nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Taufik Hidayat

Fetra Hariandja, Jurnalis · Jum'at 26 Desember 2014 16:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 12 26 17 1084216 taufik-hidayat-zghlEA2POL.jpg Taufik Hidayat /Foto: Heru Haryono-Okezone.com

SEBELUM memasuki era 2006, olahraga Indonesia sangat ditakuti pada cabang bulutangkis. Kehadiran atlet Merah Putih di berbagai kejuaraan menjadi momok bagi wakil negara lain. Salah satu pahlawan bulutangkis Indonesia yang paling menjadi perhitungan lawan adalah Taufik Hidayat.

Menjadikan namanya bersinar di belahan dunia bukan perkara mudah bagi Taufik. Dirinya harus mengorbankan masa kanak-kanak yang identik dengan bermain dengan rekan sebaya. Sebaliknya, Taufik justru harus menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer dari Pangalengan ke Bandung dengan menumpang kendaraan umum.

Sejak duduk di bangku kelas III sekolah dasar (SD), Taufik harus menjalani latihan bulutangkis di Klub Sangkuriang Graha Sarana (SGS) di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. Dalam sepekan, Taufik harus pergi-pulang Pangalengan-Bandung. Latihan harus dijalaninya hingga pukul 20.00 WIB.

Sejujurnya, Taufik kecil lebih menyukai sepakbola seperti kebanyakan rekan sepermainan. Impian untuk menjadi superstar di lapangan hijau tidak bisa terwujud. Sang ayah menyuntikkan motivasi kepada Taufik untuk menekuni bulutangkis. Maklum, ayah dan ibunya sangat menggemari bulutangkis.

Perjalanan pahit yang berujung manis. Ketika terjun di pentas nasional dan internasional, Taufik masih di bawah bayang-bayang nama besar Hendrawan, Marleve Mainaky, dan Hariyanto Arbi. Kendati masuk tim inti, Taufik tetap menjadi pemain kedua, terutama ketika menghadapi kejuaraan beregu Thomas Cup dan SEA Games.

Perlahan tapi pasti, Taufik menunjukkan talenta dalam mengayun raket. Pria kelahiran 10 Agustus 1981 itu untuk kali pertama menjadi yang terbaik ketika merebut medali emas SEA Games 1999 dan jawara Indonesia Open di tahun sama. Saat final perorangan SEA Games, Taufik mengempaskan Wong Choong Hann (Malaysia). Kemudian ia mengalahkan rekan di pelatnas, Budi Santoso, pada ajang Indonesia Open.

Menjadi decak kagum bagi pemerhati bulutangkis dunia karena Taufik baru menginjak usia 18 tahun ketika meraih dua gelar tersebut. Setahun kemudian, nama Taufik kian melambung. Jurnalis Indonesia maupun mancanegara selalu memburu dirinya untuk menjadi sumber berita.

Pada 2000, Taufik kembali membukukan mahkota juara individu di ajang Malaysia Open, Badminton Asia Championships, dan Indonesia Open. Taufik bahkan menjadi pahlawan bagi Indonesia ketika memastikan gelar juara Thomas Cup di Kuala Lumpur.

Secara total, Taufik menoreh setidaknya 39 gelar internasional, baik individu maupun beregu Indonesia. Artinya, dia membuat lagu Indonesia Raya berkumandang di negara lain dalam 33 kali kesempatan. Enam mahkota juara lainnya diraih Taufik pada turnamen Indonesia Open.

Kendati bertabur gelar juara, ada tiga kejuaraan yang membuat dirinya belum puas yakni Sudirman Cup, China Open, dan All England. Hingga akhir karier, Taufik gagal menjadi juara di ketiga perhelatan tersebut. Padahal, Taufik berambisi membukukan prestasi terbaik di seluruh event internasional.

Sejak memutuskan menggantung raket, tidak membuat Taufik melupakan cabang olahraga yang membesarkan namanya. Pemilik pukulan smes tercepat yang mencapai 305 kilometer per jam ini membangun pusat latihan bulutangkis, Taufik Hidayat Arena (THA), berlokasi di Ciracas, Jakarta Timur.

Dengan berdirinya THA, ayah dari Natarina Alika Hidayat dan Nayutama Prawira Hidayat ini ingin pusat latihan tersebut memberi kontribusi pada bangsa untuk mewujudkan atlet bulutangkis berkualitas.

Profil

Nama: Taufik Hidayat

TTL: Bandung, 10 Agustus 1981

Tinggi badan: 176 cm

Istri: Ami Gumelar

Ayah: H. Aries Haris

Ibu: Hj. Enok Dartilah

Klub: SGS Elektrik Bandung

Prestasi

2011

India Open Grand Prix

2010

French Open

Indonesia Open

Canadian

2009

US Open

India Open

2008

Macau Open

2007

SEA Games

Badminton Asia Championships

2006

Asian Games

Indonesia Open

2005

World Championships

Singapore Open

2004

Olympic Games

Indonesia Open

Badminton Asia Championships

2003

Indonesia Open

2002

Asian Games

Chinese Taipei Open

Indonesia Open

Thomas Cup

2001

Singapore Open

2000

Indonesia Open

Badminton Asia Championships

Malaysia Open

Thomas Cup

1999

SEA Games

Indonesia Open

Brunei Open

1998

Asian Games (beregu)

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini