Kisah JK saat Jadi Kepala Bakornas Tsunami Aceh

Salman Mardira (Okezone), Okezone · Jum'at 26 Desember 2014 15:30 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 26 340 1084188 kisah-jk-saat-jadi-kepala-bakornas-tsunami-aceh-EhKbQf1aNT.jpg Kisah JK saat Jadi Kepala Bakornas Tsunami Aceh (Foto: Okezone)

BANDA ACEH – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, tsunami Aceh yang terjadi 10 tahun lalu, ikut menyatukan Indonesia dan bangsa-bangsa dunia. Dengan kebersamaan dan kesetiakawanan itulah, kerusakan begitu parah terjadi di Aceh akibat tsunami pulih kembali dalam rentang satu dasawarsa

“Pelajaran penting yang harus kita ambil bahwa betapapun beratnya masalah yang ada kita dapat selesaikan dengan kebersamaan, kesetiakawanan,” ujar JK dalam refleksi 10 tahun tsunami di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Jumat (26/12/2014).

Menurutnya banyak masalah dihadapi Aceh saat itu, mulai dari sulitnya menguburkan mayat-mayat korban, pembersihan puing hingga upaya pemulihan. Tsunami Aceh dinilai bencana yang memakan korban terbesar sepanjang sejarah Indonesia dan salah satu paling dahsyat di dunia.

“Belum pernah saya lihat secara nasional rasa kesetiakawanan seperti saat itu,” katanya.

Saat itu, kata JK, masyarakat dari Sabang sampai Merauke bahu membahu datang ke Aceh, membantu memindahkan mayat-mayat dan terlibat membersihkan puing. Akses international yang semula ditutup karena konflik, mulai dibuka agar bantuan dari negara lain datang bersatu dalam satu misi kemanusian.

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia saat itu juga sepakat dialog mengakhiri konflik, agar bisa sama-sama membangun Aceh. “Kita damai, kita membangun kembali Aceh ini hingga kita jadi lebih baik pada dewasa ini,” katanya.

Persatuan memang sering muncul dalam situasi sulit. JK mengajak sekarang tak harus lagi menunggu sulit baru bersatu. “Tapi sekarang ini kita tahu supaya tidak kesulitan maka harus bersatu lebih dulu untuk menyelesaikan masalah,” ujarnya.

JK juga menceritakan kilas balik pengalamannya terlibat langsung dalam menangani langsung tsunami sebagai wapres sekaligus Kepala Bakornas saat itu. Langkah pertama dilakukannya adalah tanggap darurat selama enam bulan.

“Apa saja kebutuhan masyarakat diberikan, untuk makan, untuk kesehatan, perumahan sederhana, tempat berlindung,” tuturnya.

Menurutnya saat itu tidak mudah membangun Aceh, karena masyarakat hilang semangatnya. Ia pun memerintahkan pembersihan puing-puing tsunami seluruh Banda Aceh hingga Meulaboh selama dua bulan.

“Masyarakat pada waktu itu kehilangan semangat dan trauma. Salah satu cara membangkitkan semangat lagi adalah menghilangkan bekas-bekas bencana itu,” tukasnya. (fmi)

(ugo)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini