nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput

Kamis 11 September 2014 11:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 09 11 542 1037432 0XOUhmzBI0.jpg Foto (dok okezone)

Senin, 14 Juni 2004 adalah salah satu hari yang tak terlupakan seumur hidup saya. Sebab siang itu, sekitar pukul 13.00 WIB usai pulang sekolah, saya menyaksikan peristiwa yang mendebarkan. Yaitu ketika menyaksikan saudara sepupu sedang meregang nyawa akibat over dosis akibat mengkonsumsi salah satu jenis narkoba yaitu Heroin atau biasanya disebut putaw.

Serbuk putih yang biasanya dipakai dalam kedokteran untuk memberikan efek baal (kebal) saat disuntik atau menjelang operasi, karena disalah gunakan menjadi kendaraan menuju maut. Sedih, pilu, kecewa, dan hampir tak percaya ketika dengan mata kepala sendiri menyaksikan Saudara sepupu saya meninggal dengan keadaan yang sangat tragis (maaf) yakni tengkuk di sekitar leher berwarna kebiruan juga mulutnya terus mengeluarkan busa akibat over dosis…

Saat pandangan ini kosong karena benar-benar sungguh tak percaya, padahal beberapa hari yang lalu beliau masih menemani keberangkatan sekolah saya di kawasan Harmoni. Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah malam harinya, saat pertandingan Inggris melawan Prancis di Euro 2004 Portugal, kami masih sempat berkomentar mengenai gagalnya David Beckham saat mengeksekusi penalti.

Namun, takdir berkata lain pada siang harinya, sebab jodoh, rezeki dan maut ada ditanganNya. Sebagai manusia biasa, meski tidak rela kehilangan salah satu keluarga, tetap harus ikhlas melihatnya terbujur dengan kaku.

Yang sangat disayangkan adalah cara kepergiannya yang menyimpang disaat usia masih sangat muda. Dengan usia 20 tahun, saat itu beliau adalah tumpuan dari keluarganya karena anak pertama dari empat bersaudara. Entah karena kurangnya benteng agama atau terlalu kuat lingkungan sekitar yang menjerumuskan beliau pada kenikmatan sesaat itu. Berawal dari iseng-iseng menghisap cimeng (ganja/ cannabis) lalu berlanjut dengan mencoba sabu-sabu, dan karena mahalnya harga barang haram itu, malah berbalik arah dengan mengkonsumsi Putaw yang biasa disebut di daerah kami adalah Taiknya Heroin.

Sebab, meski satu golongan dengan sejenis alkoloid Heroin, namun untuk masyarakat kelas bawah Putaw adalah pelampiasan berharga murah menuju kenikmatan yang menyerupai Heroin. Dan, barang haram itulah yang merenggut nyawa beliau di hadapan kami sekeluarga.

Saat itu dengan selembar uang berwarna biru, sudah dapat menikmati barang haram tersebut bersama kawan-kawannya di sebuah rumah kosong di daerah Cengkareng tempat kediamannya. Salah kami juga ketika itu tidak terlalu tanggap dengan omongan tetangga yang mengatakan bahwa beliau suka mengumpet-umpet bersama beberapa kawannya di sebuah rumah kosong. Kami hanya menganggap aksi mereka sekadar kongkow bareng ataupun bermain gitar biasa layaknya seorang remaja. Dan tidak menyadari bahwa hal seperti itu sudah sangat sering dilakukan.

Hingga kejadian senin siang itu membukakan mata hati dan telinga kami, bahwa seorang anak (remaja) yang di dalam rumah sangat kalem namun ketika di luaran bisa lepas kontrol juga.

Nasi telah menjadi bubur, usai kejadian itu, sulit untuk mencari kambing hitam yang bisa disalahkan. Menyalahkan beberapa kawannya, tidaklah mungkin karena mereka memakai atas dasar patungan.

Menyalahkan Keluarganya sendiri, juga tidak mungkin sebab setahu saya, Ayah (alm) dan Ibunya sangat perhatian padanya. Dan begitu tegas saat mengawasi perkembangan baik di sekolah maupun di rumah.

Andai saja saat itu waktu bisa diputar kembali, tentu kami akan memutarnya pada waktu sebelum beliau mengenal narkoba untuk pertama kalinya yaitu ganja. Sebab disanalah cikal-bakal terjadinya bom waktu berupa  maut yang merenggut beliau.

Tapi itu tidaklah mungkin, sebab apa yang tidak kami inginkan akhirnya terjadi juga. Walaupun menyesali kepergiannya yang mendadak dan juga sangat mengenaskan, tetapi ada hikmah dibalik sebuah musibah yang terjadi. Yaitu berangsur-angsurnya sadar beberapa remaja yang dahulunya suka memakai narkoba di kawasan kami berada.

Sebab banyak yang ngeri ketika menyaksikan langsung meninggalnya saudara sepupu saya tersebut. Hingga efeknya, mereka mulai meninggalkan untuk mengkonsumsi barang haram itu karena takut akan apa yang dilihat terjadi pada dirinya sendiri.

Ah, biarlah saudara sepupu saya itu menjadi tumbal sekaligus contoh di kawasan tempat tinggal kami, untuk generasi selanjutnya tidak lagi memakai narkoba, minimal ngeri membayangkan apabila Malaikat Maut menjemput.

Dan ini menjadi pelajaran bagi kita semua, untuk tidak mencoba dengan yang namanya Narkoba. Sebab berawal dari coba-coba, lalu ketagihan saking enak, hingga akhirnya malah saking keenakan tak sadar akan datangnya kematian…(Chairul Huda) (adv)

Mau tahu informasi lebih lanjut tentang narkoba? Klik di sini

Jika anda ingin ikut survei tentang narkoba klik di sini

(ahm)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini