nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rancang Konsep Sejajar Bandara Kelas Dunia

Arpan Rachman, Jurnalis · Selasa 19 Agustus 2014 12:51 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 08 19 157 1026595 v5C8kZC9pi.jpg Tommy Soetomo (Foto: Arpan/Okezone)

MAKASSAR - Jajaran PT Angkasa Pura (AP) I (Persero) dipimpin Tommy Soetomo menggelar penghijauan dan pembuatan biopori di kawasan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, baru-baru ini. Gerakan ini merayakan hari lingkungan hidup sedunia sekaligus mencanangkan konsep eco-airport di bandara yang dikelola AP I.

 

Berikut, wawancara Okezone dengan Tommy Soetomo. Presiden Direktur AP I itu baru saja menanam bibit pohon mahoni dan membuat lubang biopori.

 

Bagaimana dengan rencana perluasan Bandara Sultan Hasanuddin?

 

Bandara Hasanuddin ini didesain mungkin delapan tahun lalu itu hanya untuk 7,5 juta penumpang. Sekarang penumpangnya sudah 10 juta. Penumpang 10 juta itu yang naik dan yang turun. Jadi, 10 juta pergerakan penumpang; itu satu.

 

Yang kedua, dari zaman dulu yang namanya Makassar itu kota hebat, kota perdagangan. Orang ke Indonesia timur lewat Makassar. Jadi, sebagai hub bagi Indonesia timur kita ingin memperbesar bandara ini. Target kita mau mendesain sampai menampung 50 juta penumpang. Tapi tahap pertama nanti mungkin untuk 25 juta penumpang dulu. Kita pingin desain yang tahan sampai 30 tahun ke depan.

 

Sekarang, kapasitas 7,5 juta penumpang. Realitasnya sudah 10 juta penumpang. Jadi, pada jam-jam sibuk Anda terpaksa mengantre ke toilet, bagasi, dan sebagainya.

 

Rencana menambah kapasitas 25 juta penumpang itu kapan dimulai?

 

Itu pasti harus selesai studinya dulu. Jadi, studinya diharapkan dalam beberapa bulan ke depan selesai. Saya harus presentasi ke Gubernur Sulawesi Selatan, kemudian akan ada penetapan lokasi, pembebasan tanah. Mudah-mudahan tahun depan sudah kita mulai bangun. Tahap pertama memperluas bangunan terminal dulu.

 

Dari 13 bandara di AP I, Bandara Hasanuddin berada di urutan ke berapa dari segi kualitas?

 

Masih kalah dibanding misalnya Surabaya. Kalau Surabaya itu sudah terbaik se-Asia Tenggara untuk bandara dengan penumpang di bawah 20 juta. Jadi, untuk kelas penumpang yang di bawah 20 juta Bandara Juanda terbaik se-Asia Tenggara.

 

Apa masalahnya di bandara Makassar?

 

Sebab Bandara Hasanuddin desainnya lama. Masih ada masalah. Kalau orang bersepakat: ‘Yuk kita jadikan city’, maka kawasan ini akan hebat.

 

Contoh lain, saya membangun terminal internasional dan domestik di Bandara Ngurah Rai Bali dan membangun jalan tol. Kita orang airport, tapi kita punya saham di jalan tol yang di atas laut di Bali di situ 10 persen kita punya saham. Dengan dua proyek ini total dananya sekira Rp6 triliun. Itu menggerakkan roda ekonomi luar biasa. Di sana Kabupaten Badung itu pertumbuhan ekonominya tertinggi di Indonesia.

 

Kita pengen dampak pembangunan itu kalau orang digusur sedikit, maka mengalah saja deh. Tapi imbasnya terhadap kabupaten itu jadi dahsyat. Orang-orang tenaga kerja bisa terserap, dari mulai yang kasih makan tukang saja, warung misalnya, itu luar biasa. Waduh, laris-manis! Kos-kosan naik jadi Rp500 ribu di Bali. Ya, maksudnya dampak pembangunan akibat perluasan bandara dan jalan tol itu luar biasa.

 

Kita lihat beberapa waktu lalu Menteri Koordinator Perekonomian dan beberapa menteri lain mencanangkan proyek underpass Bandara Hasanuddin itu merupakan cita-cita untuk 50-100 tahun ke depan. Jadi, semua orang harus berkorban.

 

Sekarang areal di radius Bandara Hasanuddin dalam masterplan kota juga ada banyak pemukiman. Bagaimana kalau bandara mau diperluas?

 

Maka, harus ada desain. Jangan membangun tanpa desain, tanpa konsep, itu yang tidak boleh. Sehingga sekarang contohnya Bandara Soekarno-Hatta. Dulu, satu-satunya jalan tol itu utuh hanya untuk bandara. Tiba-tiba sekarang sudah tidak lagi.

 

Harapan Bapak terhadap proyek underpass di Bandara Hasanuddin?

 

Mudah-mudahan itu salah satu debottle-necking. Istilahnya, salah satu faktor yang memperlancar jalan ke bandara. Tapi jalan akses bandaranya kan kecil juga? Dulu, gede, sekarang kecil. Itu mungkin perencanaannya kurang, sehingga kiri-kanannya sudah tidak bisa diperlebar.

 

Di AP I sudah ada empat bandara yang melaksanakan silent-airport. Ke depan, rencananya, berapa dari 13 bandara?

 

Kalau bisa semua, kecuali yang di Biak itu karena penumpangnya masih sedikit, jadi tidak usah silent-airport.

 

Kalau secara nasional, AP I menggandeng lembaga apa untuk melakukan assesment terhadap konsep berstandar eco-airport?

 

Kita misalnya untuk building (bangunan) bekerja sama dengan Green Building Indonesia. Jadi, ada standarnya. Misalnya, emisi. Kita akan memberikan insentif maupun disinsentif kepada airlines. Misalnya, kalau airlines memakai pesawat (Boeing) 737-200 akan didenda. Karena suaranya bising sekali dan boros bahan bakar. Sekarang tidak ada airlines yang pakai itu.

 

Kenapa pembuatan lubang biopori dipandang penting di bandara?

 

Pertama, bandara itu kan salah satu penyumbang panas. Yang di runway itu kan lapangan terbuka tidak boleh ada satu pohon pun. Maka, di sekitarnya harus hijau. Dan harus kuat penyerapan airnya. Sebab banyak kualitas air di bandara itu tidak bagus, misalnya di Balikpapan karena di dekat pantai. Jadi, biopori itu supaya serapannya bagus kan?

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini