Share

Museum Radya Pustaka Tujuan Utama Peneliti Asing

Bramantyo, Okezone · Jum'at 08 Agustus 2014 17:03 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 08 373 1021711 NkBzrZSn8J.jpg Koleksi manuskrip kuno di Radya Pustaka, Solo, menjadi incaran banyak peneliti asing. Mereka sangat mengagumi budaya Jawa, misalnya tentang weton, neptu dan pasaran. (Foto: Bramantyo/Okezone)

SOLO - Proses digitalisasi manuskrip atau naskah  kuno di Musium Radya Pustaka memerlukan kesebaran, ketelitian tingkat tinggi. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk untuk menyelamatkan manuskrip kuno berusia ratusan tahun dan sudah lapuk ini agar tidak rusak. Sehingga, masyarakat akan dengan mudah untuk melihat dan membaca naskah kuno tanpa harus memegang  naskah yang sangat berharga tersebut.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Menurut  Kurnia Heniwati, petugas dari Musium Radya Pustaka, proses digitalisasi naskah kuno tersebut harus hati-hati. Sebab jika tidak sabar dan teliti akan semakin merusak naskah kuno tersebut.

"Jika tidak hati-hati bisa merusak, sobek atau 'mreteli' (terlepas)," jelas Heniwati kepada wartawan di Solo Jawa Tengah, Jumat (8/8/2014).

Saat ini  Kurnia Heniwati yang akrab di panggil Nia sedang mengerjakan digitalisasi manuskrip Serat Iskandar, koleksi dari Museum Radya Pustaka. Manuskrip kuno ini  memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan dibuat sekitar tahun  1729.

Naskah tersebut merupakan karangan dari pujangga era  Kraton Solo pada masa Kraton masih berada di Kartosura.  Penulisnya  bernama  Kanjeng Ratu Mas Balitar sedangkan pujangga satunya tidak diketahui siapa namanya atau bisa disebut anonimus. Naskah tersebut berisi cerita  Nabi Yusuf.

"Karena memang usia yang sudah sangat tua, buku yang rontok memang bertambah karena dimakan kutu atau jamur," jelasnya lagi.

Baca: UNS Bantu Selamatkan Naskah Kuno dari Kerusakan

Menurut Nia pihak Museum Radya Pustaka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melesterikan aset sejarah tersebut. Banyak faktor yang menjadi kendala selain kurangnya  dana untuk pemeliharaan juga serangan kutu serta jamur yang merusak koleksi manuskrip kuno yang ada di museum.

Koleksi manuskrip kuno di Radya Pustaka sendiri menjadi incaran banyak peneliti asing. Mereka sangat mengagumi budaya Jawa, misalnya tentang weton, neptu dan pasaran.

"Mereka tidak mengira kalau di Jawa ada Java Horoscope yang sangat komplet," jelasnya lagi.

Salah satunya adalah  Nancy K Florida, peneliti asal Amerika. Peneliti tersebut sudah puluhan tahun  melakukan studi pada  terhadap manuskrip kuno yang ada di Indonesia. Bahkan Nancy juga sempat menerbitkan katalog, Javanese Literature in Surakarta Manuscript, berisi ringkasan semua manuskrip museum yang berdiri 28 Oktober 1890.

"Nancy itu bicaranya pakai bahasa Jawa kromo, jauh lebih baik dan halus dibanding saya," terang Nia dengan nada kagum.

Terlebih lagi yang membuat Nia salut adalah peneliti asing itu betah berjam-jam untuk membaca koleksi naskah kuno yang ada di museum. Datang saat jam buka musium dan pulang saat musium akan tutup.

"Kagum saya terhadap mereka, dengan tekunnya membaca lembar demi lembar, bab demi bab secara rinci dan detail secara langsung, dan tidak mau memfotokopinya," pungkasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini