nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ditampar Guru, Siswa SD Ini Luka Robek di Mulut

Moehammad Bakrie, Jurnalis · Senin 03 November 2014 14:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2014 11 03 340 1060383 ditampar-guru-siswa-sd-ini-luka-robek-di-mulut-HEvMO9txAz.jpg Ditampar Guru, Siswa SD Ini Luka Robek di Mulut (Foto: Okezone)
MAROS – Siswa kelas V SDN 31 Maros berinisial ZA menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh wali kelasnya, M Ma'ruf Arif. Akibatnya, ZA mengalami luka robek di bagian mulut.

Selain melakukan kekerasaan terhadap ZA, wali kelasnya juga mengistirahatkan sang siswa di rumah dengan alasan tak jelas. Tidak hanya ZA, adiknya yang berinisial NA dan duduk di kelas III di sekolah yang sama juga ikut dilarang masuk.

Informasi yang diperoleh, kasus ini berawal pada 13 Oktober 2014. Saat jam belajar, ZA terlibat perkelahian dengan salah satu siswa. Wali kelas yang mengetahui kejadian itu langsung memberikan hukuman dengan cara menampar ZA hingga mengalami luka sobek pada bagian bibir bawah.

Orangtua korban, Iswarni (28), mengatakan, kejadian itu terjadi pada seminggu lalu. Dirinya pun sudah melaporkan kepada dinas pendidikan setempat dan pihak kepolisian dengan bukti surat pelaporan: LPB /356/X/2014/SPKT tertanggal 14 Oktober 2014. Namun hingga kini kasus tersebut belum menuai kejelasan.

“Kasus ini sudah lama. Kami juga sudah pernah lapor ke dinas pendidikan, tapi tidak pernah ada laporannya kepada kami terkait perkembangan kasusnya. Mungkin kami hanya keluarga miskin, jadi kami dicueki sama mereka,” Ungkap Iswarni saat ditemui di rumahnya, Senin (3/11/2014).

Ia menambahkan, seharusnya pihak sekolah tidak mengistirahatkan kedua anaknya. Sebab jika bersalah, bukan harus dihukum dengan kekerasan. Bahkan, sang adik yang tidak bersalah ikut terkena hukuman itu.

“Kasihan kami, anak sekecil mereka itu tidak mengerti apa-apa, seharusnya mereka dibina dengan baik bukan malah harus dihukum seperti ini, sungguh tidak adilnya mereka memperlakukan kami ini,” ujarnya.

Lebih lanjut Ansarullah, yang berprofesi sebagai montir, mengaku saat proses pelaporan di kepolisian dirinya dimintai uang oleh oknum kepolsian sebesar Rp100 ribu untuk kepentingan autopsi.

“Saat saya dan istri saya melapor ke polisi, seorang penyidik memintak kepada saya uang sebesar Rp100 ribu untuk biaya otopsi dan saya berikan waktu itu, tapi kenapa sampai saat ini belum ada sama sekali laporan perkembangan kasusnya,” ungkapnya.

Seperti diketahui, kasus ini berawal pada 13 Oktober, Saat jam belajar, dua siswa terlibat perkelahian kemudian ditangani oleh wali kelas. Wali kelasnya pun memberikan hukuman dengan cara menampar ZA hingga mengalami luka sobek pada bagian bibir bawahnya.

(crl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini