nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tembak Mati Anggota Din Minimi, Polisi Dikecam

Salman Mardira, Jurnalis · Jum'at 28 Agustus 2015 17:41 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 08 28 340 1204277

BANDA ACEH - KontraS mengecam penembakan yang menewaskan Junaidi alias Beurjuek (30), anggota kelompok bersenjata Din Minimi, di SPBU Batuphat, Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Penembakan oleh aparat kepolisian itu dinilai menyalahi prosedur. Alasannya Beurjuek yang merupakan buronan Polda Aceh tak bersenjata saat itu.

"Walaupun dia terduga pelaku kejahatan tetap mempunyai hak yang sama di depan hukum," kata Koordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra, Jumat (28/8/2015).

Menurutnya, penembakan terhadap Beurjuek pada Kamis 27 Agustus 2015 bukanlah tindakan pelumpuhan. Karena kalau untuk melumpuhkan, polisi seharusnya tidak menembak dada dan leher tembakannya, tetapi kaki.

Hendra menilai tindakan polisi bertentangan dengan Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009, karena mengedepankan penggunaan senjata api untuk melumpuhkan tersangka.

"Kompolnas harus segera melakukan uji balistik terhadap senjata yang digunakan dan juga kepada korban harus segera dilakukan autopsi supaya bisa diketahui apakah betul dia melakukan perlawanan serta dalam jarak berapakah korban ditembak," sebutnya.

Sementara Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) juga mengecam penembakan di SPBU Batuphat yang menewaskan Beurjuek. Lokasi itu masuk kawasan padat penduduk. "Penembakan yang dilakukan polisi belakangan ini dalam pandangan kami sudah melampaui batas. Kami meminta agar polisi tidak mencari kesempatan untuk dapat menembak semaunya hanya karena alasan memburu kelompok Din Minimi," ujar ujar Henny Naslawaty, dari YARA.

Menurutnya, penembakan-penembakan baik oleh TNI atau Polri belakangan ini sudah meresahkan masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dari trauma konflik. "Kami mendesak kapolda dan pangdam untuk tidak menggunakan senjata dalam penyelesaian kasus ini," sebutnya.

Dari awal, lanjut dia, Din Minimi cs sudah menyatakan mereka hanya menuntut keadilan pada Pemerintah Aceh yang juga pimpinan mereka dalam organisasi GAM. "Kami minta gubernur untuk segera bertindak terhadap situasi ini, kami akan menyurati Komnas HAM untuk melakukan investigasi terhadap beberapa penembakan di Aceh," ujar Henny.

"Kami tegaskan bahwa persoalan di Aceh sekarang adalah ketimpangan keadilan dan mereka yang menjadi korban ketidak adilan sedang menuntut kepada pemerintah sipil di Aceh tidak ada urusan dengan TNI dan Polri," ungkapnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini