Dugaan Dr Joseph A Kechichian tersebut terbukti. Selang setahun lalu, Sheikh Ahmad al-Ghamidi, pemimpin Komisi Kebajikan dan Pencegahan (Mutawa'in) berani tampil di sebuah stasiun televisi Saudi didampingi sang istri yang tidak mengenakan hijab. Bahkan terlihat jelas rambut dan kuku sang istri yang diwarnai merah.
Di bidang pendidikan, kerajaan Saudi mendirikan Abdullah University for Science and Technology (KAUST) medio September 2009. Saat itu, estimasi dana pembangunannya mencapai USD10 miliar atau sekira Rp100 triliun.
Selain dikenal sebagai pusat studi Iptek, kampus ini sarat terlihat ide reformasi ala Raja Abdullah. Tidak ada pembatasan interaksi antara mahasiswa dan mahasiswinya. Bahkan mahasiswi diperbolehkan memakai pakaian sopan, tanpa mewajibkan abaya dan hijab seperti kampus di Saudi lainnya.
Kata feodalisme mungkin telah menghilang dari pemikiran raja Abdullah. Selain beragam kebijakan tadi, ia juga ingin menggantikan komisi fatwa yang selalu menjadi rujukannya dengan sebuah lembaga pengadilan tinggi hukum formal. Alasannya, ia menginginkan sebuah standar penerapan hukum yang lebih akuntabel dan transparan.
Sebagai realisasinya, Raja Abdullah menyisihkan lebih dari jutaan miliar riyal dari anggaran kerajaan pada tahun 2011. Semuanya demi mewujudkan kondisi perekonomian warganya yang lebih baik. termasuk memberi uang kompensasi bagi para lulusan baru yang tengah mencari pekerjaan. Ia juga menaikkan gaji para pegawai kerajaan, tentara, pengajar, dan kalangan birokrat.