nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pekerja Seks Juga Aksi May Day, Tuntut Payung Hukum

Salviah Ika Padmasari, Jurnalis · Jum'at 01 Mei 2015 18:58 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 05 01 340 1143312 pekerja-seks-juga-aksi-may-day-tuntut-payung-hukum-mxOfDFVkVr.jpg Andri alias Memei

MAKASSAR - Bukan hanya pekerja pabrik, juru parkir, mahasiswa, aktifis NGO, pekerja seks juga turun ke jalan memperingati May Day di fly over Makassar, Jumat, (1/5/2015). Mereka mengaku sebagai pekerja profesional dan butuh payung hukum.

Andri alias Memei (30), koordinator Divisi Organisasi dan Pendidikan dari lembaga yang mewadahi pekerja seks, Global Inklusi Perlindungan AIDS Makassar, ikut berorasi di atas panggung May Day Parade. Dalam orasinya, Andri alias Memei menyampaikan, pekerja seks adalah pekerja profesional. Tenaganya dibutuhkan di perusahaan-perusahaan Tempat Hiburan Malam (THM) seperti yang banyak beroperasi di Jalan Nusantara, Makassar.

"Pekerja seks adalah pekerjaan profesional oleh karenanya kita menuntut pekerja seks harus diperlakukan profesional. Tidak boleh ada perlakuan eksploitatif dan diskriminatif," kata Andri alias Memei.

Pelayanan kesehatan, kata Memei, harus diadakan karena itu adalah hak bagi semua pekerja profesional termasuk pekerja seks. Jangan ketika kita diketahui terdeteksi terinveksi HIV/AIDS, pemecatan sebagai jalan keluar yang dilakukan perusahaan. "Semua ini butuh payung hukum untuk melindungi pekerja seks," serunya.

Mewakili 40 orang rekannya sesama pekerja seks baik pekerja seks perempuan, waria dan pekerja seks laki-laki, Memei menyesalkan aktifis-aktifis organisasi yang mengatasnamakan agama kerap menjadikan mereka sebagai bulan-bulanan. "Jangan karena alasan norma agama, kami mendapat perlakukan kekerasan. Padahal urusan moral adalah urusan masing-masing orang dengan Tuhannya," kata Memei.

Menurutnya, mereka bukan mau melegalkan prostitusi tetapi soal pekerja seks ini harus dipandang dari sisi kemanusiaannya. Pasalnya, pekerja seks juga turut memberikan kontribusi bagi negara melalui pajak penghasilan yang ditarik dari masing-masing perusahaan tempat pekerja seks bekerja. "Penghasilan rata-rata pekerja seks Rp2 juta per bulan. Itu penghasilan bersih setelah dipotong pajak dan lain-lain," jelas Andri alias Memei.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini