Kampus-Kampus Besar Jadi Target Penyebaran Paham Radikal

Marieska Harya Virdhani, Okezone · Senin 29 Desember 2014 19:11 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 29 65 1085379 kampus-kampus-besar-jadi-target-penyebaran-paham-radikal-ZexilA3E93.jpg Kampus-Kampus Besar Jadi Target Penyebaran Paham Radikal

DEPOK - Ancaman radikalisme di setiap kampus harus ditangani secara serius. Dosen Agama Islam Universitas Indonesia (UI) Abdi Kurnia mendapatkan banyak fakta maraknya penyebaran faham ini dari hasil wawancara dan investigasinya kepada para mahasiswa.

“Bahkan kaderisasi sudah dilakukan sejak pelajar dan ada di kampus besar seperti UI, ITB, Unair, Undip dan lainnya dalam 5-6 tahun terakhir grafiknya meningkat 1:20, 1:18. 1:5. Artinya dari lima mahasiswa UI ada satu mahasiswa kader mereka dan ini sangat signifikan,” tegas Abdi dalam Silaturahim Nasional Tentang Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional di Pondok Pesantren Al Hikam, Beji, Depok, Senin (29/12/2014).

Rekrutmen dengan pola seperti itu, menurutnya, begitu efektif dengan tetap dilakukan mentoring dan monitoring secara berkala. Jika mahasiswa sudah terjebak, lanjutnya, maka akan sulit untuk keluar.

“Kalau sudah masuk, maka susah keluar. Karena mereka diancam akan dikenakan sanksi sosial. Tak akan dapat pekerjaan layak. Kehidupan sosial politik terpasung. Yang disebut perbandingan itu proses kadersasi dibangun sejak SMA, diplot masuk PTN sampai tahun 1995 terlihat ada peningkatan,” paparnya.

Namun Abdi menegaskan para pelajar dan mahasiswa yang masuk dalam kelompok kader Ikhwanul Muslimin disinyalir menjadi jembatan untuk masuk ke kelompok paham radikal. Kelompok Ikhwanul Muslimin, lanjutnya, kerap menjadi kelompok transit bagi para mahasiswa sebelum menuju kelompok radikal.

“Perlu ditegaskan Ikhwanul Muslimin tidak head to head lawan negara tapi ini intermediary group kelompok peralihan. Semula direkrut Ikhwanul Muslimin beralih menjadi radikalisme sehingga menjadi kelompok transit. Padahal Ikhwanul Muslimin “Kompromi” atau permisif terhadap gagasan radikalisme. Kenapa punya potensi karena Ikhwanul Muslimin intermediary grup posisinya. Selalu dijadikan batu lompatan,” paparnya.

Ia mengungkapkan bahwa tahun 2011 ada seorang mahasiswa dari PTN tertentu gamang untuk keluar dari Ikhwanul Muslimin ditawari menjadi anggota kelompok radikal. “Artinya juga enggak erat. Jendelanya selalu dari situ. Tak dari ormas yang lain. Jembatannya lewat situ, makanya Ikhwanul Muslimin dilarang rezim militer di Mesir,” ungkapnya.

Abdi menyebutkan berbagai modus yang dilakukan kelompok radikal seperti Usroh, Liko, dan Tarbiyah. Ia mengungkapkan bahwa ada seorang mahasiswanya angkatan 2010 hingga saat ini sudah menjadi anggota ISIS.

“Saya pernah menemui anggota liko di luar kampus, saya minta pendapat tragedi bom Bali, ia malah bilang bahwa wajar saja, Islam memang terkait dengan darah, khitan, melahirkan, dan mati pasti berhubungan dengan darah. Ini kan terindikasi ke arah sana (radikal). Kenapa cara berpikir itu bisa ada di liko. Contoh mahasiswa saya angkatan 2010, selama di perkuliahan tak terlihat ke arah radikal namun 2-3 tahun kemudian jadi pendukung ISIS, saya lihat facebooknya, sampai sekarang masih. Di UI kan juga sempat gempar seorang mahasiswi siap jadi istri mujahidin,” ungkapnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini