Kisah Mahasiswa Tuna Netra Unnes Peraih Emas Pimnas 2015

Iradhatie Wurinanda, · Senin 12 Oktober 2015 16:16 WIB
https: img.okezone.com content 2015 10 12 65 1230364 kisah-mahasiswa-tuna-netra-unnes-peraih-emas-pimnas-2015-WhRyVK6mLB.jpg Menyandang tuna netra, Agus Jafar berhasil raih emas di Pimnas 2015. (Foto: Dok. Unnes)

JAKARTA - Memiliki kekurangan pada indra penglihatan tak membuat Agus Jafar patah semangat. Sebaliknya, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini justru mampu mencetak prestasi yang membanggakan. Jafar mengantarkan timnya memperoleh emas dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2015 di Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari.

Mahasiswa asal Batang ini mengatakan, mengidap tuna netra sejak lahir. Namun, bukan tuna netra total, melainkan hanya low vision. Menurut Jafar, mata kirinya tidak berfungsi, sedangkan mata kanannya bisa berfungsi dengan jarak pandang yang pendek.

"Ini genetis. Semua saudara laki-laki menderita kekurangan penglihatan yang sama. Kalau saudara perempuan justru tidak," tuturnya sebagaimana dilansir dari laman Unnes, Senin (12/10/2015).

Kekurangan pandangan, ucap Jafar, sempat membuat aktivitas belajarnya terganggu. Namun, dengan gigih, remaja kelahiran 17 Agustus 1991 ini tetap berusaha tegar dan melanjutkan belajar.

Dia menceritakan, setelah lulus sekolah menengah pertama berbasis Islam, dirinya sempat vakum sekolah selama dua tahun. Waktu tersebut digunakan untuk bekerja selama satu tahun, sedangkan satu tahun berikutnya dihabiskan untuk pergi ke panti rehabilitasi terbesar dan tertua di Indonesia, Wyata Guna di Bandung.

Siapa sangka, menghabiskan waktu panjang di panti tersebut membuat Jafar terinspirasi terhadap banyak hal, salah satunya ingin menebar manfaat bagi sesama penyandang disabilitas, khususnya tunanetra.

Setelah resmi menjadi mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Unnes pada 2013, dia pun mulai merealisasikan mimpinya itu, yakni melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul 'Pelatihan Alquran Braille bagi Penyandang Tunanetra'.

"Saya mendapatkan bantuan dari LSM yang ada di sekitar panti di Bandung untuk pengadaan Alquran Braille tersebut secara gratis. Alhamdulillah, setelah pelatihan yang kami adakan, sekarang mereka sudah bisa mandiri," ungkapnya.

Selain PKM, cowok dengan tinggi badan 191 sentimeter ini juga menggagas komunitas peduli kaum disabel saat aktif sebagai fungsionaris Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Pendidikan 2014. Bahkan, Jafar kembali menyemai gagasannya untuk memberikan keterampilan bagi tunanetra di Purbalingga.

"Biasanya hanya pijat biasa saja yang dikuasai tunanetra. Karena itu saya membuat pelatihan pijat refleksi ini agar mereka bisa mengembangkan keterampilan para penyandang tunanetra agar bisa bersaing," imbuhnya.

Melalui prestasi yang diraihnya itu, Jafar ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga bisa berkarya dan bersaing dengan orang-orang normal pada umumnya. (ira)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini