Share

Refleksi dalam Menghadapi Era Modern

Selasa 26 Agustus 2014 15:39 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 26 285 1030028 9pZaqcu58h.jpg

Judul : Sentilan Kosmopolitan

Penulis : Mujiburrahman

Penerbit : KOMPAS

Cetakan : I, September 2013

Tebal : xii + 228 hlm.; 13 cm x 19 cm

ISBN : 978-979-709-751-6

Kesadaran merupakan salah satu kunci untuk melakukan introspeksi diri dalam kehidupan sehari-hari. Dengan introspeksi diri itulah akan lahir tata nilai perilaku, pola pikir, dan hidup bersosial dalam meningkatkan mutu dan taraf hidup agar lebih maju dan lebih baik dalam tiap hitungan waktu yang terus melaju ini. Begitulah kiranya bagian buku ini hadir untuk menyadarkan kita agar terus introspeksi diri dan berbenah agar lebih maju dan lebih baik di tengah hiruk-pikuk dunia dengan perkembangannya yang cukup pesat.

Buku Sentilan Kosmpolitan karya Mujiburrahman ini adalah kumpulan kolom Jendela yang kedua, yang semula secara rutin terbit tiap Senin di halaman depan harian umum Banjarmasin Post. Ini merupakan kumpulan esainya yang pernah dimuat di surat kabar Banjarmasin Post antara Agustus 2010 dan akhir 2012.

Ada banyak hal yang disinggung (disentil) melalui kumpulan esai ini. Hidup yang serba warna-warni ini memang perlu kiranya untuk terus direnungi. Karena kadang-kadang kita tak menyadari telah tergoda, tertipu, dan bahkan terperosok pada jurang curam yang menjadikan hidup ini sia-sia belaka. Satu hal yang disingggung dalam buku ini yaitu tentang kekuasaan (politik) dan idealisme mahasiswa.

Misalkan ketika orang (mahasiswa) ikut dalam permainan kekuasaan, idealisme mudah punah. Yang akan dibela bukan lagi yang benar, melainkan yang bayar. Dalam pemilihan pengurus, idealisme hilang disapu oleh politik uang yang berasal dari para bandar petualang politik. Akibatnya, pengurus organisasi hanya akan menjadi kaki tangan kekuasaan para petuangan suatu politik (hlm. 5).

Berbeda pada masa Orde Baru yang mana kegiatan mahasiswa dibatasi, sehingga kegiatan mahasiswa lebih banyak diarahkan pada kajian keilmuan ketimbang politik. Sebaliknya, kini aktivitas mahasiswa lebih leluasa mengepakkan sayapnya untuk memasuki dunia politik praktis. Akibatnya, orientasi kekuasaan yang makin menonjol mulai dari kalangan mahasiswa sebagai kader bangsa hingga pada para pemerintahan sebagai wakil rakyat.

Begitulah kiranya, kesadaran untuk membangkitakan idelisme harus kita pacu. Agar uang tidak lagi menjadi kekuatan untuk membela yang salah dan menodong yang benar. Yang mana hal ini guna mengubur keburaman kekuasaan yang menjadi target kita dalam mengambil keuntungan sepihak dan merugikan orang lain, dalam hal ini kehidupan bangsa secara umum. Ketika dunia sudah berganti dengan bayar membayar untuk membela yang kata mereka anggap keadilan, maka kehancuran umat ini akan terus mengintai dalam tiap keputusan yang berbayar itu.

Selain itu juga disentil mengenai efek buruk atas kemajuan teknologi saat ini. Tidak sedikit orang yang kecanduan dengan telepon dan laptop atau komputer. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, kerjanya hanya main SMS (short message service), Facebook atau chatting. Orang-orang yang secara fisik hadir di sekitarnya, malah tidak dipedulikan. Benda elektronik itu berubah menjadi berhala pujaannya, yang selalu menemaninya di mana pun mereka berada (hlm. 13).

Benar sekali, kita sebenarnya tidak menyadari, dengan hidup penuh dengan kemajuan teknologi yang berupa ponsel dan laptop menjauhkan diri kita dari nilai-nilai kemanusiaan. Orang yang ada di sekitar kita seakan tiada saat kita nikmat dengan ponsel atau komputer. Komputer atau ponsel menjadikan kita sebagai manusia yang kurang sosial. Teknologi akan mengkonsep diri kita menjadi manusia individual ala barat tanpa mempedulikan orang lain dan orang yang ada di sekitar kita.

Padahal teknologi diciptakan oleh manusia bukan untuk menjadikan manusia sebagai makhluk individu dan tak sosialis. Melainkan untuk memudah dalam membantu pekerjaan manusia. Namun, akibat kecanduan dan kebergantungan teknologi, segalanya berjalan terbalik. Teknologi membawa dampak buruk yang kurang disadari oleh penggunanya. Maka dari itu, buku ini akan mengajak kita untuk menyadari berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar kita, kemudian melakukan introspeksi diri untuk menjadikan hidup ini lebih maju dan lebih baik dari sebelumnya.

Kumpulan esai Sentilan Kosmopolitan karya Mujiburrahman ini berisi sekira enam (6) tema esai yang perlu kiranya menjadi refleksi bagi diri kita. Di antara tema yang diangkat dan disentil yaitu tentang pendidikan dan masa depan, nilai-nilai agama dan budaya, yang lokal dan global di era digital, korupsi, pemimpin, dan rakyat, membaca tanda, menggali makna, dan antara kesenjangan dan kebersamaan. Kisah-kisah dan ide di dalamnya menarik direnungkan dan dipraktikkan sebagai refleksi dalam menghadapi era modern saat ini, sajian bahasanya enak dibaca dan renyah dinikmati serta mudah untuk dipahami.

Peresensi: Junaidi Khab

Pecinta Baca Buku dan Tercatat Sebagai Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini