nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejumlah Akademisi Tentang Hukuman Mati

Ahmad Zubaidi, Jurnalis · Sabtu 07 Maret 2015 17:08 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 03 07 337 1115187 sejumlah-akademisi-tentang-hukuman-mati-tLO24JNsvP.jpg

JAKARTA - Sejumlah akademisi dari perguruan tinggi di Indonesia menghadiri acara diskusi publik yang diselenggarakan oleh KontraS dengan tema Akademisi Menolak Hukuman Mati di Anomali Kafe, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2015).

Turut hadir dalam kesempatan itu akademisi UNJ Robertus Robert, akademisi UI Prof. Sulistyowati Irianto, akademisi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Beni Juliawan, dan beberapa akademisi lain.

Koordinator KontraS Haris Azhar dalam pembukaan acara tersebut mengatakan bahwa hukuman mati belum menjadi satu kepedulian dari pemerintah. "Saya pikir Pemerintah miskin ide terkait hukuman mati itu, oleh karena itu saya mengundang para akademisi untuk memberikan tanggapannya terkait hukuman mati itu," tuturnya kepada para audiens.

Dalam kesempatan itu, Robertus Robert memaparkan bahwa Pemerintah Indonesia keliru menerapkan hukuman mati. "Ada mekanisme keliru yang dilakukan oleh pemerintah dalam menerapkan hukuman mati, saat hukuman mati banyak ditinggalkan oleh negara lain, Indonesia justru menerapkan hukuman tersebut, saya rasa Pemerintah tidak kreatif dalam hal itu," jelasnya.

"Kedaulatan hukum itu tidak identik dengan penerapan hukuman mati yang begitu keji, banyak alternatif jenis hukuman untuk memaksimalkan efek jera bagi terpidana," lanjut Robert

Selanjutnya Beni Juliawan juga menjelaskan fakta bahwa acuan hukuman mati yang diterapkan pemerintah Indonesia adalah hasil survei beberapa lembaga yang hasilnya tidak kredibel. "Salah satu yang menjadi landasan hukuman mati adalah hasil survei beberapa lembaga, coba saja perhatikan, itu bukan angka faktual, tapi hanya proyeksi saja, itu tidak bisa dijadikan dasar hukuman mati," tuturnya.

Beni juga memaparkan bahwa survei itu dilakukan di 17 Propinsi, tapi dalam laporan ada lompatan jumlah titik survei menjadi 33 Propinsi. "Saya merasa aneh saja dengan fakta itu," lanjutnya.

Menurut Prof. Sulistyowati Irianto, penerapan hukuman mati banyak sekali kelemahannya, banyak fakta-fakta persidangan yang diabaikan oleh hakim, sehingga hukuman mati yang diterapkan jadi cacat.

"Rasa-rasanya jika kita melihat seorang pengguna narkoba dihukum mati kita merasa puas, namun kita ini sama-sama manusia, lebih baik kita pertimbangkan hak hidup seseorang, jika itu (hukuman mati) diterapkan, maka kita telah mewariskan budaya balas dendam pada generasi penerus kita," kata Sulis.

Sulis menambahkan hukuman mati yang diterapkan di Indonesia belum mampu memaksimalkan efek jera bagi terpidananya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini