Share

Kisah-Kisah Inspiratif Seputar Ramadan

Selasa 19 Agustus 2014 11:27 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 19 285 1026533 TtHpOdB43o.jpg

Judul : Ramadan Undercover

Penulis : Akademi Menulis 5 Menara

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan : Pertama, Juli 2014

Tebal : x + 198 Halaman

ISBN : 978-602-03-0604-9

Ramadan sudah berlalu. Bulan penuh berkah dan ampunan itu adalah bulan di mana orang-orang Muslim diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Semua orang Muslim sedunia melaksanakan ibadah puasa karena merupakan kewajiban yang tak bisa dilanggar, kecuali bagi yang berhalangan seperti orang sakit atau dalam perjalanan.

Ada banyak kisah yang biasanya dialami selama bulan Ramadan. Pengalaman setiap orang pun berbeda. Dari kisah sedih, hingga kisah yang penuh dengan kebahagiaan. Ramadan Undercover ini adalah buku kumpulan cerita pendek bertema Ramadan yang disusun oleh 19 penulis dari “Akademi Menulis 5 Menara” yang diampu oleh A. Fuadi, penulis novel laris Negeri 5 Menara.

Kisah-kisah menggugah dalam buku ini menunjukkan keberagaman serta latar belakang para penulisnya. Dari gaya penuturan, gaya bahasa, hingga masalah penggarapan cerita.

Cerita tentang perjuangan mencari tiket mudik dikisahkan Valent Gigih Saputri dalam cerpen PTT (Pejuang Pencari Tiket). Cerpen ini bercerita tentang perjuangan penulis dan teman-temannya dalam mencari tiket mudik jauh hari sebelum Ramadan tiba. Penulis mengisahkan bahwa setiap tahun, tradisi mudik memang menjadi momentum yang sakral. Semua orang yang hidup di rantau menyiapkan jauh hari kepulangannya dengan berburu tiket. Karena, jika tidak, maka mereka akan terancam tidak bisa pulang tepat waktu.

Hal inilah yang dialami penulis cerpen PTT di atas. Banyak teman-temannya yang akhirnya memilih mudik setelah Salat Ied karena tiket yang jadwal keberangkatannya sebelum lebaran sudah habis terjual. Begitulah perjuangan para perantau. Di samping menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk bisa mudik, mereka harus berlomba mencari tiket kepulangan agar bisa berkumpul dengan keluarga pada saat hari raya Idul Fitri tiba (halaman 1).

Kisah tentang rencana penutupan kompleks prostitusi terbesar se-Asia Tenggara yang sudah lama direncanakan pemerintah kota setempat tak luput dari perhatian penulis buku ini. Lewat tulisan Majelis Kupu-Kupu, Achmad Nurisal menuliskan kisah perjuangan beberapa orang PSK yang sangat mendukung rencana penutupan kompleks tersebut.

Dikisahkan bahwa jauh sebelum eksekusi penutupan kompleks itu dilakukan, para penghuni wisma di kompleks tersebut sudah mengetahuinya. Ada banyak yang khawatir mereka akan kehilangan mata pencaharian jika kompleks itu benar-benar ditutup. Tidak hanya itu, para pedagang di sekitar kompleks juga terancam bangkrut jika lokalisasi itu ditutup.

Dalam cerpen ini, penulis juga memaparkan kisah tentang pengakuan seorang PSK yang menuturkan pengalamannya pada ibu Wali Kota. Sang PSK sebenarnya ingin berhenti dari pekerjaan yang diakuinya penuh dosa itu. Namun apa daya, keadaan lah yang membuat dia bertahan dengan pekerjaannya. Sehingga, di usianya yang sudah tua, tidak mudah baginya untuk mendapatkan pelanggan. Persaingan sudah sangat ketat, banyak PSK cantik yang jauh lebih “laris” daripada dirinya yang sudah berumur. Sehingga, ia mau menerima tamu siapa saja. Dari yang sudah berumur, hingga yang masih bau kencur. Dan, mirisnya, sang PSK beberapa kali pernah menerima pelanggan yang masih duduk di bangku sekolah.

Tampaknya pengakuan seorang PSK itulah yang membuat Ibu Kota dan pemerintah kota ingin segera menutup lokalisasi. Semua dilakukan demi menyelamatkan generasi muda dari perilaku menyimpang seperti “berjajan” di tempat pelacuran seperti di kompleks tersebut (halaman 186).

Kritik tentang perilaku kaum Muslim yang cenderung hedonis dituturkan Imam Ibadullah dalam cerpen Muslim Hedon. Dalam tulisan ini penulis menyampaikan kritiknya secara pedas tentang perilaku sebagian orang yang cenderung berlebihan. Salah satu contoh adalah ketika akan menyambut lebaran. Mereka dengan penuh “kalapnya” membelanjakan uangnya hanya untuk menyambut lebaran. Memang, menyambut hari kemenangan dengan berbagai persiapan itu penting. Tapi, momentum itu justru dijadikan ajang pamer pakaian baru, sandal baru, sepatu baru, dan segala hal yang perlu diperbarui.

Padahal, jika kita sadar, banyak di luar sana yang jauh lebih membutuhkan. Jangankan untuk membeli baju-baju baru, untuk makan saja mereka kesusahan. Perilaku aneh kaum urban ketika pulang kampung pun “disentil” penulis dalam cerita ini. Bahwa dia pernah bertemu dengan beberapa orang yang akan mudik. Demi menjaga gengsi, ketika hendak mudik mereka rela merogoh uang banyak demi merental mobil mewah untuk dibawa ke kampung halaman.

Jika diamati masalah ini sudah berlebihan. Bukankah Idul Fitri itu adalah momentum yang sakral, tetapi kenapa justru dijadikan ajang pamer kemewahan yang sifatnya hanya sementara? Alangkah baiknya jika momentum lebaran bisa digunakan sebaik mungkin agar makna dan esensi lebaran itu lebih terasa (halaman 162).

Demikianlah. Ada banyak kisah yang masih bisa kita petik sebagai pelajaran berharga dalam buku 198 halaman ini. Dari buku ini kita bisa banyak belajar tentang bagaimana memaknai kebersamaan, kesabaran, ketekunan, hingga bagaimana memahami makna kesederhanaan. Kehadiran buku ini sangat bermanfaat bagi pembaca, terutama yang ingin bernostalgia dengan Ramadan dan Idul Fitri yang baru saja lewat. Selamat membaca. (*)

Peresensi: Untung Wahyudi

Lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini