Dominasi Kampus Jepang Dihadang China

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Jum'at 13 Maret 2015 19:09 WIB
https: img.okezone.com content 2015 03 13 65 1118293 dominasi-kampus-jepang-dihadang-china-ETGJM5UXmZ.jpg Dominasi kampus Jepang di taraf global dihadang kebangkitan kampus China. (Foto: shutterstock)

DALAM beberapa tahun terakhir, puluhan perguruan tinggi Jepang mulai menunjukkan dominasi di tataran global. Namun keberadaan mereka terancam oleh kampus-kampus China yang juga kian bersinar.

Salah satu buktinya, ada 20 kampus Jepang masuk dalam daftar 100 kampus Asia terbaik di dunia versi Times Higher Education (THE) 2014. Sementara itu, China menempatkan 18 perguruan tinggi dan enam kampus lainnya dari wilayah khusus China, Hong Kong.

Dikutip dari laman THE, Jumat (13/3/2015), posisi Jepang terancam karena negara lain seperti China lebih gencar dalam berpromosi dan berinvestasi dalam bidang pendidikan tinggi. Menurut ekonom pendidikan Jamil Salmi, perguruan-perguruan tinggi Jepang tidak cukup lapar. Kampus Jepang, kata Salmi, umumnya puas dan nyaman dengan situasi saat ini.

Salmi meilai, institusi top di Jepang masih menunjukkan performa baik, begitu juga dengan kampus menengah. Tetapi, Jepang nampaknya tidak menyadari persaingan sudah meningkat dan lebih berbahaya sehingga tidak heran ada beberapa kampus yang tersingkir.

"Sementara itu, negara Asia lainnya justru sebaliknya. China, Singapura dan Arab Saudi, misalnya, terdorong dan bekerja keras meningkatkan hasil mereka," tutur Salmi.

Menurut Salmi, Jepang terhambat dengan kelemahan struktural. Masalahnya terletak pada pemerintahan.

"Seleksi kepemimpinan di kampus yang masih menggunakan sistem pemilihan demokratis membuat kampus Jepang cenderung ajeg dan tidak berpikir untuk melakukan perubahan radikal," imbuhnya.

Kini berkembang pemahaman bahwa tradisi dominasi Jepang dalam pendidikan tinggi di Asia saja tidak cukup. Fokus perhatian adalah pada minimnya pendanaan.

Rektor University of Tokyo, Junichi Hamada, mengaku, dengan kemampuan finansial dan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki China, mereka pun akan menjadi ancaman besar. "Jika melihat 10 tahun yang akan datang, bisa jadi China mengungguli Jepang dalam beberapa area spesifik. Tetapi itu masih butuh waktu," tutur Hamada.

Investasi besar-besaran yang dilakukan berbagai negara Asia dalam pendidikan tinggi tidak terlihat di Jepang. Hamada menyebut, saat ini kampus Jepang sedang "terikat dan mengalami kesulitan". Kondisi ini, ujar Hamada, mulai memberikan dampak negatif pada riset mereka. Sebagai tambahan, kampus negeri di Jepang juga memberikan gaji yang tidak kompetitif sehingga membuat mereka sulit menarik bakat global.

"Kesan saya sekarang adalah, kenyataan fiskal di universitas tidak sesuai dengan kompetisi di tingkat dunia. Kekurangan dalam bidang finansial kami coba tutupi dengan upaya intelektual," papar Hamada.

Hamada menyadari, pihaknya tidak bisa hanya mengandalkan repitasi sebagai kampus unggulan di Jepang selama ratusan tahun. Menurutnya, University of Tokyo harus menyadari dan merespons "ancaman" dari kampus-kampus Asia lain.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini