Jelang Ramadan, Makam Soeharto Ramai Diziarahi Warga

Bramantyo, Okezone · Senin 08 Juni 2015 18:58 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 08 512 1162147 jelang-ramadan-makam-soeharto-ramai-diziarahi-warga-4oTWCfkjh5.jpg Astana Giri Bangun ramai dikunjungi warga, Minggu (7/6/2015). (Foto: Bramantyo)

KARANGANYAR - Meski sudah lama wafat namun almarhum mantan Presiden Soeharto masih lekat di benak kolega dan warga Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari ramainya warga yang berziarah ke makam keluarga Presiden Soeharto di Astana Giri Bangun, Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Terlebih beberapa hari terakhir. Selain berziarah, mereka datang dalam rangka memperingati hari kelahiran Presiden kedua Indonesia.

Ziarah yang dilakukan warga pada peringatan hari kelahiran Soeharto menjadi terasa sangat istimewa karena bertepatan dengan kedatangan bulan suci Ramadan. Meski Ndalem Kalitan, di astana makam Giribangun tidak menggelar haul Pak Harto. Namun, Berdasarkan pantauan Okezone, Minggu (7/6/2015), makam mantan penguasa orde baru ini ramai dikunjungi masyarakat. Mereka datang berduyun-duyun mengunjungi area komplek makam keluarga karena sudah menjadi tradisi bahwa makan Pak Harto akan ditutup untuk umum sementara waktu, selama bulan Ramadan.

Penutupan makan dari kunjungan masyarakat umum merupakan tradisi kebijakan yang dikeluarkan pihak keluarga dalam menyambut bulan Ramadan. Makam akan kembali dibuka untuk umum setelah bulan Ramadan atau saat Idul Fitri nanti.

Ditemui Okezone di Astana Giribangun, penanggungjawab pengelola komplek makam keluarga Cendana, Sukirno, mengatakan khusus hari Ruwah (jelang Ramadhan) selalu dimanfaatkan putra-putri, dan juga keluarga besar mendiang Soeharto untuk berziarah ke makam leluhurnya.

Ia menuturkan, bila beberapa hari lalu, Sabtu 6 Juni 2015, dua putri almarhum Pak Harto dan Ibu Tien, Siti Hediati Hariyadi atau Mbak Titik dan Siti Hutami Endang Adiningsih atau biasa disapa Mbak Mamik sudah berziarah ke makam kedua orangtuannya. Sebelum kedua putri almarhum, kedua putra Pak Harto juga sudah terlebih dahulu mendatangi makam Pak Harto.

"Yang datang pertama itu Mas Bambang Triadmojo. Mas Bambang datang beserta istrinya Mayangsari. Mereka berdua datang sore hari pada hari Sabtu. Sedangkan Mas Tommy, datang pada Rabu kemarin. Kalau Mas Tommy datang itu selalu di malam hari. Dan barusan, Sabtu kemaren, Mbak Titik dan Mbak Mamik ke sini. Keduannya pun datang di malam hari. Yang belum itu Mas Sigit dan Mbak Tutut. Keduannya belum ziarah ke sini," papar Sukirno

Menyangkut haul Pak Harto, Sukirno mengaku belum ada perintah dari putra-putri Pak Harto untuk menggelar acara haul di Astana Giribangun. Seperti halnya di Ndalem Kalitan, di Astana Giribangun pun putra-putri almarhum Soeharto sudah dua tahun belakangan ini tidak pernah menggelar haul Pak Harto. Biasannya setiap mengadakan acara haul, keluarga Cendana, selalu menggelar pengajian dengan mengundang warga sekitar Astana Giribangun.

"Terakhir itu di tahun 2013 lalu. Biasannya ketiga putri Pak Harto, Mbak Tutut, Mbak Titik dan Mbak Mamik yang ke sini. Bareng dengan warga sini, menggelar pengajian. Tapi sampai saat ini saya belum menerima dawuh (perintah)," ungkapnya.

Namun demikian, jumlah pengunjung ke astana Giribangun ini selalu meningkat. Ia mengatakan, jumlah pengunjung ke Astana Giribangun dari hari ke hari terus bertambah. Dalam sehari mencapai 300 peziarah, bahkan seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan jumlah pengunjung bisa mencapai 2.000 orang per hari.

"Biasannya, para pengunjung ini tidak sekadar ziarah saja. Mereka menggelar pengajian sendiri di dalam area makam. Itu murni keinginan mereka melakukan pengajian. Tidak ada yang meminta mereka untuk menggelar pengajian haul sendiri di areal makam," paparnya.

Sukirno menjelaskan, di dalam bangunan utama Astana terdapat lima makam, yakni makam Soeharto, Tien Soeharto, kakak perempuan dan kedua orang tua Tien Soeharto. Sedangkan di luar areal utama makam juga terdapat sejumlah makam. Namun, makan yang ada di luar dari bangunan utama merupakan makam dari sanak saudara keluarga Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto.

Ia menambahkan, untuk mengelola dan merawat makam, "Ada 32 karyawan yang membantu merawat makam keluarga Soeharto di Astana Giribangun," ungkapnya.

Sukirno menambahkan, banyaknya yang mengunjungi makam biasanya menggunakan mobil pribadi, juga rombongan menggunakan bus besar. Dari sekian banyaknya pengunjung, biasanya ada yang merupakan keluarga dari Pak Harto atau Ibu Tien.

"Barusan keluarga pak Harto yang dari Yogyakarta datang ke sini. Di sini sama-sama dengan pengunjung dari Blitar dan Ponorogo, gelar pengajian haul pak Harto," tutupnya. (fal)

(uky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini