Wajah Banda Aceh Setelah 10 Tahun Tsunami

Salman Mardira, Okezone · Jum'at 26 Desember 2014 15:35 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 26 340 1084189 wajah-banda-aceh-setelah-10-tahun-tsunami-QiHDiJwIzF.jpg Salah satu kawasan di Banda Aceh, 10 tahun pasca tsunami (Antara)

BANDA ACEH - Satu dasawarsa tsunami berlalu, Aceh bangkit menunjukkan kemajuan pesat. Pembangunan di segala lini digenjot hingga kehidupan masyarakat kembali pulih. Titik terpenting dari bencana ini adalah lahirnya perdamaian antara RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005.

Sebelum kedua pihak berdamai, Aceh adalah ladang perang. Hari-hari diwarnai letusan senjata, pembunuhan, penganiayaan, penculikan, hingga pembakaran rumah dan bangunan-bangunan pemerintah. Korban terus berjatuhan.

Tak ada kebebasan beraktivitas, perekonomian masyarakat sulit berkembang karena terhalang kondisi keamanan. Semuanya berubah setelah kedua pihak sepakat menghentikan permusuhan di Helsinki, Finlandia. Kebebasan pers mulai terbuka yang sebelumnya berada dalam kontrol ketat penguasa Darurat Militer dan Sipil.

Bantuan korban tsunami dari dalam maupun luar negeri bebas masuk ke Aceh, yang sebelumnya dibatasi pemerintah dengan alasan konflik. Lewat bantuan solidaritas manusia dunia, dan semangat pantang menyerah, Aceh kembali bangkit. Sendi-sendi yang terpuruk saat konflik dan tsunami ditata lagi.

Melihat kehancuran Aceh kala itu, banyak pihak memprediksi bahwa provinsi itu baru pulih 20 tahun kemudian. “Tapi persepsi itu ternyata salah, baru 10 tahun Aceh sudah sangat maju melebih dari sebelum tsunami,” kata mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan di Banda Aceh beberapa waktu lalu.

Kemajuan Aceh kini bisa dilihat di Banda Aceh yang saat tsunami sebagian besar infrastrukturnya rusak. Geliat pembangunannya kini tampak dengan jalan-jalan yang makin bagus, banyak gedung bertingkat, aktivitas kota semakin ramai, dan tumbuhnya tempat-tempat hiburan.

Pusat perbelanjaan modern (mal) dan hotel-hotel berbintang berdiri. Di antaranya Hotel Hermes Palace, Grand Nanggroe, Oasis Atjeh, The Pade, dan lainnya. Belum lagi warung kopi modern dengan fasilitas wifi, sesuatu yang langka sebelum tsunami, kini bertaburan.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, mengatakan, salah satu pertumbuhan positifnya adalah meningkatnya pendapat asli Kota Banda Aceh dari Rp9 miliar sebelum tsunami mencapai Rp150 miliar pada tahun lalu. APBK juga serupa, sebelum tsunami hanya Rp3,3 miliar. “Sekarang jadi Rp1,1 triliun”.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini