nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Turun Gunung dari Mont Blanc

Arpan Rachman, Jurnalis · Selasa 09 September 2014 11:48 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2014 09 09 157 1036299 HIYKSP8HbD.jpg Mahasiswa Unhas di Puncak Mont Blanc (Foto Dok Korpala Unhas)

"Burung Bangau terbang ke kandang setahun sekali menemui cintanya lagi," kata sebuah lagu lama. Tak ada manusia yang mau jadi burung. Mungkin cuma Icarus seorang. Kemauan itu juga adalah kegilaannya!

 

Sayap Icarus pun terbakar matahari! Saking tinggi selangitnya dia terbang. Tapi makhluk mitologi asal Yunani itu konon mengilhami Leonardo Da Vinci mengimajinasikan pesawat terbang.

 

Penerus Icarus tak berhenti hanya sampai Da Vinci saja. Selanjutnya visi mereka diwujudkan Wright bersaudara dari Amerika pada 1905 yang merakit kapal udara nan ajaib menakjubkan. Sejak itu manusia akhirnya bisa terbang. Meskipun masih tetap tak ada orang yang mau menjelma sebagai burung, sampai sekarang.

 

Musyarifuddin, Andi Mulatauwe, dan Fahri Adha Saite! Seperti Icarus atau burung bangau, mereka telah "terbang" ke tempat yang tinggi. Puncak tertinggi Eropa di rantai Pegunungan Alpen: Mont Blanc. Ukurannya pada altimeter berkisar 4.810 mdpl (meter dari permukaan laut). Di atas sana, jejak ketiga Korpala Unhas (Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin) itu terpatri.

 

"Durasi pendakiannya hanya dua hari," tukas Fahri, di suatu malam cerah yang penuh bintang, kepada Okezone. Dia menyambung, kalau di Eropa hampir semua gunung yang terbuka buat didaki sudah amat nyaman suasananya. Berbeda jauh dibandingkan Indonesia seperti Cartenz Pyramid di Pegunungan Jayawijaya umpamanya.

 

Fahri mengulang ingatan. Dari titik awal, mereka menempuh lima jam perjalanan ke basecamp untuk bermalam. Dini esok harinya, sekira pukul empat pagi, penyerangan ke puncak segera dimulai. Demi cara aman mendaki gunung es, bertiga bergerak bersama-beriring berjalan bersambung tali di pinggang satu sama lain.

 

Seingatnya, kemiringan antara lereng gunung dan punggungan berkisar 45-50 derajat. Pada elevasi paling curam yang kasat mata, mereka siasati dengan teknik lain. "Mendaki di salju itu seminimal mungkin kita hindari elevasi yang curam. Kalau elevasinya sekira 50 derajat kalau kita ikuti punggungannya akan terasa sangat berat. Jadi kita model zigzag, ambil langkah pelan-pelan, tidak langsung di pusat elevasinya," Fahri memberi kiat.

 

Berbeban peralatan yang berat. Apalagi sepatu dan crampon tertancap di salju. "Jika sudah ada jalur, itu yang diikuti. Misalnya membuat jalur baru (melangkah di tempat yang belum berjejak) saat menginjak es kita membutuhkan banyak tenaga. Setelah menapak harus menekan kembali es. Belum lagi berat bebannya bisa jadi persoalan tenaga," tutur mahasiswa Fakultas Pertanian Unhas ini.

 

Dikatakannya, jalur yang sudah dilalui dapat diyakini kalau itu bukan longsoran. "Di salju kan biasanya jurang tapi tertutupi salju, orang kira itu tanah. Pas diinjak ternyata bekas longsoran," ujar anggota Korpala Unhas nomor 124 11 474. Padahal di antara ketiga tim ekspedisi, hanya Mulatauwe yang berpengalaman pernah mendaki gunung bersalju di Papua. Tak pelak, mahasiswa Fakultas Peternakan Unhas itupun ditunjuk menjadi ketua tim.

 

Enam jam berselang, bendera Korpala Unhas telah berkibar memuncaki Mont Blanc. Tepatnya sekira pukul sepuluh pagi, dari atap Benua Biru itu mereka merayakan suka cita berhasil menjejaki jalur Dome du Gouter. Tanpa terlena, Fahri dkk lekas turun. Dilarang lama-lama di puncak sebab sewaktu-waktu rentan terjadi glestser. Mereka langsung kembali ke bawah.

 

Ada rahasia kecil bagaimana tiga mahasiswa asal negeri tropis itu secara perkasa menaklukkan Mont Blanc: gunung yang sering disebut sebagai "Gadis Kulit Putih". Mereka mengaklimatisasikan diri di Spanyol dan Prancis. Caranya dengan canyoning dan menyusuri goa. Satu dari tiga goa yang mereka jelajahi berkedalaman 1.400 meter, la Pierre Saint Martin, salah satu goa terdalam dunia.

 

Topografinya sangat kompleks, dari mencuat vertikal hingga landai horizontal. Sembari mengasah keampuhan pengetahuan speleologi mereka. Terungkap di dalam goa itu terdapat celah ekstrem yang cuma bisa dirambah lewat teknik merayap di mana air mengambang sampai ke lutut. Fahri cs bahkan sempat melintas sejauh 70 meter di relung-relungnya dengan berenang.

 

"Di situ titik paling dingin. Kami memakai baju sampai empat lapis. Baju hangat lengan panjang, lalu baju khusus susur goa berbahan polar, dilapisi wet-suit setebal lima milimeter. Perbandingannya dengan wet suit yang biasa dipakai menyelam di Indonesia kan ketebalannya hanya sampai 3,5 mili. Tapi walaupun sudah berlapis-lapis, tapi tetap dingin!" ucap Fahri.

 

Diuraikannya, penelusuran keluar-masuk goa membutuhkan waktu selama 16 jam. Diselingi istirahat untuk ambil napas seraya mengenyam makanan ringan. Pendampingnya hanya seorang Prancis, penyusur goa lokal dengan jam terbang kelas dunia.

 

Di daerah pedalaman Sulawesi sendiri memang banyak goa. Fahri, Arie, dan Tauwe sudah rutin berlatih menyusur goa di Enrekang dan Toraja. Ekspedisi kerja sama Unhas dengan federasi ngarai, goa, dan gunung Prancis baru-baru ini menghasilkan cerita heroik tadi. Mereka pencari ilmu sejati dengan sayap-sayap yang terbakar kegairahan prestasi.

 

Icarus mungkin kini, di alam mitosnya, sedang tersenyum – abadi. Leonardo Da Vinci, kakak-beradik Wilbur dan Orville Wright barangkali pernah melihat burung bangau pulang kandang. Sejarah telah menyaksikan Korpala Unhas turun gunung dan kembali tekun belajar di Kampus Merah di Tamalanrea – yang banyak pohonnya, begitu sejuk, penuh udara segar – bagi sehatnya jasmani dan jiwa muda mahasiswa yang cinta damai dan cinta alam.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini