Share

Derita Balita Pengungsi Korban Tsunami Mentawai

Rus Akbar, Okezone · Rabu 27 Agustus 2014 10:48 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 27 345 1030380 MswNHpp2vb.jpg Risda berusaha menidurkan Beni (Foto: Rus Akbar/Okezone)

PAGAI SELATAN - Sore hari pada 11 Agustus 2014 di sebuah rumah di KM 46 Dusun Kinumbuk, Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Risda (20) mencoba menidurkan anaknya, Beni Taileleu (1), dalam kain sarung yang digantung.

 

Terdengar suara tangisan ringkih dari sang anak sambil sesekali bergerak-gerak. Tiba-tiba kepulan asap putih dari arah dapur masuk ke ruang tengah. Risda pun meninggalkan anaknya sejenak untuk melihat api di dapurnya. Dia lupa sedang memasak air.

“Saya sedang memasak air. Karena anakku menangis langsung saya buaikan, sementara suami pergi ke ladang,” tuturnya.

Sejak kelahiran Beni, dia harus bekerja ekstra antara melaksanakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dan merawat sang anak yang kini menderita kurang gizi.

Risda dan keluarganya tinggal di rumah hunian sementara yang terbuat dari papan. Rumah yang dibangun oleh Palang Merah Indonesia (PMI) pada 2011 tersebut merupakan bantuan bagi para korban tsunami 2010. Lokasinya jauh dari rumahnya dulu (kampung lama), sebelum tsunami menerjang Mentawai. Karena itu mereka berstatus pengungsi.

Bangunannya semi permanen, hanya memiliki satu ruang tengah dan satu kamar tidur. Sementara bagian dapur dibuat sendiri oleh keluarga Risda.

Dia pun menceritakan kondisinya pasca-tsunami dan kelahiran sang anak. Meski anaknya sudah berusia hampir dua tahun, namun berat badannya masih tujuh kilogram. “Kata bidan di sini anak saya mengalami gizi buruk,” ucapnya.

Beni memang tampak seperti anak yang sakit. Sehari-hari anak yang lahir pada 12 Februari 2013 itu hanya menghabiskan waktunya di pangkuan atau pelukan sang ibu. Dia belum bisa berjalan.

Di pagi hingga menjelang sore itulah Risda harus mengurus Beni seorang diri, sementara suaminya, Berman Taileleu (24), bekerja di ladang sebagai buruh tani. Sesekali suaminya mencari ikan di laut.

“Untuk memenuhi kebutuhan hidup saja,” ungkapnya.

Menurut Risda, pertumbuhan anaknya sangat lambat. “Berat badannya masih di bawah garis merah. Di usia ini seharusnya dia sudah bisa berjalan, tapi dia hanya bisa merayap lalu berdiri dengan bantuan. Itu pun tidak lama,” ucapnya.

Soal asupan, Risda mengaku sudah berusaha memberikan makanan terbaik untuk anaknya. Beni pun termasuk anak yang doyan makan. Sehari dia bisa makan tiga sampai tiga sampai empat kali. Menunya bubur yang dikasih gula, kuah sayur, keladi, terkadang bubur nasi yang dicampur kacang hijau.

“Kalau telur kami di sini sangat susah dijangkau. Bantuan kesehatan juga sampai saat ini belum ada. Kalau posyandu, setiap bulan kami ikuti. Bahkan ikut pelatihan dari puskemas. tapi begitulah kondisi ekonomi kami seperti ini,” ucapnya.

Saat ini Beni sudah tidak menerima ASI lagi, semua kebutuhan makan diasup dari luar.

Beni bukan satu-satunya anak dari korban tsunami yang mengalami gizi buruk. Masih di Kinumbuk, bocah bernama Rezqia Holivina Sabelau (3) juga mengalami hal yang sama. Ukuran tubuh anak pasangan Holly Dimen Sion Sabelau (29) dan Merri Mohza Slafina (24) itu tidak normal sebagaimana bocah seusianya.

Bahkan, berat badan Rezqia lebih ringan dibanding adiknya, Wina Astria, yang kini berusia satu tahun.

“Kalau berat badan paling berat sembilan kilogram, tapi kalau sudah sakit berat badannya turun dan masuk garis kuning,” tutur Merri.

Suami Merri hanya penyuling minyak nilam. Sekali suling bisa mendapatkan satu liter dan dijual dengan harga sekitar Rp250 ribu sampai Rp300 ribu. Tentunya tidak setiap hari mereka bisa mendapat minyak nilam.

Risda dan Merri punya keluhan yang sama, yakni tidak adanya suplai makanan bergizi untuk anak-anak.

“Kalau ke sana (kampung lama) kami bisa jalan selama tiga jam. Jadi tidak bisa pulang,” ucapnya.

Di Kinumbuk memang ada bidan dan lembaga SurfAid, namun dalam hal makanan tambahan untuk anak-anak sangat minim. “Kami hanya dikasih penyuluhan tentang kesehatan saja,” ujarnya.

Dasma Berisigep (24), kader Posyandu di Kinumbuk yang, menyebutkan, ada tiga balita yang masuk kategori gizi buruk. Rezqia dan Beni termasuk di antaranya. Selain itu ada pula Marvel, Iren dan Dani.

Memang tidak ada makanan tambahan dari pemerintah. Solusi untuk asupan gizi adalah dengan iuran. “Bagi ibu yang memiliki bayi dan balita membayar Rp2.000. Kalau anak balitanya dua membayar Rp4.000. Itu salah satu untuk membeli makanan tambahan,” ungkap Dasma.

Menurut dia, salah satu penyebab gizi buruk adalah minimnya air bersih. Warga di sini hanya mengandalkan air dari hujan karena sumber air bersih sangat jauh. Saat ini andalan warga dalam hal air bersih adalah bantuan dari SurfAid, namun debitnya masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga.

“Kemudian WC tidak ada dan buang kotoran sembarangan. Ditambah pekarangan bersemak dan ini membuat rawan penyakit,” paparnya.

Selain itu, ikan laut juga sangat dibutuhkan para balita sebab banyak mengandung protein. “Semenjak pindah dari kampung lama memang kebutuhan sangat sulit dipenuhi,” katanya.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini