Wayang & Dongeng Indonesia Menarik Minat Remaja Tiongkok

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Rabu 25 Maret 2015 17:08 WIB
https: img.okezone.com content 2015 03 25 65 1124140 wayang-dongeng-indonesia-menarik-minat-remaja-tiongkok-TI3XhJX5v7.jpg Mahasiswi Unsoed Deninda Firmanda Putri memperkenalkan Indonesia ke anak-anak dan remaja Tiongkok melalui wayang, tari saman dan dongeng Tanah Air. (Foto: dok. Unsoed)

JAKARTA - Wayang, tari saman dan berbagai dongeng Indonesia mampu menarik minat anak-anak dan remaja Tiongkok untuk mengenal Indonesia lebih dekat. Setidaknya, itulah pengalaman Deninda Firmanda Putri selama menjalani Exchange Program dari AIESEC proyek Dare to Dream di Tiongkok.

Pekan pertama Denin di Negeri Tirai Bambu tersebut diisi dengan acara Global Village. Pada kegiatan ini, Denin dan relawan dari berbagai negara peserta AIESEC-Dare to Dream menampilkan kekhasan negara masing-masing. Delegasi Indonesia, kata Denin, mengenakan batik saat presentasi.

"Saya memperkenalkan wayang yang saya bawa dari Indonesia dan mereka sangat tertarik untuk memainkannya. Suasana juga begitu meriah ketika saya menyanyikan lagu-lagu daerah dari Indonesia hingga membuat anak-anak murid saya sangat ingin segera datang ke Indonesia," papar Denin, seperti dinukil dari laman Unsoed, Rabu (25/3/2015).

Selama sebulan di Tiongkok, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) ini juga mengajar di sekolah setempat. Denin mengajar bahasa Inggris di Xi’an Music and Dance School di kota Xi’an, Provinsi Shaanxi.

Salah satu metode mengajar yang digunakan Denin adalah mendongeng alias story telling. Dia kerap menceritakan berbagai dongeng asli Indonesia seperti kisah ‘Kancil dan Buaya’ serta ‘Bawang Merah dan Bawang Putih’. Saat mendongeng, Denin juga mengajak siswanya membuat prakarya.

"Misalnya, membuat buaya dari dus bekas makanan ringan serta membuat hidung, telinga, dan tanduk rusa sebagai pengganti kancil," jelasnya.

Menurut Denin, dengan mengikuti AIESEC-Dare to Dream, dia dapat mengenal Tiongkok dan mendapat banyak teman dari berbagai negara. Program ini, kata Denin, memiliki tujuan utama melatih kepemimpinan kaum muda dan membuat mereka membangun jembatan budaya antarbangsa.

"Selama menjalani program ini, saya merasa semakin memahami bahwa perbedaan berbagai bangsa dan budaya memiliki bahasa yang dapat menyatukan semuanya yaitu saling menghormati, menghargai, dan mencintai sesama manusia," imbuh Denin.

Dia mengaku kerasan meski cuaca di Xi'an tidak bersahabat. Saat dingin, suhu udara bisa mencapai minus 30 derajat hingga minus 50 derajat celsius.

Saat tiba waktunya pulang ke Tanah Air Denin pun merasa sedih karena banyak kenangan dan pengalaman yang mendewasakannya selama menjalani program. Denin bercerita, sebagai tanda perpisahan, banyak muridnya memberikan surat dan berbagai karya buatan tangan hingga gelang ‘jimat’ keberuntungan dan kebahagiaan.

"Walau saya berperan sebagai guru, namun saya juga belajar banyak dari mereka, semangat mereka yang tinggi, kedisiplinan dan ketekunan yang tinggi, serta kemandirian benar-benar menjadi sebuah pembelajaran bagi saya," ujar Denin.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini