nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jiwo Damar Berantas Korupsi dengan Mendongeng

Bayu Septianto, Jurnalis · Selasa 19 Agustus 2014 10:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 08 19 157 1026492 u98xQ1NVi7.jpg Jiwo Damar Anarkie (kiri) bersama rekannya Viktor Yudha (kanan), pegiat antikorupsi yang menggunakan cara berdongeng untuk mengenalkan pendidikan antikorupsi pada anak-anak. (Foto: Bayu/Okezone)

“Debo, aku minta maaf. Aku sudah meminta ulangan lagi dan inilah hasil sesungguhnya. Aku janji tidak akan mencontek lagi. Kamu mau memaafkan aku kan?” ujar Bibo. Debo pun memaafkan Bibo karena telah berbuat jujur. Akhirnya mereka berpelukan dan saling memaafkan.

 

Itulah cuplikan dialog dari sebuah dongeng yang dibawakan oleh Jiwo Damar Anarkie. Ketika si Debo akhirnya mengakui kesalahannya kepada Bibo, sang sahabat.

 

Tidak menggurui, itulah prinsip dasar yang dipegang oleh Jiwo ketika mendongeng tentang antikorupsi kepada anak-anak. Pria berusia 23 tahun ini percaya bahwa dalam dongeng terkandung nilai-nilai yang mendidik, tapi terkesan tidak menggurui, sehingga anak-anak pun menyukainya.

 

"Mengutip Michel Borba, psikolog anak dari Amerika Serikat, mendongeng adalah cara paling efektif untuk pembelajaran. Terutama, buat anak-anak," ujar Jiwo yang ditemui Okezone di Cimanggis, Depok, akhir pekan kemarin.

 

Sudah tiga tahun sarjana lulusan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini berkutat dengan anak-anak dalam menyampaikan pendidikan antikorupsi. Semangat tersebut ia tularkan melalui mendongeng, yang menurutnya merupakan cara paling efektif dalam menyebarkan pentingnya antikorupsi kepada anak-anak.

 

Jiwo tidak sendiri dalam melakukan aktivitas mendongeng, namun bersama Future Leader for Anti-Corruption (FLAC), lembaga yang ia dirikan bersama rekan-rekan di Universitas Indonesia (UI), Depok. Awalnya FLAC yang didirikan pada Juli 2011 adalah organisasi yang menampung mahasiswa-mahasiswa dari seluruh Indonesia yang memiliki semangat untuk memerangi korupsi di negeri ini.

 

"Awalnya kita bergerak secara konvensional, melalui diskusi-diskusi, ataupun membuat buku. Namun setelah enam bulan berjalan, FLAC pun mandek karena kesibukan masing-masing anggota," ungkap pemuda kelahiran Bekasi ini.

 

Hingga akhirnya, Jiwo pun mengajak teman-temannya untuk menghidupkan kembali FLAC. Mereka lalu sepakat untuk bergerak di dalam pendidikan antikorupsi, dan memilih anak-anak sebagai targetnya melalui metode mendongeng.

 

Mendatangi sekolah-sekolah di Kota Depok menjadi proyek pertama FLAC. FLAC mendatangi SD Pondok Cina 04 sebagai awal mula gerakan mereka. "Alhamdulillah tanpa hambatan karena waktu itu kita sambil membawa nama UI," ujar Jiwo sambil tersenyum bangga.

 

Selanjutnya, Jiwo mulai mengunjungi beberapa rumah singgah dan rumah bacaan. Hingga pada akhirnya, Jiwo pun berkeliling Indonesia, masuk ke pelosok-pelosok atau pedalaman untuk menanamkan sikap antikorupsi melalui dongeng. Jiwo dan rekan-rekannya sudah mendongengi 5.000 anak di 12 provinsi di seluruh Indonesia.

 

Hambatan justru datang dari sisi finansial. Dana operasional yang tidak mencukupi membuat Jiwo dan rekan-rekannya memilih mengamen untuk menambal biaya operasional. Bukan menyanyi, mereka mengamen dengan cara mendongeng setiap malam Minggu di berbagai warung makan atau kafe yang ada di sepanjang Jalan Margonda, Depok. Dana Rp500–700 ribu hasil yang didapat yang lumayan untuk menambah pemasukan kas FLAC.  

 

"Sekarang sih alhamdulillah sudah ada donatur-donatur, jadinya enggak usah ngamen-ngamen lagi," terang Jiwo.

 

Anak-Anak sebagai Target

 

Menanamkan nilai-nilai antikorupsi memang tidaklah mudah. Nilai-nilai tersebut perlu ditanam sejak dini, yaitu pada usia muda seperti anak-anak. Itulah yang mendasari Jiwo ketika memilih anak-anak sebagai target untuk menularkan pendidikan antikorupsi.

 

"Kita ingin membentuk karakter kepada anak-anak untuk lebih menghargai proses daripada hasil yang diperoleh, seperti mendapatkan nilai ulangan yang bagus tapi melalui hasil mencontek. Ini yang harus dihindari sejak dini," terang Jiwo.

 

Menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jiwo mendapatkan bahan-bahan ajar atau modul terkait pendidikan antikorupsi sejak dini. Ada sembilan nilai antikorupsi yang harus mereka sampaikan, yaitu jujur, peduli, tanggung jawab, mandiri, berani, disiplin, kerja keras, sederhana, dan adil. Nilai-nilai itulah yang dititipkan KPK kepada Jiwo untuk ditularkan kepada anak-anak.

 

"Dari nilai-nilai tersebut, saya akhirnya tahu kalau korupsi bukan hanya mengambil yang bukan haknya, tetapi juga terkait dengan sembilan nilai tersebut," jelas anak pertama dari dua bersaudara ini.

 

Sementara untuk mempelajari teknik-teknik mendongeng, Jiwo dan rekan-rekannya menggandeng Kelompok Dongeng Anak Indonesia (KODAI). "Nah, kalau kurikulum kami kerjasama dengan Gerakan UI Mengajar (GUIM) membuat kurikulum Laskar Anti-Korupsi," terang Jiwo.

 

Tantangan Pasti Ada

 

Ada hal menarik ketika Jiwo mendongeng di daerah pedalaman di Provinsi Banten. Ketika itu Jiwo bertanya kepada anak-anak apa itu korupsi. "Saya tanya apa itu korupsi? Mereka kompak bilang tahu, tapi sambil nunjuk foto Bu Atut (mantan Gubernur Banten yang terkena korupsi)," cerita Jiwo lantas tertawa.

 

Hal tersebut yang menjadi tantangan bagi Jiwo dan kawan-kawan. Tidak semua anak paham dengan istilah korupsi, terutama mereka yang jauh dari kota. Untuk mengatasinya, FLAC pun menyusun metode pengajaran yang berbeda, menyesuaikan dengan tempat di mana anak-anak itu tinggal. Bagi mereka yang sudah paham dan mengenal istilah korupsi, maka dongeng yang disampaikan menyertakan istilah-istilah korupsi. “Tapi bagi yang belum paham, kita sampaikan sembilan nilai-nilai antikorupsi yang tadi itu,” terang Jiwo.

 

Ketika Jiwo dan teman-temannya di FLAC bersemangat mendongeng tentang antikorupsi, tak sedikit orang yang menganggap remeh kegiatan tersebut. Namun, diakui Jiwo, ketika orang lain memandang sebelah mata kegiatan mendongengnya, motivasi yang ada dalam dirinya justru meningkat untuk memberantas korupsi. Bahkan, Jiwo dan FLAC sudah mengunjungi lima negara (Brasil, AS, Belanda, Jepang, dan Thailand) untuk menghadiri Konferensi Antikorupsi Internasional. “Ya alhamdulillah kita bisa ke luar negeri dengan mendongeng, dan itu gratis, gak usah ngeluarin duit,” ujar Jiwo dengan bangga.

 

Jiwo mengakui apa yang dilakukannya ini masih belum ada apa-apanya. Ia berharap dapat menginspirasi siapa pun, bahwa belajar antikorupsi dapat dibuat sangat menyenangkan.

Bagi Jiwo, permasalahan korupsi di negara ini bukan hanya mengenai hukum dan tindak pidana korupsi, melainkan juga melihat permasalahan yang kecil seperti pembentukan karakter antikorupsi yang masih jarang dilakukan. “Pembentukan karakter antikorupsi penting untuk menyelamatkan generasi masa depan yang memiliki semangat antikorupsi,” tegas Jiwo semangat.

Jiwo berharap Indonesia yang baru saja memasuki usia ke-69, negara ini dapat terbebas dari korupsi yang sangat merugikan bangsa ini. “Indonesia harus lebih maju, dan semoga anak-anak yang sudah saya dongengin bisa membawa perubahan bagi bangsa ini pada masa yang akan datang,” tutur Jiwo dengan yakin.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini