nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Krisis Krimea 2014, Rusia Sempat Ancam Tembakkan Nuklir

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 16 Maret 2015 08:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 03 16 18 1119087 krisis-krimea-2014-rusia-sempat-ancam-tembakkan-nuklir-JeHbPAL0IX.jpg Rusia telah mempersiapkan penggunaan nuklir pada krisis Krimea, bagaimana dengan krisis Ukraina ini? (Foto : Reuters)

MOSKOW - Rusia telah mempersiapkan senjata nuklirnya dan tidak segan-segan untuk menggunakannya dalam jika diperlukan dalam situasi krisis. Hal itu dijelaskan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah wawancara di sebuah program televisi untuk memperingati satu tahun aneksasi Rusia atas Krimea yang disiarkan stasiun televisi Rosiya One, pada Minggu 15 Maret malam.

Dalam wawancara tersebut, Putin menuduh Amerika Serikat (AS) sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam kudeta yang menjatuhkan mantan Presiden Ukraina Viktor Yanukovich dari tampuk kekuasaan Februari 2014.

Presiden Rusia itu menganggap pihak Washington, berusaha meyakinkan dunia bahwa pergantian kekuasaan di Ukraina adalah sesuatu yang didukung oleh negara-negara Eropa. Dia juga menuding AS merancang dan mendorong terjadinya krisis di Ukraina.

“Mereka membantu melatih pasukan nasionalis, mempersenjatai kelompok-kelompok di Ukraina Barat, di Polandia, dan di Lituania. Mereka membantu terjadinya kudeta tersebut,” demikian terjemahan wawancara yang dikutip The Independent, Senin (16/3/2015).

Putin juga mengakui Rusia telah siap untuk menggunakan senjata nuklirnya dalam krisis Krimea tahun lalu. “Kami telah siap untuk melakukannya (menggunakan senjata nuklir), dilihat dari sejarah (Krimea) adalah wilayah kami, warga Rusia tinggal di sana, mereka berada dalam bahaya. Kita tidak bisa menelantarkan mereka,” kata Putin.

Program televisi itu memberikan banyak informasi mengenai pandangan-pandangan sang Presiden Rusia saat memutuskan untuk menganeksasi Krimea tahun lalu. Putin mengakui keterlibatan pasukan Rusia dalam proses terjadinya referendum, dan beberapa informasi mengenai kudeta Presiden Viktor Yanukovich, yang menurutnya menjadi target rencana pembunuhan pada kudeta 2014.

Sampai saat ini, Presiden Putin masih belum diketahui keberadaannya, dia telah menghilang dari sorotan publik sejak 5 Maret lalu. Pria 62 tahun ini telah membatalkan beberapa pertemuan penting dengan kepala-kepala negara dan pejabat tinggi Rusia.

Juru bicara Kremlin telah berulang kali menepiskan rumor mengenai alasan sang presiden menghilang. Hari ini pemimpin Rusia itu dijadwalkan bertemu dengan Presiden Kirgiztan Almazbek Atambayev di St. Petersburg yang mungkin akan menjadi kemunculan perdananya sejak 10 hari ini.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini