nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banyak Lubang di KTSP

Rifa Nadia Nurfuadah, Jurnalis · Rabu 10 Desember 2014 08:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2014 12 10 65 1077103 banyak-lubang-di-ktsp-PJ6lwfBqiC.jpg Mantan Mendikbud M Nuh menilai KTSP memiliki banyak lubang kelemahan. (Foto: Feri U/Okezone)

JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengeluarkan kebijakan pembatasan penerapan kurikulum 2013. Sekolah pun diimbau untuk kembali ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dipakai sejak 2006 lalu.

Menanggapi hal ini, mantan Mendikbud M Nuh menilai, keputusan pembatasan penerapan kurikulum hanya pada 6.000-an sekolah yang telah menerapkannya sebagai keputusan yang tergesa-gesa. Nuh menyayangkan, Anies tidak memberikan lebih banyak waktu bagi sekolah untuk bersiap.

"Mbok ya tunggu sampai selesai satu tahun ajaran, sampai semester depan," kata Nuh.

Meski mengaku menghormati kewenangan pemerintah, Nuh mengingatkan pentingnya pendidikan lintas rezim pemerintahan. Dalam bahasa Nuh, tidak bisa ketika ganti rezim maka kebijakan berganti pula.

Ketika ditemui di Jalan Cut Mutia, Menteng, Jakarta Pusat, belum lama ini, penggagas Kurikulum 2013 itu pun berbagi pandangan tentang berbagai kelemahan KTSP. Berikut petikan wawancara dengan mantan Mendikbud M Nuh:

Apakah imbauan penghentian penerapan Kurikulum 2013 dan kembali ke KTSP merupakan langkah mundur?

Yang menarik, kan, begini; setop, lalu kembali ke KTSP. Padahal kita tahu persis lubang-lubang di KTSP. Dan banyak pihak selalu berkata bahwa kurikulum 2013 diterapkan tanpa evaluasi KTSP terlebih dahulu. Saya selalu menjawab, bagaimana kita (Kemendikbud - red) bisa membuat kurikulum 2013 tanpa evaluasi KTSP? Bagaimana saya bisa mengetahui kelemahan KTSP?

Untuk mengevaluasi kurikulum, kita menggunakan indikator kurikulum itu sendiri yaitu isi materinya, - prosesnya dan evaluasinya. Kan itu rumusnya. Bahkan Undang-Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pun sudah memaparkan standar kompetensi meliputi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Sangat jelas.

Kurikulum 2013 mengedepankan kompetensi sikap anak didik.  Sikap seperti apa yang dituju kurikulum 2013?

Sikap di situ ada sikap spiritual, ada sikap sosial. Dan oleh sebagian kalangan selalu diributkan sebagai sikap spiritual saja. Seakan-akan kurikulum 2013 melakukan agamaisasi, karena hanya melihat sikap spiritual tadi. Tetapi, kalau toh ada agamaisasi, apa yang keliru?

Penilaian kurikulum 2013 memang jauh berbeda dengan KTSP.

Ya, karena begitu masuk tentang sikap, maka evaluasinya pun berubah. Dan ini tidak dilakukan di KTSP.

Pada KTSP, cara penilaiannya masih sebagai pengetahuan. Numerik, dengan angka enam, tujuh, delapan. Dan inilah yang dikoreksi kurikulum 2013 sebagai penilaian sikap. Kita (Kemendikbud - red) punya prinsip, setiap mata pelajaran memberikan kontribusi pada pendidikan sikap karena ingin menerjemahkan amanah UU Sisdiknas. Rujukannya kan itu.

Ini pula yang dikeluhkan para guru karena merasa kesulitan dalam menilai sikap.

Saya katakan, ya. Saya paham bahwa hampir bisa dipastikan guru akan kesulitan dalam menilai sikap yang menggunakan deskriptif kulitatif.


Tapi bukan berarti guru tidak bisa, melainkan hanya belum terbiasa. Saat ini kan guru sudah berada dalam zona nyaman. Turun temurun, guru kita, gurunya guru kita, sejak Indonesia merdeka menilai secara numerik. Sekarang diminta berubah. Tidak cukup angka enam, tujuh, delapan. Kasih penilaian deskriptif di situ, si A bagaimana, si B bagaimana, dan seterusnya.


Dan tidak hanya guru PPKn atau agama, semua guru harus memberikan penilaian sikap. Karena tugas pembentukan sikap bukan tugas guru tertentu. Inilah yang diterjemahkan oleh KTSP, seakan-akan hanya guru tertentulah yang mengajarkan sikap.

Lubang lainnya apa lagi?

Dalam pendidikan keterampilan juga demikian. Keterampilan dalam KTSP diterjemahkan menjadi tugas prakarya. Padahal bukan itu. Setiap mata pelajaran memiliki fungsi keterampilan yaitu keterampilan berfikir abstrak, keterampilan menyampaikan pendapat, itu semua keterampilan.


Hakikat keterampilan kan menerjemahkan pengetahuan dalam praktik keseharian. Jangan sampai keterampilan diterjemahkan sebagai membuat prakarya, itu sangat naif. Dan itulah yang dilakukan di KTSP.


Selain itu di SMK tidak ada pelajaran sejarah. Semangat penyusunan Kurikulum 2013 juga dilandasi semangat nasionalisme. Karena itulah kita mengajarkan sejarah sebagai mata pelajaran wajib di SMK. Dalam pendidikan kita, anak harus tahu tentang sejarah Indonesia, mulai dari cikal bakalnya.

Bagaimana dengan aspek pelajaran bahasa Indonesia?

Kita juga ingin mengangkat bahasa Indonesia, dari sisi materi. Berapa sih kita memberikan porsi jam pelajaran bahasa Indonesia dibandingkan bahasa asing? Hanya separuh!

 
Sebab, kita salah mendefinisikan bahasa Indonesia seakan-akan hanya untuk komunikasi. Padahal tidak. 

 

Ilustrasinya begini, hal pertama yang akan dikoreksi dosen saat membaca skripsi atau tugas akhir mahasiswa adalah tata bahasanya bukan substansi atau teori yang dipakai. Dosen akan melihat, bagaimana cara menyampaikan atau mengemas gagasan dengan bahasa Indonesia yang baik. Artinya, kemampuan berbahasa Indonesia kita lemah. Sebab, kita menempatkan bahasa Indonesia hanya sebagai alat komunikasi, bukan sebagai carrier of kowledge (pembawa ilmu pengetahuan).


Sehingga nanti yang mengajarkan bahasa Indonesia (dalam kurikulum 2013) bukan hanya guru bahasa Indonesia. Guru apa pun, harus bisa mengajarkan bagaimana berbahasa Indonesia yang baik.

Evaluasi apa lagi yang menjadi dasar perumusan kurikulum 2013 sebagai pengganti KTSP?

Nilai TIMMS dan PISA anak Indonesia yang sangat rendah. Semua sudah tahu itu, hampir 80 persen nilai TIMMS dan PISA kita di bawah level satu. Setelah dianalisis, salah satu alasan mendasar jebloknya nilai Indonesia adalah banyaknya indikator penilaian kemampuan literasi anak Indonesia di bawah standar. Misalnya, dalam mata pelajaran Matematika Terapan siswa kelas VIII, anak kita belum mendapatkan materi tentang data. Belum ada di dalam silabus, bukan belum diajarkan.

PISA dan TIMSS adalah dua tes untuk mengukur literasi matematika dan sains pada siswa kelas menengah di berbagai negara. Selain literasi matematika, PISA yang dihelat oleh Organisation For Economic Co-operation and Development (OECD) juga mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun (kelas III SMP dan KelasI SMA) dalam membaca (reading literacy). Sementara itu, studi TIMSS diselenggarakan oleh International Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA) yaitu sebuah asosiasi internasional untuk menilai prestasi dalam pendidikan yang berpusat di Lynch School of Education, Boston College, USA. (red)


Komentar lain tentang KTSP?

Pernyataan Pak Anies bahwa KTSP adalah jelmaan kurikulum 2004 itu salah. Kurikulum 2004 adalah kurikulum berbasis kompetensi (KBK). KTSP disusun untuk memenuhi UU Sisdiknas. Saya sendiri tidak tahu apa dasar keputusan kembali ke KTSP ini. (bersambung)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini