nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahalnya Berlayar Menuju Pulau Nusakambangan

Mustholih, Jurnalis · Senin 09 Maret 2015 12:58 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 03 09 340 1115731 mahalnya-berlayar-menuju-pulau-nusakambangan-piEwpiCJ6S.jpg Mahalnya berlayar menuju Pulau Nusakambangan (Foto: Mustholih /Okezone)

CILACAP - Beberapa hari ini mata dunia internasional tertuju ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Mereka menunggu apakah Pemerintah Indonesia benar-benar melakukan eksekusi terhadap sejumlah terpidana mati kasus narkotika kelas kakap atau membatalkannya.

Para terpidana mati yang menunggu dieksekusi, antara lain, duo Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran; Rodrigo Gularte asal Brasil; dan Serge Areski Atlaui dari Prancis. Zainal Abidin yang menjadi satu-satunya warga pribumi yang bakal turut dieksekusi mati.

Nusakambangan begitu menyita banyak perhatian dari media nasional dan internasional. Alhasil, pulau yang sebenarnya banyak menyimpan pemandangan indah alam dan potensi wisata menarik ini menjadi tertutup dengan keangkeran eksekusi mati.

Berawal rasa penasaran dengan isi Pulau Nusakambangan, Okezone dan empat wartawan media nasional yang sedang meliput soal berita eksekusi terpidana mati kasus narkoba coba menyeberang ke sana, Minggu 8 Maret 2015.

Namun, dikarenakan akses dari Dermaga Wijayapura sebagai pintu masuk dan keluar Nusakambangan belakangan tertutup bagi masyarakat luar, Okezone menyeberang ke Nusakambangan melalui pantai wisata Teluk Penyu, Cilacap.

Sebelumnya, Okezone dan empat wartawan lain sudah bersepakat untuk saling menanggung biaya perjalanan bersama alias kolekan demi menuju Nusakambangan. Butuh kocek yang cukup tebal agar bisa sampai Nusakambangan, ternyata. Belum juga masuk ke Pantai Teluk Penyu, uang Rp20 ribu sudah melayang sebagai pengganti tiket masuk untuk satu rombongan yang berisi lima orang.

Sampai di Teluk Penyu, sudah menunggu puluhan orang yang siap memberi jasa angkut bagi pengunjung yang ingin masuk ke Nusakambangan dengan perahu sampan bermesin diesel. Jarak dari Teluk Penyu menuju Nusakambangan bisa ditempuh dalam 10 menit.

Namun agar bisa turun ke Pasir Putih dan kembali ke Teluk Penyu, butuh kocek Rp200 ribu rombongan yang berisi lima orang atau Rp25 ribu per kepala. Setelah memilih salah satu juru sewa perahu, kita menyeberang ke Nusakambangan dan turun di Pantai Pasir Putih.

Sebelumnya, kita dibawa melihat-lihat dari dekat sebuah bongkahan karang besar nan eksotis yang berlubang yang di tengahnya dan disebut Karang Bolong.

Begitu turun di Pasir Putih, seketika kita disuguhi hamparan batu karang yang terpahat secara alami akibat gerusan-gerusan ombak. Beberapa langkah saja dari bibir pantai, menjulang hutan berbukit yang melintang dari ujung ke ujung Pulau Nusakambangan.

Dari Pasir Putih, kita bisa langsung menuju sebuah benteng buatan Portugis yang ada di dalam hutan. Namun, begitu kita hendak masuk menuju ke sana, sebuah pos yang terbuat dari anyaman mambu menghadang sedemikian rupa membentuk loket.

Di sini, setiap pengunjung harus merogoh kocek Rp5 ribu agar diperbolehkan penjaga menjelajah hutan. Sebenarnya, menuju Benteng Portugis di tengah hutan bisa ditempuh dengan kaki. Namun karena medan yang cukup berat jarak tempuh cukup panjang, bagi pengunjung yang malas atau merasa lelah bisa naik odong-odong sebagai sarana transportasi menuju Benteng. Setiap orang dipungut Rp10 ribu untuk bisa naik sekaligus turun dari hutan.

Okezone sempat masuk ke Nusakambangan, tapi berhubung waktu sudah menjelang sore, daya jelajah yang bisa ditempuh menjadi begitu sempit. Begitu turun di Pasir Putih, Okezone langsung membelah hutan Nusakambangan menuju Benteng Portugis.

(crl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini