Istimewanya Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

Hari Istiawan, Okezone · Senin 18 Agustus 2014 10:20 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 18 345 1025966 ynSIXEidYo.jpg Ritual dalam Upacara Yadnya Kasada Agustus 2014 di Gunung Bromo (Foto: Hari Istiawan/Okezone)

MALANG - Waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB. Purnama bersinar terang dikelilingi gemerlap ribuan bintang di atas lautan pasir Gunung Bromo.

Puncak upacara Yadnya Kasada 1634 Saka dimulai. Sesepuh para dukun Tengger memasuki lokasi upacara di kawasan Gunung Bromo. Sepetak panggung seluas 2x2 meter persegi berdiri di tengah pendopo mandala utama. Di depannya, yakni di pelataran pura menghadap ke Gunung Bromo, masyarakat Tengger bergantian memanjatkan doa kepada Sang Hyang Widi.

Di samping aula, di sisi kanan dan kiri, para dukun dari desa-desa Tengger menghadap tungku pembakaran dupa. Mereka melayani masyarakat yang meminta restu dan doa sebelum melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Aroma dupa dan kemenyan memenuhi udara malam. Menghangatkan tubuh dari dingin yang menusuk tulang. Alunan gending mengiringi lantunan macapat atau puja-puja yang dibacakan secara bergantian.

Masyarakat Tengger berduyun-duyun memasuki Poten Pura Agung yang berada di tengah lautan pasir. Mereka melantunkan doa dan puja-puji kepada Sang Hyang Widi. Bersyukur atas rizki dan keselamatan yang didapat selama ini. Usai disucikan para dukun, sesaji yang berisi hasil bumi dan ternak lalu dibawa menuju puncak bibir kawah untuk dilarung.

Salah satu keistimewaan upacara Yadnya Kasada dibanding upacara Suku Tengger lainnya adalah adanya ujian Mulenen dan pengukuhan dukun-dukun baru.

Prosesi ini hanya dilakukan dalam upacara Yadnya Kasada. Pada 2014, ada dua calon dukun yang melakukan ujian Mulenen atau menghafal mantra-mantra. Mantra tersebut dipakai setiap upacara atau keperluan warga Tengger.

Dua calon dukun tersebut mulai diuji sekira pukul 04.00 WIB. Setelah diuji, kedua calon dukun tersebut dikukuhkan menjadi dukun baru di desanya, yakni Sukarji dari Desa Mororejo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dan Ngatono dari Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Saat ini ada 47 dukun di 36 desa di Malang, Pasuruan, Lumajang, dan Probolinggo.

Yadnya Kasada merupakan upacara khas Suku Tengger. Upacara lainnya, seperti Unan-Unan dan Karo, umumnya digelar di poten atau pura di masing-masing desa.

Tak pelak, upacara Yadnya Kasada juga menjadi salah satu ajang temu kangen dan saling bercengkrama sesama warga Tengger yang terpisah oleh lautan pasir Gunung Bromo. Upacara ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

"Total ada 15 ribu orang mengunjungi Gunung Bromo pada perayaan Yadnya Kasada," sebut Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Ayu Dewi Utari, Kamis 14 Agustus 2014.

Menurut Ayu, wisatawan domestik yang ikut menyaksikan Yadnya Kasada sekira 1.500 orang, sementara wisatawan mancanegara 100 orang lebih. Sisanya merupakan warga Tengger.

Karena banyak orang yang menuju Gunung Bromo pada perayaan Yadnya Kasada, petugas sulit membedakan antara wisatawan dan warga Tengger peserta upacara.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini