nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Petualang Rasa Asal Aceh Terdampar di Makassar

Arpan Rachman, Jurnalis · Jum'at 22 Agustus 2014 15:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2014 08 22 157 1028456 GkTFANTDfc.jpg Chef Abi (Foto: Arpan/Okezone)

Dari mengolah keahlian di dapur, pria berdarah Aceh ini melanglang ke Medan dan Jakarta. Petualangan rasa itu akhirnya mendamparkan dirinya dibawa angin mamiri hingga kini hinggap di Makassar.

Dia tipe kreator peracik handal. Pakar kuliner spesialis sajian masakan tradisional khas Indonesia. Panggungnya di dapur Hotel Aerotel Smile, Makassar.  

Zainal Abidin namanya di KTP. Sosok yang jangkung itu – barangkali – tak kalah sedapnya di mata kaum hawa bila dibandingkan dengan gunungan Nasi Tumpeng Mini, Poffertjes kue asli Belanda, dan Sekoteng asal tanah Sunda yang dia hidangkan.

 

Suatu siang yang hot di tepi Pantai Losari. Kami pun berbincang-bincang lepas tanpa juntrungan. Sembari menikmati enaknya tempe kering, ayam kecap, dan telur balado.

 

Poffertjes terhidang di hadapan kami. Salah satu kue khas Belanda yang populer sebagai cemilan. “Dari dulu saya bikin orang suka sekali,” kata Chef Abi.

 

Bentuk kue itu bulat seukuran jempol. Rasanya gurih dan manis. Chef Abi menguraikan, topping-nya gula bubuk, keju halus, dan saus cokelat. Bahannya dari tepung terigu, telur, susu segar, dan sedikit garam yang dimasak khusus dalam cetakan.

 

Betapa gagah Chef Abi mengenakan pakaian kebesarannya. Lengkap beserta tutup kepala berupa topi tinggi ciri khas koki. Topinya mirip gunungan tumpeng mini. Hidangan utama itu sudah rampung dipresentasikannya di atas meja.

 

Menu tumpeng plus lauk-pauknya komplet terdiri ayam kecap, telur balado, mie goreng, kering tempe, dan sambal. “Penyajiannya paling lama 15 menit kalau ada yang pesan,” tutur Chef Abi.

 

Kisah balada kuliner ini berlanjut ke sekoteng, minuman hangat khas Jawa Barat. Isinya ternyata agak mirip sarabba ala Makassar. Airnya berwarna putih dari campuran susu dan air perasan jahe. Berisi kacang tanah cincang, rebusan kacang hijau lembek, roti tawar iris kotak, kolang-kaling, dan pacar China. “Sekoteng ada banyak versi, tapi kita kali ini pilih sajian yang standar,” ucap Chef Abi.

 

Paket poffertjes, tumpeng, dan sekoteng itu menjadi sajian lengkap karya Chef Abi. Tersedia selama Agustus, bulan kemerdekaan. Bisa dipesan di Hotel Aerotel Smile, Makassar. Sekalian memesan, boleh juga kalau mau mengirim salam khusus untuk Chef Abi yang amat sibuk di dapur.

 

Menurut Chef Abi, masakan Indonesia paling gampang dibuat, yang penting kita punya tiga bumbu inti. Bumbu merah, puting, kuning. Merah untuk balado dan bumbu Bali. Kuning bisa soto ayam, kari atau gulai. Kalau yang putih buat soto Betawi dan aneka sup.

 

Chef Abi petualang sejati. “Pernah saya tugas di Medan, saya mau bikin kari, saya belanja di salah satu pasar Kampung Keling namanya, sebab memang di situ orang Keling semua dari India.”

 

“Saya bilang, ‘Mamak, bisa beli bumbu kari?’, dia balik tanya: ‘Mau kari Melayu atau kari India?’. Kalau kari India terlalu strong karinya. Pasalnya, tambahannya seperti kapulaga, jintan hitam, dan sebagainya. Kari untuk daging ayam atau kambing berbeda komposisi bahannya. Seperti makanan kalau di sini dikenal sebagai Roti Mariyam. Di Jakarta dulu saya jual,” ungkapnya.

 

Masakan berkari – tukas Chef Abi – lebih nyaman dipadukan teh tarik yang manual bukan instan. Inti teh tarik itu harus berbusa sebab kalau tidak, maka gagal disebut teh tarik. Tehnya harus khusus teh hitam. Sekarang membuatnya sudah cara modern: untuk menghasilkan busa bisa memakai shaker seperti bikin cappucino. Kocok, dituang cairannya, dibuka, busanya baru ditaruh. Kalau dibuat manual, busanya busa asli.

 

Ia berkecimpung di hutan belantara aneka masakan secara kebetulan. “Di belakang rumah ada katering, jadi dari kelas 1 semester 2 SMK saya sudah kerja di katering tersebut. Itu dimulai tahun 1992 awalnya saya terjun ke dunia kuliner,” ungkapnya.

 

Lulus SMK jurusan tataboga, Chef Abi memutuskan jadi profesional. Lalu, wajahnya berpaling, matanya menerawang jauh ke laut di ujung ufuk Pantai Losari. Seakan-akan memeriksa arah angin akan mendamparkan irisan pisaunya entah ke kota mana lagi.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini