Melawan Lupa dengan Film & Museum Omah Munir

Hari Istiawan, Okezone · Selasa 00 0000 00:00 WIB
https: img.okezone.com content 2014 09 10 345 1037044 iWCyxCxX4p.jpg Museum Omah Munir (Foto: Hari Istiawan/Okezone)

MALANG - "Dua jam terakhir di udara" kalimat ini menarik perhatian kala memasuki salah satu ruangan di Museum HAM Omah Munir di Jalan Bukit Berbunga, Kota Batu, Jawa Timur. Penggalan kalimat-kalimat di bawahnya menjelaskan detik-detik kematian Munir di pesawat yang terbang menuju Amsterdam, Belanda.

 

Cukup jelas bagaimana penderitaan Munir pada rangkaian cerita yang terpampang di dinding itu. Bolak-balik ke toilet, muntah berkali-kali, hingga meninggal dunia di langit Rumania. Belakangan terungkap bahwa Munir telah diracun arsenik.

Cerita perjuangan Munir membela HAM dan koleksi pribadi almarhum juga terpampang di sudut-sudut ruangan museum yang berdiri setahun lalu itu. Penjelasan kasus-kasus pelanggaran HAM yang hingga kini masih menjadi misteri juga tersaji di sana. Tak lupa beberapa buku HAM.

Salah satu guru Munir di Universitas Brawijaya, Mukti Fajar, menyampaikan, adanya Museum Omah Munir tak kalah penting bagi generasi baru dalam melawan lupa.

“Omah Munir ini bisa menjadi tempat menciptakan generasi muda yang penuh kesadaran akan nilai-nilai HAM,” tutur Mukti.

Dia menambahkan, mengenang kematian memang menyedihkan. Apalagi, kematian tersebut hingga kini masih menjadi misteri.

“Pendidikan hak asasi manusia kepada masyarakat tidak cukup dengan kata-kata, tapi juga dengan aksi. Serta, mencegah agar kejadian yang menimpa Munir tidak terulang lagi,” ungkapnya.

Pengembangan Omah Munir, lanjut dia, harus terus dilakukan. Koleksi-koleksi di dalamnya harus ditambah. Diskusi-diskusi juga bisa digelar di tempat tersebut.

Sementara itu, istri almarhum, Suciwati, berharap museum tersebut bisa menyadarkan generasi muda tentang bahwa bangsa ini pernah mengalami sejarah kelam dalam HAM.

Rencana Memfilmkan Munir

Ada yang menarik dalam peringatan 10 tahun meninggalnya Munir. Beberapa sineas, seperti Mira Lesmana, Riri Reza, Nia Dinata, dan Angga Dwimas Sasongko, hadir. Mereka menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk "Film dan Perjuangan Melawan Lupa".

Mira Lesmana menyebutkan, tokoh Munir merupakan sosok atau simbol dalam berbagai persoalan HAM di Indonesia. Karena itu, membawa sosok Munir ke layar lebar sudah dibicarakan dengan sineas lainnya. Namun butuh proses dan tahapan-tahapan yang lama. “Film juga bisa menjadi medium baru dalam mengangkat isu-isu soal HAM,” ungkap Mira.

Riri Reza menambahkan, film Munir juga bisa menjadi medium baru bagi perjuangan HAM di Indonesia.

Sementara Suciwati berpendapat film merupakan cara baru dalam menyuarakan HAM di Indonesia, tidak lagi dengan cara berkoar-koar di jalanan.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini