Legenda Yadnya Kasada dan Leluhur Suku Tengger

Hari Istiawan, Okezone · Jum'at 15 Agustus 2014 11:26 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 15 345 1024905 1cQTe9IYNc.jpg Ribuan warga Tengger mengikuti Upacara Yadnya Kasada (Foto: Hari Istiawan/Okezone)

MALANG - Seorang ibu tengah mempersiapkan beberapa hasil pertanian, seperti daun bawang dan kentang. Ada juga ternak yang dibawanya, seperti ayam dan anak kambing.

Beberapa bungkus daun pisang berisi nasi dan lauknya pun tak ketinggalan. Semua itu akan dilarung di kawah Gunung Bromo, salah satu gunung yang dianggap suci oleh warga Suku Tengger yang mendiami 36 desa di empat kabupaten, yakni Malang, Pasuruan, Lumajang, dan Probolinggo.

Larung sesaji beragam hasil pertanian serta ternak itu merupakan salah satu rangkaian dari Upacara Yadnya Kasada. Upacara tersebut diselenggarakan setahun sekali pada malam purnama di bulan Kasada menurut penanggalan Tengger.

Semua warga Tengger datang berduyun-duyun dari kampung masing-masing dengan berjalan kaki, naik sepeda motor, maupun naik mobil bak terbuka. Ritual ini sudah berlangsung turun temurun.

“Kalau tidak melakukan ini, tidak selamat,” kata Mulyadi, seorang warga Tengger yang tinggal di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Tradisi ini sudah berjalan sejak ratusan tahun lalu dan tetap bertahan hingga saat ini. Cerita turun temurun mengenai asal-usul upacara Yadnya Kasada ini pun terus dihidupkan ke anak-cucu.

Upacara Yadnya Kasada memang memiliki kekhasan dan keistimewaan tersendiri serta mampu menyedot puluahn ribu wisatawan asing dan domestik.

Konon, leluhur Suku Tengger menghuni 25 tempat di sekitar pegunungan Bromo dan Semeru. Salah satunya adalah Raden Hadi Kusuma, putra ke-25 dari pasangan Joko Seger (Putra Brahmana) dan Lara Anteng (Putri Raja Majapahit) yang bersemayam di kawah Gunung Bromo.

Sebelum melahirkan 25 anak, Joko Seger dan Lara Anteng bertapa dan meminta Sang Hyang Widi agar dianugerahi anak. Sebab, sudah bertahun-tahun menikah mereka belum juga mempunyai keturunan.

Keduanya bertapa di Gunung Bromo. Hasil pertapaan, mereka mendapat petunjuk segera mempunyai keturunan. Namun ada syaratnya, Joko Seger dan Lara Anteng harus mengorbankan putra bungsu mereka ke kawah Gunung Bromo. Keduanya bersedia menerima syarat itu.

Pasangan ini lalu mempunyai 25 anak. Putra bungsu mereka Raden Hadi Kusuma tumbuh menjadi pria gagah. Joko Seger dan Lara Anteng sangat sayang kepada Raden Hadi Kusuma dan seolah lupa dengan janji mereka untuk mengorbankannya ke kawah Gunung Bromo.

Tiba-tiba langit di kawasan Tengger gelap gulita. Mereka lalu teringat dengan janji tersebut dan menceritakannya kepada sang bungsu. Kusuma pun bersedia dikorbankan demi keselamatan negeri.

Joko Seger pun berpesan kepada anak-cucunya agar melakukan sesaji pada tanggal ke-14 atau malam purnama di bulan Kasada ke kawah Gunung Bromo. Pesan tersebut bertahan hingga sekarang. Masyarakat Tengger percaya, melarung sesaji akan memberi mereka keselamatan dan ketentraman.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini