nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketahanan Pangan, Hanya Tugas Petanikah?

Kamis 25 September 2014 08:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2014 09 25 95 1044043 GdFyW5Miz5.jpg Ketahanan Pangan, Hanya Tugas Petanikah? (Ilustrasi: dok. Okezone)

PARA pemikir negeri yang saya hormati, berbicara tentang sektor pertanian tidak asing lagi ketika kita berbicara tentang negara ini. Agraris merupakan platform yang terpampang jelas dalam perjalanan bangsa Indonesia. Namun, ketergantungan terhadap pasokan pangan impor masih menjadi salah satu permasalahan pelik bangsa yang pernah dicatat sejarah dunia karena swasembada berasnya ini. Bila ditilik lebih jauh, ketergantungan impor bukanlah akar permasalahan. Dalam hal inilah petani menduduki posisi strategis dalam ketahanan pangan, sebagai konsumen juga sebagai produsen. Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah upaya mewujudkan ketahanan pangan hanya tugas petani?  

Realitas tak terbantahkan bahwa pertanian merupakan sektor utama penyedia tenaga kerja  bagi bangsa ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada Februari 2014, penduduk yang bekerja pada sektor pertanian mencapai 40,83 juta orang. Jadi, sudah tentu, pendapatan negara pun juga disumbangkan oleh sektor ini. Namun, yang menjadi masalah sekarang justru regenerasi di sektor pertanian. Kekhawatiran bermunculan, bahwa banyak pemuda yang akhirnya memandang inferior bidang pertanian, padahal pertanian adalah aset berharga.

 

Transformasi ketenagakerjaan di sektor pertanian tanaman pangan boleh dibilang berlangsung lambat. Tingkat pendidikan petani yang tetap rendah dan semakin dominannya kelompok petani usia tua merupakan sejumlah indikasinya.  Tingkat pendidikan petani yang rendah adalah kenyataan yang tidak banyak berubah sejak dulu. Padahal, tingkat pendidikan petani sangat menentukan keberhasilan petani dalam menyerap teknologi dalam bidang pertanian, dan tentu saja tingkat efisiensi dari usaha tani yang mereka jalankan. Dan dua hal ini adalah faktor yang sangat penting dalam menggenjot produksi.

 

Hasil Survei Struktur Ongkos Usaha Tani Tanaman Pangan (SOUTTP) yang dilaksanakan BPS pada 2011 menunjukkan bahwa 32,66 persen petani dengan nilai produksi terbesar tidak tamat sekolah dasar (SD), 42,32 persen hanya tamat SD, dan 14,55 persen hanya tamat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Selain itu, pada hasil suervei yang sama, disebutkan bahwa sekitar 47,57 persen petani yang memiliki produksi terbesar berusia lebih dari 50 tahun. Data ini kian memperkuat pradigma yang tumbuh di masyarakat, bahwa menjadi petani adalah sesuatu yang tidak dinginkan dalam rencana hidup sebagian besar generasi muda bangsa ini.     

 

Hal ini perlu mendapat perhatian lebih dari kita semua. Pasalnya, rentan tahun 2020-2030 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yakni keadaan ketika jumlah usia produktif meningkat pesat. Ini merupakan momentum sejarah yang jarang terjadi. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan secara optimal untuk menguatkan segala sektor yang ikut andil dalam pembangunan bangsa ini, khusunya sektor pertanian. Sehingga, dalam upaya menjamin ketahanan pangan bagi lebih dari 200 juta penduduk negeri ini kita tidak harus mengorbankan cadangan devisa dengan mengimpor dari luar.

 

Selain petani, dalam kasus ini pemerintahlah yang memiliki andil terbesar karena segala keputusan dan kebijakan berada di tangan pemerintah. Ada banyak cabang permasalahan di bidang pangan yang pada akhirnya membuat negeri ini tidak dapat sepenuhnya berdikari di bidang pangan. Penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya lahan pertanian, terbatasnya aspek ketersediaan infrastruktur penunjang pertanian, kelemahan dalam sistem alih teknologi, terbatasnya akses layanan usaha, dan masih panjangnya mata rantai tata niaga pertanian merupakan beberapa cabang masalah yang menyebabkan upaya mewujudan ketahanan pangan belum dapat terwujud. Tanpa penyelesaian mendasar dan komperhensif dalam berbagai aspek di atas kesejahteraan petani akan terancam dan ketahanan pangan akan stagnan dalam taraf wacana.

 

Luasnya substansi dan banyaknya pelaku yang terlibat dalam pengembangan sistem ketahanan pangan memerlukan kerjasama yang sinergis antarinstitusi dan generasi muda. Pemantapan ketahanan pangan hanya dapat diwujudkan melalui kerjasama yang kolektif dari seluruh pihak yang terkait. Nasib terpenuhinya kebutuhan perut ratusan juta rakyat Indonesia bertumpu pada petani dan nasib kemajuan pembangunan suatu bangsa bertumpu pada pemudanya.

 

Nabila Faradina Iskandar

Staff Ahli Kajian Strategis BEM Faperta

Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini