Share

Ekonomi Kreatif, Keunggulan RI Bersaing di MEA

Margaret Puspitarini, Okezone · Rabu 30 Juli 2014 20:00 WIB
https: img.okezone.com content 2014 07 30 373 1019145 omgJLuigvi.jpg Ekonomi Kreatif, Keunggulan RI Bersaing di MEA (Ilustrasi Foto : Okezone)

JAKARTA - Ekonomi kreatif merupakan salah satu sektor industri yang memiliki peluang baik untuk bersaing dalam pasar bebas ASEAN pada 2015. Topik ekonomi kreatif masih indah dibicarakan, namun sulit dilakukan karena kurangnya dukungan pemerintah.

Pendapat tersebut diungkapkan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Togar M Simatupang. Dia mengungkap, sebagai industri yang kebanyakan lahir dari kreativitas yang otodidak, sebenarnya ada tiga hal yang dibutuhkan dari pemerintah.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

"Pertama, talent scouting dengan pencarian bakat kreatif yang berpotensi untuk selanjutnya dibina di dalam inkubator bisnis agar bisa berhasil secara perseorangan dan nantinya bisa menjadi bisnis yang lebih besar," tutur Togar, seperti disitat dari laman ITB, Rabu (30/7/2014).

Lalu, lanjutnya, pemerintah juga harus membuat sistem kebijakan yang lebih lengkap. Mulai dari pendanaan modal, fasilitas, hingga pasar yang perlu dibangun dengan menyesuaikan nilai-nilai budaya dan alam setempat.

Togar menjelaskan, untuk memajukan ekonomi kreatif di Indonesia, pertama-tama industri itu harus bisa memenuhi kebutuhan kreatif di dalam negeri. Dalam hal ini, pemerintah perlu mempersiapkan program, terutama terkait pembinaan karena sifat orang Indonesia memang harus ada yang mengayomi dan menjaga kinerjanya agar bisa konsisten.

"Selain itu, tantangan lainnya adalah bagaimana menjamin ekonomi kreatif ini bisa memberi kehidupan yang layak bagi pelakunya agar bisa terus berinovasi. Terlebih lagi kita memang masih belum bisa menghargai para seniman dengan baik sehingga yang lebih diuntungkan malah para pedagang," urainya.

Menurut Togar, berbagai masalah tersebut bisa terjawab salah satunya dengan berani membayar mahal desainer untuk sekali mendesain produk yang digunakan sebagai produksi massal sehingga sama-sama diuntungkan.

"Kalau bisa, munculkan dulu leader-leader di sana dengan misi bahwa mereka bisa menarik yang lain. Juga harus ada supporting system agar bisa terus bertumbuh dan harus menggunakan logika multiplikasi dengan ada keberpihakan dari pemerintah melalui modal dan balai pelatihan yang diaktifkan lagi," imbuh Togar.

Untuk bisa mencapai ke arah tersebut, kata Togar, pemimpin ke depan memang harus mencintai Indonesia yang berdaulat. Pemimpin tersebut juga harus berani mengembangkan ekonomi kreatif.

"Semisal batik. Semuanya lengkap mulai dari orang, fasilitas, pasar, modal, pendidikan sehingga bisa sampai menembus pasar luar negeri. Yang terpenting, program itu harus berdampak, berjenjang, dan berkelanjutan. Jangan hanya wacana saja," tegasnya.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini