nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kejanggalan Kasus Tabrakan yang Menewaskan Mahasiswa Unisba

Tri Ispranoto, Jurnalis · Selasa 08 September 2015 19:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 09 08 525 1210628 kejanggalan-kasus-tabrakan-yang-menewaskan-mahasiswa-unisba-Dz9eb9s5Z2.jpg Orangtua Novaldy (Foto: Tri Ispranoto/Okezone)

BANDUNG – Pihak keluarga korban kecelakaan yang menewaskan mahasiswa Unisba, Novaldy Pahlevi Muggaran (21), mengganggap kasus tersebut penuh dengan kejanggalan. Apa saja kejanggalan itu?

Ayah Novaldy, Ahmad Danal Ruseno (45), membeberkan, kejanggalan pertama adalah pada pokok perkara yang baru saja disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Bandung pada Selasa (8/9/2015).

Dalam sidang tersebut jaksa mendakwa kasus tersebut adalah kecelakaan tunggal disebabkan oleh temannya sendiri, AS (17), yang lalai hingga menyebabkan Novaldy yang saat itu dibonceng menggunakan motor Yamaha Fino D 5890 ZBT jatuh dan akhirnya meninggal dunia.

Namun pihak keluarga berkeyakinan jika hal tersebut adalah buah rekayasa. Pasalnya dari sejumlah fakta dan kesaksian, Novaldy terjatuh dari motor lantaran ditabrak dari belakang oleh mobil Grand Vitara yang dikendarai oleh Rimau S Alqara.

“Kemudian saya dari awal foto motor anak saya mulai dari saat dijadikan barang bukti di kepolisian sampai di kejaksaan. Dari foto awal tanggal 19 lampu belakang dan velg belakang rusak yang memastikan bahwa motor ditabrak dari belakang. Tapi tanggal 31 kemarin di Kejaksaan difoto kondisi lampu belakang dan velg bagus seperti baru,” beber Ahmad saat ditemui di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Selasa (8/9/2015).

Selanjutnya adalah kejanggalan yang ada pada mobil Rimau. Mobil tersebut dipastikan berjenis Grand Vitara, namun dalam dakwaan mobil berubah menjadi Escudo meski pun warnanya tetap sama yakni hitam.

“Lalu waktu saya cek ke Polsekta Lengkong katanya mobil itu lagi dipinjam. Tapi saya mendapatkan foto ternyata mobil itu sedang diperbaiki di bengkel,” ungkapnya.

Ahmad berharap dirinya bisa mendapat keadilan atas kasus yang menimpa anaknya. “Yang saya takutkan nanti vonis rekayasa kecelakaan tunggal ini keluar, tapi kasus anak sayatidak terungkap. Seharusnya kalau aparat berkeyakinan ini kecelakaan tunggal, kasus anak saya pun berjalan karena ini satu rangkaian. Jangan dipisah,” tuturnya.

Meski mengaku telah mengikhlaskan kematian anak pertama dari tiga tersebut namun pihaknya tetap mendukung kasus tersebut terus terungkap demi keadilan terhadap kedua teman Novaldy, AS yang kini berstatus terdakwa dan Tedi yang mengalami cacat permanen dan hilang ingatan pasca kecelakaan.

Ahmad berharap laporan pihak keluarga terkait Pasal 338 KUHPidana mengenai pembunuhan dengan terlapor Rimau kepada pihak kepolisian terus diselidiki dan diusut hingga tuntas. “Saya tidak mau penabrak anak saya bebas,” tutup Ahmad dengan mata berkaca-kaca.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini