nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bom Meledak di Afghanistan Pasca-pakta Keamanan

Rani Hardjanti, Jurnalis · Rabu 01 Oktober 2014 19:47 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 10 01 413 1047041 elNApwsGn3.jpg Bom Meledak di Afghanistan Pasca-pakta Keamanan. (Foto: Dok Reuters)

KABUL - Bom bunuh diri kembali meledak di Kabul, Afghanistan. Kejadian itu menelan tujuh korban jiwa dan 19 orang luka-luka.

Tragedi itu terjadi selang satu hari penandatanganan pakta kerja sama keamanan Afghanistan dan Amerika Serikat (AS). Diduga, pelaku pengeboman tersebut adalah dua orang anggota Taliban.

Kedua pelaku bom bunuh diri itu meledakkan diri di dekat pangkalan militer Afghanistan dan merusak kendaraan militer di sekitar lokasi.

"Anggota militer dan bus serta peralatan militer Afghanistan adalah target dari serangan mereka," ujar pejabat Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Ayoub Salanghi, seperti dikutip Reuters, Rabu (1/10/2014).

Diduga, aksi tersebut sebagai bentuk penolakan Taliban atas pakta kerja sama Afghanistan dan Amerika Serikat (AS). 2014. Dengan perjanjian itu memungkinkan pasukan Amerika masuk ke wilayah Afghanistan.

Perjanjian itu ditandatangani di bawah kepemimpinan Presiden terpilih Ashraf Ghani Ahmadzai, yang didukung oleh Amerika Serikat.

Presiden sebelumnya, Hamid Karzai, menolak mentah-mentah tawaran perjanjian tersebut. Hamid menilai, kerja sama itu bertolak belakang dengan kematian warga sipil Afghanistan. Kerja sama memerangi Taliban dinilai Hamid tidak mengakomodir kepentingan Afghanistan yang sebenarnya.

Perjanjian itu diteken oleh Penasihat Keamanan Nasional Afghanistan Hanif Atmar dan Duta Besar AS untuk Afghanistan James Cunningham, di Istana Kepresidenan Afghanistan.

Menurut pakta perjanjian, sebanyak 12 ribu personel militer asing bisa masuk ke wilayah Afghanistan pada akhir 2014, ketika masa operasi North Atlantic Treaty Organization (NATO)  habis di negara tersebut.

Selama ini, Taliban, berjuang untuk memukul mundur pasukan asing dan pemerintah yang didukung oleh Amerika. Taliban berasumsi, Amerika mengambil keuntungan dari kelumpuhan di Kabul untuk melancarkan serangan dalam upaya merebut kembali wilayah strategis seperti di bagian selatan, Helmand, dan Kunduz, di bagian utara.   

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini