nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terancam Gagal Ikut UN karena Tak Punya Seragam

Salman Mardira, Jurnalis · Rabu 11 Maret 2015 18:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 03 11 65 1117027 terancam-gagal-ikut-un-karena-tak-punya-seragam-EuJtzk8vqZ.jpg Karena tidak punya seragam, 28 pelajar SMP dan SMA di Aceh terancam gagal mengikuti Ujian Nasional tahun ini. (Foto: dok. Okezone)

BANDA ACEH – Siswa yang tersandung masalah hukum atau siswi sedang hamil punya hak sama dalam mengikuti ujian nasional (UN). Tetapi, 28 pelajar SMA dan SMP di Aceh ini justru terancam gagal ikut UN karena tidak memiliki seragam.

Tahun ini, seharusnya 28 siswa angkatan pertama SMP dan SMA Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Aceh (Yakesma) Kahju, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, menjadi peserta UN. Tetapi karena belum memiliki izin operasional dan nomor induk sekolah dari pemkab setempat, sekolah yang beroperasi pada 2012 tersebut tidak bisa menggelar UN mandiri. Mereka harus bergabung dengan sekolah terdekat lainnya yakni SMA 1 Baitussalam dan SMP PKPU di Neuhen.

Kendala lain, para siswa harus menyesuaikan seragam yakni putih abu-abu untuk SMA, dan putih biru untuk SMP. Sementara sekolah Yakesma yang menampung anak kurang mampu serta yatim korban tsunami dan konflik ini mengenakan seragam atasan biru dan celana/rok batik.

Ketua Yakesma Alfiantunnur menjelaskan, saat ini yayasannya sedang mengalami kesulitan finansial. Kebutuhan untuk membeli seragam siswa hanya untuk UN pun dirasa berat.

"Jika biaya seragam dibebankan kepada orangtua atau wali siswa tentu memberatkan karena siswa-siswa di sana bukanlah anak mampu. Ini sekarang yang lagi kami cari solusi," ujar Alfiantunnur kepada Okezone, Rabu (11/3/2015).

Saat ini Yakesma menggerakkan para relawan untuk mengumpulkan sumbangan seragam SMA maupun SMP. Dengan begitu, para siswa dapat mengikuti UN pada 13-15 April untuk SMA/sederajat dan 4-7 Mei untuk SMP/sederajat.

Alfiantunnur menjelaskan, tahun ini ada 10 siswa SMA dan 18 pelajar SMP yang akan mengikuti UN. Yakesma sendiri didirikan usai tsunami melanda Aceh serta menampung anak-anak kurang mampu, yatim korban tsunami maupun konflik.

Menurut Alfiantunnur, sebelumnya yayasan hidup dari dana donator. Namun, para pendonor mulai menghentikan donasi dengan salah satu penyebabnya adalah sekolah ini belum memiliki nomor induk dari pemkab.

"Agar proses pendidikan dan penampungan terhadap 48 siswa di sana tetap berlangsung, Yakesma kini hanya mengandalkan zakat, sumbangan-sumbangan dermawan serta bantuan volunter," imbuhnya.

Soal izin, kata Alfiantunnur, pihaknya sudah mengurus ke Dinas Pendidikan Aceh Besar sejak dari pertama sekolah berdiri. Namun ketika semua berkas sudah dipenuhi, belakangan terjadi pergantian bupati serta jajaran kabinetnya di kabupaten tersebut.

"(Permohonan izin) yang lama kami ajukan itu dinyatakan tidak berlaku lagi. Kami harus buat yang baru, harus dari nol lagi, harus keluarin banyak uang lagi," katanya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini