nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswa Asing Terhambat Visa Pelajar

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 27 Januari 2015 11:37 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 01 27 65 1097655 mahasiswa-asing-terhambat-visa-pelajar-PdZ31qstHm.jpg Prosedur perizinan visa pelajar yang berbelit-belit membuat banyak mahasiswa asing di Indonesia kesulitan. (Foto: shutterstock)

BANYAK kampus di Tanah Air menunjukkan kualitas sebagai perguruan tinggi berkelas dunia. Sayang, hal ini belum cukup untuk menjadi tujuan utama para mahasiswa mancanegara menempuh studi di Indonesia.

Salah satu penyebabnya, menurut mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmaloka, adalah berbelit-belitnya prosedur mendapatkan visa pendidikan. Padahal, jika pemerintah Indonesia menerbitkan visa pendidikan, tentu akan menarik lebih banyak mahasiswa luar negeri.

Kemudahan birokrasi di negara tujuan menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon mahasiswa asing. Akhmaloka menyatakan, sejak 10 tahun lalu ITB sudah menyurati Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kementerian Hukum dan HAM agar membuat visa pendidikan namun tidak ada jawaban hingga kini.

Menurut Akhmaloka, para mahasiswa asing yang umumnya memakai visa turis ini sering kerepotan karena harus bolak-balik memperpanjang izin tinggal mereka. Keluhan mereka bertambah jika harus membayar sejumlah pungutan liar saat mengurus izin tinggal tersebut.

"Kasihan sekali anak-anak itu. Kadang ada oknum yang minta duit ke mereka jika izinnya mau diurus cepat," kata Akhmaloka.

Dia menegaskan, Indonesia membutuhkan visa pendidikan jika tidak mau pasar mahasiswa asing diserap negara tetangga seperti Malaysia. Saat ini ada 100 ribu mahasiswa asing di Malaysia dengan dominasi pelajar China dan Indonesia. Padahal, dari sisi mutu, pendidikan tinggi di Indonesia jauh lebih baik daripada Malaysia. Di sisi lain, kedatangan banyak mahasiswa asing ke Tanah AIr akan menguntungkan karena mahasiswa Indonesia dapat belajar sikap, sifat dan beragam budaya dari mereka.

ITB sendiri, lanjut Akhmaloka, tidak berdiam diri walau surat permohonan visa pendidikan ke pemerintah itu tidak dibalas sampai sekarang. Kampus teknik tertua di Tanah Air ini gencar melakukan promosi ke luar negeri, misalnya mengikuti pameran pendidikan, mengisi ceramah dan melakukan rekrutmen mahasiswa asing di luar negeri.

"Di ITB ada yang namanya cross culture interaction. Kami ingin anak-anak ITB mengenal budaya lain dengan berinteraksi dengan mahasiswa asing," tuturnya.

Hasilnya, ada 500 mahasiswa asing dari 30 negara belajar di kampus yang berlokasi di Bandung. Mahasiswa Eropa Timur kebanyakan kuliah di jurusan teknik mesin dan kedirgantaraan. Mahasiswa dari 12 negara ASEAN mengambil studi di berbagai jurusan, dan mahasiswa dari Timur Tengah banyak kuliah di program studi teknik perminyakan dan farmasi.

Rektor Universitas Indonesia (UI) Muhammad Anis juga menyayangkan pemerintah Indonesia yang belum mengubah sistem izin tinggal bagi mahasiswa asing. Padahal, jika Indonesia ingin memperbanyak jumlah mahasiswa asing, maka visa pendidikan sangat diperlukan. Pasalnya, bagi mahasiswa asing, biaya kuliah di Indonesia menjadi lebih mahal gara-gara ongkos memperpanjang izin tinggal tersebut.

Saat ini di UI ada sekira 1.000 mahasiswa asing. Mayoritas dari mereka belajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, khususnya jurusan Bahasa Indonesia.

"Memang selama ini mahasiswa asing memakai visa kunjungan budaya. Lalu, setelah tiga bulan mengurus kitas. Kalau mahasiswa masih memakai kedua dokumen tersebut, ongkos mengurusnya itu yang mahal dibandingkan visa pendidikan yang jauh lebih murah," ungkapnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini