nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mataram Lahir di Bawah Beringin Kotagede

Selasa 12 Mei 2015 17:56 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 05 12 340 1148726 mataram-lahir-di-bawah-beringin-kotagede-VZdKxy1BQ8.jpg Masjid Agung Kotagede (Foto: Harianjogja.com)

YOGYAKARTA - Keraton Kotagede merupakan bagian Kerajaan Mataram Islam yang memiliki sejarah panjang dan pengaruh hingga berabad-abad kemudian. Bahkan keberadaannya masih melekat dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta masa kini.

Kemunculan Keraton Kotagede berawal dari tanah perdikan di Mentaok (Mataram) yang diberikan kepada Ki Ageng Pamanahan oleh Sultan Hadiwijoyo, Sultan Pajang. Tanah perdikan atau sima merupakan sebidang tanah yang diberikan kepada orang yang berjasa kepada raja yang berkuasa. Ketika itu Ki Ageng Pamanahan berhasil menumpas Arya Penangsang, yang sebelumnya membunuh Sunan Prawoto, penguasa terakhir Kerajaan Demak pada 1549.

“Kerajaan Mataram Islam yang berlokasi di Kotagede muncul seiring dengan runtuhnya Kerajaan Pajang,” tutur Johannes Marbun, budayawan dari Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) belum lama ini.

Panembahan Senopati, putra dari Ki Ageng Pamanahan, membangun peradaban di atas tanah perdikan seluas 200 hektare pada 1577. Dikisahkan, ketika tiba di kawasan ini yang dicari pertama oleh Ki Ageng Pemanahan adalah sebuah pohon beringin yang telah ditanam oleh Sunan Kali Jogo. Dan akhirnya pohon itu ditemukan. Kemudian didirikanlah rumah di sebelah selatan beringin untuk Ki Ageng Pemanahan. Dan bangunan inilah yang kemudian dikembangkan hingga akhirnya menjadi Keraton Kotagede.

Tidak hanya pusat ekonomi masyarakat berupa Pasar Kotagede, institusi yang dibangun juga berwujud lembaga keagamaan yang hingga saat ini masih dapat dilihat dalam bentuk Masjid Agung Kotagede. Pemilik nama kecil Raden Mas Danang Sutowijoyo itu pun menjadi Raja Pertama Kerajaan Mataram Islam.

Keraton ini memiliki struktur tata kota gabungan Hindu dan Islam. Bentuk bangunan dan gapura jelas terlihat merupakan ciri Hindu. Tetapi seperti halnya Demak dan Pajang, masjid menjadi bagian penting dari Keraton.

Sejumlah peninggalan bersejarah juga masih terlihat jelas. Salah satunya Watu Gilang yang berada di dekat Makam Hastorenggo. Konon, batu ini digunakan untuk membenturkan kepala Ki Ageng Mangir, sosok yang tidak mau mengakui Mataram namun akhirnya menjadi menantu Panembahan Senopati.

Panembahan Senopati menjebak Ki Ageng Mangir dengan menggunakan Pembayun, putrinya yang menyamar sebagai penari ledhek. Mangir pun jatuh cinta dan menikahi penari itu dan baru tahu setelahnya bahwa dia putri Senopati. Mau tidak mau akhirnya Mangir pun menghadap mertuanya. Saat menghadap Panembahan Senopati itulah kepalanya dibenturkan hingga mati. Separuh tubuhnya dimakamkan di dalam kompleks istana, sedang lainnya di luar kompleks. Hal ini sebagai simbol keluarga atau menantu raja sekaligus musuh karena memberontak.

Johannes menyayangkan pelestarian warisan budaya hanya sebatas memelihara benda bersejarah tanpa diikuti pemeliharaan nilai-nilainya.

“Persoalannya, tidak semua orang tahu nilai sejarah dan makna yang terkandung di dalamnya dan ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah,” terangnya.

Yang pasti, dari sebuah bangunan kecil di bawah beringin Kotagede, Mataram lahir. Berkembang menjadi salah satu kekuatan besar di Jawa.

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini