesia akan menjadi bagian dalam Pasar Bebas ASEAN. Pemberlakuan kesepakatan tersebut sebenarnya bisa memberikan peluang yang sama bagi setiap negara, termasuk Indonesia, terhadap mobilitas bisnis dan manusia.

Sayang, Wakil Dekan Bidang Akademik Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Togar M Simatupang menilai, Indonesia belum siap untuk menghadapi masa tersebut. "Secara umum, kita memang tidak siap karena tidak dipersiapkan," ungkap Togar, seperti disitat dari situs ITB, Rabu (30/7/2014).

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Menurut Togar, jika mau mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar bisa seimbang dengan bangsa -bangsa lain di ASEAN, Indonesia harus memulainya dari proses penyadaran (awareness), penyiapan (readiness), kemudian peningkatan kompetensi. Sementara itu, pengakuan kualifikasi Indonesia setara dengan yang lain masih belum ada.

Selain dari segi SDM, Togar menjelaskan, masalah lain juga terletak pada kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap sektor-sektor yang memiliki comparative advantage. Hal ini dikarenakan ekonomi Indonesia masih berorientasikan pada komoditas alam dan konsumsi.

"Kita masih seperti budaya pengumpul dengan hanya mengambil hasil panen dari alam dan menjualnya langsung tanpa memberikan nilai tambah yang lebih baik dengan mengolahnya terlebih dahulu. Untungnya, saat ini sudah ada keinginan untuk mengembangkan hilirisasi industri, salah satunya dengan mulai diwajibkannya proses pemurnian hasil tambang dengan smelter sebelum diekspor," paparnya.

Lalu, untuk mencukupi kebutuhan domestik pun kita juga masih seperti budaya pedagang dengan baru berpikir untuk menghadirkan barang bukan menghasilkan barang. Dengan kata lain, tambahnya, saat Indonesia hanya berperan sebagai pasar yang bisa mendatangkan kerugian dalam jangka panjang.

"Bila kita terus seperti ini dan hanya menjadi pasar, akibatnya dalam jangka panjang Indonesia bisa mengalami ketidakseimbangan seperti peribahasa besar pasak daripada tiang. Jadi, kita mengeluarkan belanja lebih besar daripada hasil yang kita dapatkan," imbuh Togar.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini