nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Penyebab Nilai Matematika Indonesia Rendah

Margaret Puspitarini, Jurnalis · Selasa 09 September 2014 21:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 09 09 373 1036506 Q1F8clOmIy.jpg
JAKARTA - Bukan rahasia jika prestasi akademik siswa Indonesia untuk mata pelajaran Matematika masih terbilang rendah. Khususnya untuk tingkat SD dan SMP.

Salah satu bukti rendahnya prestasi matematika siswa Indonesia terlihat dari hasil Ujian Nasional (UN) beberapa tahun terakhir. Pada 2010, sebanyak 35.567 atau 6,66 persen siswa SMP dan MTs di Jawa Timur dan 1.600 atau 20 persen siswa di Balikpapan tidak lulus dalam UN. Penyebab ketidaklulusan itu terletak pada nilai Bahasa Indonesia dan Matematika yang kurang dari empat.

Kondisi tersebut diperkuat hasil survei the National Center for Education Statistic (NCES) pada 2003 tentang prestasi pelajar Indonesia. Data tersebut mengungkap, prestasi pelajar Indonesia berada di peringkat ke-39 dari 41 negara.

Keadaan tersebut memicu Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) Sudjiono untuk melakukan penelitian guna memberikan solusi. Dalam penelitian untuk meraih gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu dia menemukan salah satu faktor internal non kognitif yang berpengaruh besar terhadap prestasi belajar Matematika adalah efikasi diri atau keyakinan untuk mencapai keinginan yang dikehendaki.

"Peningkatan efikasi diri Matematika dalam proses pembelajaran matematika di SMP sangat penting. Di samping sebagai elemen kunci sukses untuk belajar Matematika, efikasi diri merupakan variabel terpenting dalam self-regulated learning dan mempengaruhi fungsi kognisi, afeksi, dan konasi siswa," kata Sudjiono, seperti dinukil dari laman UGM, Selasa (9/9/2014).

Selain faktor internal, Sudjiono mengatakan, adapula faktor eksternal yang mempengaruhi rendahnya nilai Matematika siswa Indonesia. Faktor tersebut terletak pada guru di Asia yang selama ini dinilai kurang efektif dalam memilih strategi pembelajaran Matematika.

Guru belum menekankan pada pengembangan daya nalar (reasoning), logika, dan proses berpikir kreatif. Bahkan hampir 80 persen pembelajaran Matematika dan sains di Indonesia berlangsung dengan metode ceramah.

"Jika demikian, berarti sekolah hanya melatih otak kiri. Mereka cenderung mengabaikan kinerja otak kanan yang berfungsi sebagai pusat kreativitas yang disinyalir memiliki sifat memori jangka panjang yang handal," ungkapnya.

(mrg.-)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini