nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Toga Ini Spesial untuk Ayah

Selasa 12 Agustus 2014 21:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2014 08 12 551 1023358 kMf2jTqz21.jpg Ilustrasi toga dan ijazah sarjana (Feri Usmawan/Okezone)

TERASA sesak nafasku, sendi sendi tulangku terasa dipreteli, butiran bening membasahi kelopak mataku yang menetes sangat deras, aku mencoba untuk tegar di hadapan ayahku, tapi sayangnya dinding ketegaranku runtuh sudah diterpa badai nestapa. Butiran bening yang mengalir kelopak mataku kini mengalir deras, tak sanggup rasanya aku melihat kondisi orang yang amat kukasihi tergolek tak berdaya.

 

Tiada lagi tubuh kekar yang dulu, yang ada kini hanya badan terbungkus tulang, tangannya sangat lemah dan tak berdaya ketika aku menggenggam tangannya, tidak ada lagi aura yang biasa disalurkan kepadaku, seperti dulu.

 

Ketika ku sedih, ku selalu menggengangam tangan ayahku, dan secara ajaib, kekuatan energi yang ayahku berikan melalui genggaman tangan dan pelukan kasih sayang , membuatku kuat menjalani hidup ini.

 

Tapi sekarang????? Tidak kudapati hal itu, aku ingin berbagai energi seperti yang ayah lakukan waktu itu, Tapi rasanya aku tidak bisa, karena aku tidak kuat seperti ayah. Aku sangat miris melihat kondisi ini, jujur ku ingin berontak dan melawan semuanya, tapi sial, aku tidak mempunyai daya untuk melawan itu semua. Kenapa harus dia??? Sosok yang selama 23 tahun sangat kupuja, sangat kukasihi, hormati dan menjadi pahlawan dalam hidupku.

 

Ya…….kenapa harus ayahku ? Aku ingin berlari dan meneriaki kepada alam , mengapa ini semua terasa sangat tidak adil, bagiku cukup sudah ayahku menanggung segala cerita duka, pilu nestapa menjalani hari-hari kehidupan kami yang sulit. Kenapa harus ditambah dengan penyakit ayahku yang dengan angkuhnya berkuasa.  Ayaku adalah malaikat dalam hidupku, beliau sosok yang sangat kuidolakan, dalam segala kesedihan dan kesulitan apapun , ayah selalu mengajarkanku tersenyum dan mensyukuri keadaan ini.

 

“Oh nduk, kita ini wong susah, jadi semuanya gak usah dibuat susah, syukuri saja semua yang ada, wong  Gusti Allah itu selalu sayang sama hambanya, kaya atau miskin toh itu semua sifatnya sementara, yang jamin kebahagian itu neng kene lo, sambil menunjuk ke dalam hati,” ujar ayah ku sambil menyeruput kopi hitamnya setiap kali aku berkeluh kesah.

 

Yo wes, gak usah dipikiri, ben ayah wae yang cari duit, belajar yang bener, buat wong tuo bangga, ya udah ayah mau pergi jualan dulu, doain yo jualannya laris manis. Itulah kata – kata yang kerap kali dikatakan untuk menenangkanku jika ku meminta bayaran semester dan uang kuliah.

 

Ayahku adalah pedagang sayuran, yang tiap hari berkeliling menjajakan dagangannya keliling kampung, setiap pagi, sebelum azan shubuh berkumandang ayahku sudah keluar rumah, melawan kerasnya angin dini hari, menerobus kabut tebal, menemani perjalanan kelelawar yang pulang ke sarangnya, dengan ditemani kereta tua yang selalu setia membantu ayahku mengais rezeki. Ayahku selalu berusaha untuk tidak mengeluh apapun yang terjadi padanya , ayah hanya satu meminta kepadaku untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

 

Melihat kondisi keluargaku, dan begitu besar tekad ayah yang ingin menjadikanku seorang sarjana, hal itu yang membuatku belajar dengan sungguh-sungguh, ingin cepat menyelesaikan kuliah, ingin menggantikan posisi ayah, mengizinkan ayah beristirahat menikmati hari tuanya untuk bersantai ria, bukannya malah terus berkutat dan melawan arus kehidupan  yang sangat keras.

 

Kini, gelar sarjana telah kuraih, kuingin berbagi kebahagian bersama ayah, kuingin menjadi orang sukses, agar ayahku tidak usah lagi bekerja diusia senjanya. Aku hanya ingin meihat ayah bahagia. Baru cerita indah itu akan kurangkai, tapi kenyataannya , sosok pahlawanku kini malah terbaring tak berdaya. Hanya melaui tatapan matanya yang mengisyaratkan kepadaku bahwa ia banggga kepadaku dan bahagia

 

Ya..hanya di bentangan sajadah inilah aku bisa mengadu dan berkeluh kesah, meminta kepada zat Penguasa Alam Semesta untuk memberikan kesembuhan kepada ayah, karena aku benar-benar tidak sanggup kehilangan ayah.

 

Oleh Dian Istiandari

Penulis dapat dihubungi di alamat email: distiandari@gmail.com

(Bagi Anda yang bersedia cerpennya dipublikasikan, silakan kirim ke news.okezone@mncgroup.com)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini