Minat Baca Indonesia Satu Banding Seribu

Rachmad Faisal Harahap, Okezone · Rabu 10 September 2014 11:15 WIB
https: img.okezone.com content 2014 09 09 373 1036695 OW1bBr1t5I.jpg Peringati Hari Literasi Internasional, Perpustakaan ITB Adakan Diskusi Literasi (Foto: dok. ITB)

JAKARTA - Untuk dapat menghasilkan pribadi yang baik, maka orang tersebut harus banyak membaca. Membaca bukan hanya membuat kaya akan pengetahuan saja, namun mampu membuat karakter menjadi jauh lebih dewasa.

Dari sebuah bacaan dapat mengenal berbagai macam nilai positif, sehingga dapat membentuk kesadaran emosional dan moral sedari dini. Bacaan pun dapat membentuk karakter diri.

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional yang jatuh pada 8 September, American Corner Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui forum diskusi American Spaces mengadakan diskusi dengan topik terkait literasi. Diskusi yang terbuka untuk umum ini banyak membahas tentang pentingnya literasi bagi setiap individu, komunitas, dan masyarakat dengan pemandu diskusi Janet Long, English Language Fellow di ITB.

Literasi atau melek huruf bukan hanya sekedar kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis sesuatu, melainkan juga harus diikuti dengan kemampuan untuk memahami tulisan tersebut.

Kemampuan literasi merupakan pintu gerbang untuk bisa mencapai keunggulan pendidikan yang merupakan kunci sukses dalam kehidupan masyarakat yang demokratis. Berdasarkan data UNESCO, tingkat buta huruf di Indonesia masih ada di kisaran angka 12 juta penduduk.

Data juga menunjukkan, semakin muda kelompok usia penduduk di Indonesia, tingkat literasinya juga semakin tinggi. Artinya, semakin ke arah sini tingkat literasi Indonesia semakin membaik.

"Ekonomi di Indonesia terus berkembang, begitu pula dengan masyarakatnya. Itulah mengapa standar pendidikan juga harus terus berkembang seiring dengan perubahan yang terjadi," ujar Janet, seperti dilansir laman ITB, Selasa (9/9/2014).

Meskipun begitu, tingkat literasi yang tinggi tidak berarti banyak karena rendahnya minat baca orang Indonesia mencapai rasio satu banding seribu. Ini menunjukkan Indonesia sebenarnya mampu membaca, tapi kurang minat untuk menyentuh buku.

Hasilnya, berdasarkan laporan studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2012 peringkat pendidikan Indonesia, terutama di bidang matematika, sains, dan membaca berada pada urutan ke-64 dari 65 negara.

"Ini menunjukkan bahwa masalah literasi di Indonesia sudah sangat serius. Padahal, membaca adalah satu-satunya cara untuk bisa menjadi lebih baik dalam hal apapun," ucap salah satu peserta diskusi sekaligus alumnus Teknik Sipil ITB angkatan 1970 Moko Darjatmoko itu.

Ini tentu harus menjadi perhatian bersama untuk meningkatkan kemampuan literasi dan minat baca demi kemajuan pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, sebagai peneliti yang kini sedang melakukan riset dalam bidang pendidikan, dalam diskusi ini Moko memperkenalkan komunitas literasi yang diinisiasinya di ITB sejak sekira setahun yang lalu.

Dengan nama Komunitas Literasi Ganesha, komunitas ini bertujuan untuk membantu siapa pun agar mampu dan mau membaca dengan benar. Biasanya, komunitas ini menggelar pertemuan rutinnya setiap Jumat dengan lokasi yang berselang-seling antara di Gedung Perpustakaan Pusat ITB dan Gedung Comlabs ITB.

"Kuncinya memang hanya satu, yaitu membaca. Jika kamu tidak membaca, maka kamu tidak akan tahu ke mana kamu pergi dan kamu akan merugi," pesannya. (fsl)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini