nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alasan Ujian Nasional Tak Lagi Tentukan Kelulusan

Rifa Nadia Nurfuadah, Jurnalis · Senin 09 Februari 2015 07:04 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 02 09 65 1103152 alasan-ujian-nasional-tak-lagi-tentukan-kelulusan-yPhl9ZQJQT.jpg Salah satu alasan pemerintah tidak lagi menjadikan UN sebagai penentu kelulusan karena UN membuat siswa belajar hanya untuk ujian. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA - Setiap tahun, Ujian Nasional (UN) menjadi hal yang menakutkan siswa di Indonesia. Pasalnya, ujian selama tiga hari justru menentukan kelulusan siswa selama tiga tahun studi.

Mulai tahun ini, pemerintah mengubah kebijakan tentang UN. Kini, UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan, melainkan hanya sebagai alat pemetaan pendidikan nasional.

Sesuai penjelasan tentang UN, seperti dikutip dari laman Kemendikbud, Senin (9/2/2015), seharusnya UN dapat mendorong siswa untuk belajar dan guru menuntaskan kompetensi. UN juga seyogiayanya menjadi standar kompetensi minimum nasional yang dapat dipakai sebagai acuan antarprovinsi dan menjadi pemersatu bangsa. Keberadaan UN juga seharusnya menjadi ukuran capaian kompetensi pendidikan yang dapat dipakai antarnegara.

Namun, kenyataannya, UN justru mendorong perilaku negatif kecurangan. Selain itu, kegiatan belajar mengajar juga hanya diorientasikan sebagai media menuju ujian. Akibatnya, siswa pun menjadi korban, mengalami berbagai tekanan.

Di sisi lain, pembelajaran di kelas menjadi tidak tuntas. Indonesia pun kekurangan standardized tests dan tes yang diujikan berisiko tinggi.

Karena itulah, pemerintah melalui kebijakan baru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, memperbaiki mutu pendidikan melalui berbagai alat pengukuran dan bukan hanya UN. Selanjutnya, pemerintah juga memberikan otonomi pada sekolah dalam menentukan kelulusan siswa seraya mengurangi tekanan yang tidak perlu. Di saat yang sama, pemerintah juga memperbaiki sistem penilaian yang lebih bermakna.

Sementara itu, skema baru UN sebagai pemetaan mewajibkan siswa mengambil tes ini minimal satu kali. Pelaksanaannya pun dijadwalkan lebih awal untuk memberi waktu perbaikan opsional bagi siswa yang capaiannya kurang. Skema ini dipercaya dapat mendorong pembelajaran dan integritas.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini