nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketika Muktamar NU Menghadapi Ujian Paling Kritis

Randy Wirayudha, Jurnalis · Kamis 06 Agustus 2015 06:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 08 05 337 1191321 ketika-muktamar-nu-menghadapi-ujian-paling-kritis-QfPvU6Xeiq.jpg KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (Foto: Antara)

JAKARTA – Beberapa hari lalu sempat terjadi gaduh di Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33, yang akhirnya redam usai Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) memberi wejangan.

Usai wejangan Gus Mus yang menampilkan NU dengan rendah diri dan santun itu, muktamirin atau peserta muktamar pun langsung teduh, tak lagi gaduh. NU tengah menghadapi ujian.

Salah satu ujian yang paling berat dihadapi ormas yang didirikan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari itu adalah saat Muktamar NU ke-29. Muktamar NU tersebut dikenal paling keras dan mencekam sepanjang sejarah ormas yang dilahirkan tahun 1926 itu.

Muktamar tersebut berlangsung di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat tahun 1994 silam. Saat itu, belum lama setelah Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Umum PDI secara aklamasi di Surabaya tahun 1993.

Seolah tak mau kecolongan seperti Kongres PDI tahun 1993, Presiden Soeharto pun melakukan ‘intervensi’ dengan mendukung secara penuh salah satu calon Ketua Umum PBNU untuk melawan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) sebagai incumbent.

Gus Dur yang memimpin PBNU sejak 1984 itu memang dikenal sebagai tokoh yang paling berani melontarkan kritik terhadap kepemimpinan nasional Orde Baru (Orba).

Seperti dilansir buku ‘A Nation in Waiting: Indonesia in the 1900’, Gus Dur sebagaimana wawancara Adam Schwarz, bikin panas kuping Soeharto dengan sebutan “bodoh”.

Ketidaksenangan Soeharto kian nampak ketika Gus Dur ingin kembali maju mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode ketiga 1992-1999, pada Muktamar NU ke-29. Pada muktamar itulah, rezim Soeharto membuat skenario demi bisa mendepak Gus Dur dari NU.

Dimunculkanlah penantang dari internal NU sendiri yang pastinya anti-Gus Dur, Abu Hasan. Bahkan sang paman Gus Dur, KH Yusuf Hasyim, juga ikut terbawa menentang keponakannya. Seperti dikutip dari buku ‘Ajengan Cipasung’, Muktamar NU ke-29 itu melahirkan konflik di tubuh NU yang sangat tajam dan sangat nampak adanya jual-beli suara. Sebuah muktamar yang mengabaikan akhlak dan khittah 1926.

Gelaran muktamar itu juga terkungkung penjagaan militer, terlebih Presiden Soeharto sendiri, Panglima ABRI Jenderal TNI Faisal Tandjung, serta para menteri rezim Orba turut hadir di muktamar tersebut.

Tidak hanya personel militer dan sejumlah intel yang menyebar di seantero lokasi muktamar, kendaraan lapis baja juga ikut mengelilingi arena Muktamar Cipasung. Beberapa dari personel ABRI diketahui menyamar dengan seragam Banser (Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama).

Pemilihan pemimpin NU sempat menghadirkan empat calon. Selain Gus Dur, Abu Hasan, dan Chalid Mawardi serta Fahmi Saifuddin ikut maju mencalonkan diri. Abu Hasan yang diketahui jadi “alat” Soeharto untuk memecah kekuatan NU dan mendepak Gus Dur, sayangnya gagal memenuhi harapan Soeharto.

Pada putaran pertama, Gus Dur unggul 157 suara. Sementara Abu Hasan 136 suara, Fahmi Saifuddin (17 suara) dan Chalid Mawardi 6 suara. Pada putaran kedua di mana sempat terjadi jual-beli suara, ternyata tak juga bisa meruntuhkan kekuatan suara Gus Dur. Di putaran kedua, Gus Dur tetap unggul 174 suara dibanding Abu Hasan 142 suara.

Suasana sempat tegang setelah hasil penghitungan suara. Potensi terjadinya bentrokan bak di depan mata. Tapi kemudian sejumlah kaum muda NU membentuk pagar betis melingar melindungi Gus Dur dari potensi bentrokan, kendati akhirnya tak terjadi hal terburuk itu.

Abu Hasan yang mengaku diperalat Soeharto, meminta maaf pada Gus Dur dan diajak kembali ke tubuh NU. Sementara sejak Gus Dur terpilih lagi, Soeharto tak pernah berkenan menjamu PBNU di Bina Graha, sampai pada 1997.

Di tahun 1997 itu, Soeharto baru mau bersalaman dengan Gus Dur di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Gus Dur menjinakkan “The Smiling General” lewat putrinya, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) yang diajak Gus Dur ‘blusukan’ ke sejumlah kantong massa NU.

Kebencian Soeharto juga tak menghadirkan perasaan serupa dari Gus Dur terhadap Presiden RI kedua itu. Gus Dur tak jarang mendatangi Soeharto pasca-Reformasi saat lebaran, bahkan saat Soeharto terbujur di rumah sakit.

Ketika Soeharto wafat, Gus Dur merupakan satu dari sedikit negarawan yang diperkenankan melayat ke kediaman Soeharto. Sementara BJ. Habibie sempat ditolak Cendana dan Megawati Soekarnoputri tengah berobat ke Singapura.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini