Share

ITS Petakan Lokasi Tambak Garam di Salt Maper

Margaret Puspitarini, Okezone · Rabu 24 September 2014 14:12 WIB
https: img.okezone.com content 2014 09 24 372 1043554 dXYRHBMurT.jpg Foto : ITS Petakan Lokasi Tambak Garam di Salt Maper/ITS

JAKARTA - Sampang merupakan lokasi penghasil garam terbesar di Indonesia. Sayang, tidak semua garam di lokasi tersebut berkualitas baik. Melihat keadaan tersebut, tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pun tergerak untuk menghasilkan inovasi dalam bentuk peta garam atau salt maper.

Mereka adalah Zulfikar Adlan Nadzir, Nafizah, dan Enira Suryaningsih. Ketiganya membuat salt maper yang merupakan sebuah peta yang akan membantu orang mengetahui letak-letak daerah penghasil garam yang berkualitas.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Nafizah mengungkap, kualitas garam yang buruk di berbagai lokasi di Sampang disebabkan oleh penentuan tambak yang tidak sesuai. "Ternyata penyebabnya adalah penentuan lokasi tambak garam yang salah. Itulah yang kami teliti," papar Nafizah, seperti dinukil dari ITS Online, Rabu (24/9/2014).

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, lima persen dari lokasi tambak garam di daerah tersebut kurang sesuai jika ditempatkan di sana. Bahkan, kata Nafizah, sekira 30 persen di antaranya tidak berada dalam posisi yang tepat. "Jadi hanya 65 persen yang sesuai," jelasnya.

Selain itu, hasil penelitian tiga sekawan itu juga menunjukkan pantai utara memiliki potensi garam yang begitu besar. Berdasarkan analisis, tingkat keasinan yang diketahui sebesar 32 hingga 33 Psu (satuan tingkat keasinan).

"Padahal, jika diteliti lebih jauh, ternyata pantai utara memiliki tingkat keasinan yang lebih besar, yakni 36-37 Psu. Jadi pantai utara lebih potensial untuk dijadikan tambak garam," urai Nafizah.

Hasil penelitian tersebutlah yang akhirnya membawa Nafizah bersama dua rekannya sukses memboyong trofi Lomba Geospasial Inovatif Nasional LOGIN 2014. Mereka pun mendapat apresiasi yang positif dari dewan juri.

Pasalnya, hanya karya peserta asal ITS saja yang benar-benar bisa diterapkan di masyarakat. "Kami juga tidak menyangka bisa menang. Karena yang lain juga bagus-bagus," tuturnya.

Menurut Nafizah, kemenangan tersebut merupakan momen yang tepat untuk mengenalkan geospasial kepada masyarakat. Karena pengetahuan masyarakat Indonesia tentang geospasial masih minim. Maka mereka bertekad melanjutkan penelitian lebih lanjut.

Hasil penelitian tersebut nantinya akan diserahkan kepada Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sampang. "Mereka sangat mendukung dengan kegiatan ini. Hasilnya akan kami serahkan untuk ditindaklanjuti," tutup Nafizah.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini