Kisah Pemuda Jawa Bangun Budaya Baca di Papua

Nurlina Umasugi, Okezone · Rabu 26 November 2014 00:03 WIB
https: img.okezone.com content 2014 11 25 65 1070593 kisah-pemuda-jawa-bangun-budaya-baca-di-papua-g33S4fHi1C.jpg Kisah Pemuda Jawa Bangun Budaya Baca di Papua

JAYAPURA - Perjalanan sebuah bangsa seharusnya dimulai dari fase lisan, fase literasi, kemudian fase teknologi informasi dan komunikasi. Namun saat ini terjadi keanehan pada Bangsa Indonesia, yang berawal dari fase budaya, lisan dan langsung menuju fase budaya teknologi informasi dan komunikasi.

Itulah pendapat yang dianut Fathul Qorib. Pemuda asal Lamongan ini mengaku masyarakat Indonesia khususnya warga Papua, belum mencapai fase literasi sama sekali.

Menurutnya, masyarakat Papua masih gagap membaca, terbukti dengan adanya beberapa penelitian atau kegiatan jurnalistik yang menunjukkan bahwa ratusan ribu orang Papua masih belum dapat membaca. Inilah yang menggerakan hati pemuda 25 tahun ini untuk hijrah ke Papua demi mewujudkan cita-citanya membangun budaya baca di Papua. Dikatakan jika masyarakat di Pulau Jawa saja mengalami jumping culture, kenapa masyarakat Papua tidak?

Berbekal perkenalannya dengan seorang rekannya di Jayapura melalui jejaring sosial, Dosen termuda di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) ini, nekad meninggalkan Kampung halamannya demi membangun budaya baca di Papua.

April 2013, Fathul Qorib menginjakan kakinya ke Bumi Cenderawasih. Di pelabuhan laut Jayapura, kakinya mulai melangkah menyusuri pelosok Kota Jayapura demi mendapatkan tempat tinggal gratis selama beberapa hari.

“Saya itu, kebetulan ada kenalan di Facebook. Waktu berkomunikasi dengan dia, saya lalu ke Kota Jayapura. Alhamdulillah dia juga bersedia menampung saya di rumahnya, meskipun itu hanya kontrakan keil,” kenang Fathul.

Bersama rekannya, Fathul lalu mendirikan Sekolah Menulis Papua (SMP). Sekolah ini, diadakan secara gratis. SMP dibukan setiap hari Minggu, dengan penawaran berbagai kelas diantaranya kelas fiksi (cerpen, puisi, novel, dongeng), kelas jurnalistik dan kelas non fiksi (artikel, esai, karya ilmiah). Baru beberapa bulan mendiirikan SMP, puluhan mahasiswa dan pelajar sudah tercatat sebagai muridnya.

Muridnya bahkan ada yang berasal dari Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, yang jarak tempuh dari Kota Jayapura tiga jam menggunakan jalan darat.

“Murid saya yang terjauh itu dari Bonggo, jadi kalau habis belajar, mereka kembai ke Kampung itu pasti bawaannya jeriken berisikan bensin. Itu katanya untuk persediaan selama di jalan, soalnya mereka selalu kehabisan bensin di jalan, terpaksa motornya diderek. Kasian mereka,” tutur Fathul.

Dikatakan, murid-murid SMP didapat dari hasil cerita dari mulut ke mulut. Setiap kali mengajar di Kampusnya, Fathul selalu menceritakan tentang SMP yang dibangun bersama dengan rekannya. Dia tidak memaksakan mahasiswanya harus bergabung dengan SMP, namun mereka sendirilah yang tertarik untuk bergabung karena ingin lebih mengenal bagaimana menulis layaknya jurnalis.

Selain SMP, Fathul juga mendirikan Rumah Baca Nuu Waar, rumah baca ini berdiri dibawa naungan SMP yang menyediakan beragam program untuk menyukseskan penyebaran budaya literasi di Papua. Sementara rumah baca dijadikan agenda oleh siswa-siswi SD dan pra sekolah di sekitar tempat tinggalnya.

“Rumah baca ini khusus buat mereka yang pra sekolah, saya selalu membujuk mereka untuk datang ke rumah baca, terkadang mereka harus dirayu dengan minuman kaleng dan maknan ringan dulu baru mereka mau untuk belajar membaca, ya namanya juga anak-anak. saya tekannkan kepada mereka, untuk dapat menulis, maka harus bisa membaca buku sebanyak mungkin,” ungkapnya.

Dia mengakui, mendirikan dan mengajar sekolah menulis bukan hal pertama baginya. Sebelumnya telah banyak organisasi atau komunitas yang didirikan sarjana Komunikasi ini. Antara lain, komunitas sastra, komunitas jurnalistik, komunitas tetater, bahkan komunitas pecinta alam.

Dalam merintis perjuangannnya membangun budaya baca di Papua, Fathul mengakui banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah masalah anggaran dan juga saranan prasarana. Anak pasangan Masduki dan Bibit tak putus asa, berkat pengalamannnya tergabung dalam Komunitas Teater Desah, Forum Lingkar Pena dan beberapa organisasi lainnya.

Empat dari enam bersaudara ini lalu bekerja sambilan sebagai jurnalis di salah satu harian lokal di Kota Jayapura. Hasil pendapatannya, dia gunakan untuk membiayai SMP dan rumah baca Nuu Waar.

“Sebagian uang hasil pendapatan saya sebagai jurnalis, saya gunakan untuk membiayai pertemuan SMP dan juga di rumah baca, sebagian lagi saya gunakan untuk membeli buku agar mereka lebih gampang belajarnya,” ujar Fathul.

Enam bulan, mendirikan SMP, Fathul mengaku siswanya sudah bisa menghasilkan beberapa karya cerita pendek yang siap dicetak. Saat ini, kurang lebih 15 cerita pendek telah memasuki akhir editing dan tinggal membuat cover yang menarik. Dalam waktu dekat kumpulan cerita pendek dari anak-anak SMP akan dapat dibaca oleh masyarakat Papua.

Kegigihannnya membangun budaya baca di Papua tidak hanya dengan mendirikan SMP, namun dia juga mendirikan kelas inspirasi di Kota Jayapura. Kelas inspirasi adalah sebuah organsisasi yang lahir dari Indonesia Mengajar yang digagas oleh Mendikbud, Anies Baswedan.

Puluhan profesional sudah dikumpulkan untuk mengajar di tujuh Sekolah Dasar di Kota Jayapura.

“Tujuan kelas inspirasi ini adalah, bagaimana kita memotivasi anak-anak di Papua untuk tetap semangat. Dan terus belajar deagn giat agar apa yang dicita-citakan mereka, nantinya akan terwujud,” ungkap Fathul.

Menurut Fathul, menjadi manusia jika hanya mengurus pribadi saja, tidak akan sempurna, kita menjadi sempurna jika menjadi manusia sosial. Meskipun secara materi kita tidak berarti, tapi kekayaan hati, siapa yang akan tahu.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini