Mendidik Anak dengan Alam & Permainan Tradisional

Kamis 04 Juni 2015 09:24 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 04 65 1159919 mendidik-anak-dengan-alam-permainan-tradisional-CAa8Ewi9Ek.jpg Congklak salah satu permainan tradisional yang mulai dilupakan (foto: Okezone)

PURWAKARTA – Pendidikan anak usia dini (PAUD) di perdesaan harus sudah diarahkan tidak hanya pada perkembangan teknologi. Pembenahannya adalah dengan sistem pendidikan mentoring dari guru PAUD kepada orangtua yang bersifat tradisional untuk diterapkan ke anak.

Pernyataan ini disampaikan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat membuka kegiatan seminar ‘Kaulinan Budak bagi Guru PAUD’ yang dihadiri seluruh guru di Purwakarta. Acara ini digelar Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Disdikpora Purwakarta.

"Alam pedesaan itu, sawah, kebun adalah pendidikan bagi anak usia dini. Membawa anak ke sawah itu pendidikan usia dini. Mendidik anak tidak selalu, anak desa dikumpulkan di satu bangunan terus dibuatkan permainan yang mekanik,” ujar Dedi dihadapan 400 peserta, Kamis 4 Juni 2015.

Dedi menilai PAUD harus lebih banyak mengajarkan permainan tradisional. Sebab, permainan tradisional sebenarnya mengajarkan sikap anak berpikir kreatif dan produktif. Hal ini, menurutnya, untuk mengikis sifat konsumsif yang semakin mengkhawatirkan.

Menurut Dedi, PAUD yang saat ini diterapkan para guru berupa pembelajaran di kelas, lebih cocok diterapkan di tempat pabrik dan perkantoran. Ini agar anak balita dari orangtuanya yang bekerja di pabrik atau perkantoran, posisinya dapat digantikan oleh guru PAUD dalam kesehariannya belajar dan bermain.

"Mereka (wanita karier) yang bekerja kan susah ketemu anaknya. Makanya dibutuhkan guru khusus pengganti ibunya dalam memberikan keahlian pembelajaran dan permainan,” ujarnya.

Ke depan Dedi menginginkan PAUD yang masuk perdesaan adalah berupa mentoring guru-guru PAUD kepada orangtua si anak agar bisa mengajarkan lagi kepada anak-anaknya.

Justru, menurutnya, ini harus sudah terintegrasi dengan kinerja kementerian keagamaan. Setiap orang yang menikah harus diberikan duhulu mentoring dan pemahaman mengelola rumah tangga dan memberikan pembelajaran keilmuan dan permainan kelak kepada anak-anaknya.

"Jadi ini penting agar mereka yang menikah dan berumah tangga sudah siap lahir-batin mengurus rumah tangga keluarga dan anak-anaknya,” jelas Dedi.

2.300 Jenis Permainan

Pengamat permainan anak, Zaini Alif, mengaku prihatin saat ini banyak anak tidak lagi mengetahui permainan tradisional yang menyimpan falsafah dalam kehidupan.

Zaini mencontohkan permainan sederhana seperti ‘Sur Ser’ yang jika dipraktikkan adalah menggeser dan menepuk paha menggunakan kedua tangan secara bergantian, sebenarnya itu untuk mengasah otak kiri dan otak kanan.

"Masih banyak permainan lain. Ada congklak, itu sebenarnya mengajarkan cara menabung, menyimpan harta kita. Ini kan penting,” jelasnya.

Zaini menyebutkan, terdapat hampir sebanyak 2.300 lebih jenis permainan yang ada di dunia ini. Namun memang sebagian besar hampir sama jika dipraktikkan, termasuk adanya permainan yang hanya beda nama antara satu dengan daerah lain, termasuk antara satu negara dengan negara lainnya.

(MSR)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini