Swedia Partner Tepat untuk Bahas Lingkungan

Margaret Puspitarini, Okezone · Selasa 23 September 2014 19:06 WIB
https: img.okezone.com content 2014 09 23 373 1043206 hyKMbGaM9e.jpg Kalangan akademisi menilai, Swedia adalah negara tepat untuk membahas isu lingkungan. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA - Keberlangsungan lingkungan menjadi tugas yang harus dipikul bersama. Dalam skala regional, persoalan lingkungan bisa diselesaikan melalui skema kerjasama antarnegara.

Menurut Direktur Business Development and Incubator Universitas Gadjah Mada (UGM) Hargo Utomo, Swedia adalah negara yang tepat untuk menjalin kerjasama dan untuk menyelesaikan persoalan lingkungan. Hargo menyebut, ada tiga sektor yang dapat dijajaki bersama dengan Swedia.

"Ada tiga hal yang bisa jadi program kerja sama. Pertama, Swedia fokus dan peduli dengan lingkungan. Kolaborasi ke depan, bagaimana kita punya kekuatan pembangunan berkelanjutan, yakni profit, people, dan planet," tutur Hargo kepada Okezone selepas Swedish Rectors Delegation Workshop di Indonesia International Institute of Life Sciences (I3L), Pulomas, Jakarta Timur, Selasa (23/9/2014).

Kedua, kerjasama dalam bidang konservasi air dan kenekaragaman hayati. Di dalamnya juga termasuk tentang sektor perhutanan. Sebab, kata Hargo, air akan jadi isu sentral berikutnya.

Bentuk kerjasama ketiga, ungkap Hargo, adalah energi baru dan terbarukan. Dia menyebut, keterbatasan minyak bumi menjadi persoalan masyarakat dunia untuk mencari bahan bakar alternatif.

"Ketiga bidang energi baru dan terbarukan. Ini program dunia. Banyak matahari sebagai sumber energi alternatif yang bisa dimanfaatkan," tuturnya.

Menurut Hargo, dalam setiap bentuk kerjasama, bangsa Indonesia tetap harus menempatkan posisi mereka sejajar dengan mitra internasional. Dua belah pihak, tambahnya, harus mampu belajar satu sama lain.

"Kita itu punya area dan populasi. Jadi, Indonesia bukan hanya jadi market tapi harus jadi pemeran utama. Duduk sama tinggi berdiri sama rendah," ujar Hargo tegas.

Dia menambahkan, UGM sudah lama menjalin kerjasama dengan Swedia secara people to people. Baik dalam bentuk pertukaran mahasiswa maupun dosen.

"Praktik semacam itu sudah lewat. Pendekatan kultural sudah tidak lagi harus ada pendekatan lebih nyata, yaitu problem solving," tuturnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini