Mengajar Tanpa Pamrih di Perbatasan RI-Malaysia

ant, · Kamis 19 Februari 2015 15:57 WIB
https: img.okezone.com content 2015 02 19 65 1107991 mengajar-tanpa-pamrih-di-perbatasan-ri-malaysia-OCB9mfkNqz.jpg Banyak warga Indonesia mengabdikan diri sebagai guru di wilayah perbatasan RI dengan Malaysia tanpa pamrih. (Foto: dok. Okezone)

NUNUKAN - Sejumlah warga perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mengabdikan diri menjadi tenaga guru tanpa mengharapkan pamrih dari pemerintah. Salah satu di antaranya adalah Suraidah.

Warga Desa Sei Limau Kecamatan Sebatik Tengah Kabupaten Nunukan ini bercerita, dia memutuskan untuk mengajar pada sebuah sekolah swasta karena prihatin pada anak-anak di wilayahnya yang belum mengenyam pendidikan. Kebanyakan orangtua anak-anak tersebut bekerja sebagai tenaga kerja di perusahaan perkebunan di Malaysia.

Selama mengabdikan diri di sekolah itu, Suraidah mengaku belum pernah mendapatkan imbalan atas tenaga dan waktunya yang ditumpahkan demi mencerdaskan anak-anak tersebut.

Potret guru honor yang berstatus ibu rumah tangga ini patut mendapatkan acungan jempol karena mengabdikan diri dengan tulus ikhlas tanpa ingin mendapatkan pujian dan imbalan dari pemerintah. Bersama tiga temannya, Suraidah memaparkan suka duka mengajar anak-anak perbatasan yang jauh dari hiruk pikuk kota.

"Fasilitas sekolah sangat terbatas. Bahkan kami terpaksa menggunakan kolong rumah warga sebagai ruang belajar," kata Suraidah.

Menurut Suraidah, sekolah tempatnya mengajar berada di bawah naungan Yayasan Ar-Rasyid Cabang Perbatasan yang terletak di Jalan Asnur Gaeng Pasau RT 12 Dese Sei Limau Kecamatan Sebatik Tengah. Sekolah tersebut saat ini membina 60 murid yang terdiri dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD), SD dan SMP.

Suraidah harus pintar membagi waktu. Dia mengajar 20 siswa-siswi PAUD pada pagi hari dan sore hari dipakai untuk mengajar 40 pelajar SD dan SMP.

Wakil Ketua DPRD Nunukan, Nursan, mengaku sangat miris dan prihatin dengan kondisi pendidikan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan, khususnya di Pulau Sebatik tersebut.

"Pemerintah seyogianya mengetahui bahwa masih ada sekolah yang belajar di bawah kolong rumah dengan tenaga pengajar yang tidak diberikan kesejahteraan. Mereka benar-benar tulus ikhlas mengabdikan diri demi mencerdaskan anak-anak di wilayah perbatasan," tutur Nursan.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini