nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sarjana Paripurna

Selasa 13 Oktober 2015 08:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 10 13 65 1230874 sarjana-paripurna-KhoFPIBLaz.jpg Ilustrasi: Shutterstock

SARJANA katanya kaum intelektual yang katanya memiliki kelas lebih tinggi dibandingkan siapa pun yang gagal mengecap manisnya sekat ruang kuliah. Namun yang terjadi, menurut Data tenaga kerja yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2015 tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan Universitas meningkat. TPT lulusan universitas pada Februari 2014 sebesar 4,31 persen, dan naik pada Februari 2015 menjadi 5,34 persen (Kompas.com/ 5 /5/2015).

Inilah fakta di lapangan, diwisuda sebagai pengangguran terdidik, ijazah untuk membukus terasi, minus mandiri, labil emosi, dan gagal menjadikan agama sebagai fondasi. Miris, tetapi inilah sepenggal cerita anak negeri.

Sarjana yang katanya memiliki kualitas unggulan, terbukti belum banyak dimiliki oleh negeri ini. Adanya semacam stigma yang menggangungkan kemampuan akademis juga menjadi malapetaka tersendiri. Hingga lahirlah puisi-puisi tentang si cumlaude yang gagal membawa diri.

Ada lagi yang selama menempuh pendidikan di universitas, sibuk mengikuti rapat di sana sini, bak pejabat publik yang memiliki jam terbang tinggi. Tetapi akhirnya, diwisuda sebagai sarjana abadi, bahkan ada yang terjerumus pada politik praktis. Padahal, seharusnya sebagai orang yang eksis, memiliki kemampuan baik memperioritaskan waktu yang dimiliki. Toh, semua orang diberikan waktu 24 jam, tidak lebih dan tidak juga kurang.

Kemudian, banyak juga memiliki kemampuan akademis mumpuni, dan berhasil mencapai pucuk kepemimpinan tertinggi dalam sebuah organisasi. Tetapi nihil kemandirian, gengsi berbisnis, meskipun bisnis itu tidak sulit. Seperti cukup menjual beberapa potong roti per hari, siapa tahu kelak menjadi pengusaha roti terbaik. Ah, lagi-lagi, seseolah berjualan itu "haram" bagi calon sarjana. Kata mereka, tugas kita menyelesaikan kuliah sebaik mungkin.

Pada akhirnya, setelah lulus kuliah menambah daftar panjang pengangguran, masih meminta-minta pada orangtua, pekerjaan belum jelas, mau membuka usaha tidak ada modal, penghasilan kalau pun ada pun pas-pasan. Jadi, jangankan berani berteriak besar-besar, perut sendiri lapar belum ada jalan keluar. Lagi, dan lagi kita terlalu gengsi ketika masih jadi mahasiswa.

Modal Dasar

Padahal, modal membuka usaha yang paling penting bukan uang. Tetapi mental dan segala yang telah Tuhan anugerahkan pada kita. Baik tangan yang bisa menghasilkan kreativitas, kaki yang kuat berjalan, pikiran dengan kemampuan berpikir kritis dan solutif, dan hati yang peka sehingga mampu menerawang keinginan pasar.

Apakah kita mau tangan yang lengkap itu digantikan dengan uang Rp1 miliar? Tentu tidak. Jadi betapa berharganya tangan tersebut, jangan sia-siakan apa pun modal yang sudah melekat pada diri. Berhenti mengeluhkan nasib. Sarjana harus berdikari.

Kemudian, yang paling menggelitik di hati, ketika kemampuan akademis, organisasai dan finansial bersinergi dengan baik. Tetapi pada akhirnya, melupakan kecerdasan paling dasar yang seharusnya dimiliki oleh seorang sarjana, yaitu kecerdasan spiritual, dengan tidak melupakan Rabb-nya dalam setiap perjalanan kehidupan.

Lihat saja, betapa cerdas para koruptor negeri ini. Tetapi akhirnya kecemerlangan dunia menggelapkan mata, ketika harta, tahta, dan wanita menjadi godaan terberat. Sehingga kadar intelektual, emosional tergadaikan. Lagi-lagi, ada pekerjaan rumah penting untuk republik agar melahirkan kualitas sarjana yang memiliki empat aspek penting tersebut. Sehingga kalaupun gagal dalam segala hal kehidupan. Tidak lantas menyalahkan Allah, namun mampu bangkit mencapai titik terbaik kehidupan. Karena tidak ada pelaut ulung lahir dari laut yang tenang. Dan dengan dasar kemampuan kecerdasan spiritual yang baik mampu menjadi hamba yang sadar diri, bahwa kita hanya hamba yang bertugas menjadi khalifah baik di muka bumi.

Harus diakui, tidak semua orang memiliki keadaan yang sama, kecerdasan yang setingkat, kemampuan orangtua dalam mendidik anak yang bagus, atau kesempatan yang sejajar. Banyak masalah di republik ini yang membuat kompetensi sarjana menjadi tidak diperhitungkan.

Kesenjangan antara kualifikasi pendidikan dan kompentensi yang dimiliki oleh para penganggur dengan kebutuhan pasar juga belum teratasi. Apalagi menyambut MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang sarat persaingan. Praktik kapitalisme juga merajalela, jadilah makin memburuk keadaan. Tetapi jangan lantas berdiam diri, seseolah kita yang paling menderita di muka bumi.

Sarjana Paripurna

Jadilah sarjana yang memiliki kompetensi yang baik, jangan menjadi sarjana terlarang, yang apa-apa pun tidak mengerti. Prioritaskan apa yang diinginkan dalam hidup. Jika pengetahuan itu penting, alokasikan dengan baik waktu untuk belajar. Toh, tidak ada juga manusia mau cacat di tangan dokter yang melakukan malapraktik. Dan juga tidak ada orang yang mau menggaji kita dengan besar jika kemampun emosional (mengendalikan diri) tidak baik.

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukan segalanya, hanya syarat awal melamar pekerjaan. Bangun kemampuan berhubungan baik dengan orang lain.

Ciptakan komunitas positif. Bersahabat dengan orang-orang berkualitas hidupnya, terutama orang-orang yang ingat pada penciptanya. Karena pikiran menentukan tindakan, tindakan melahirkan kebiasaan, kebiasaan akan menjadi nasib. Kemampuan spiritual yang baik penting dalam mengayuh derasnya arus kehidupan.

Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna yang positif pada setiap peristiwa atau masalah yang menimpa dirinya. Ia mampu membangkitkan jiwanya, dan melakukan perbuatan atau tindakan yang positif. Selain itu, kecerdasan spiritual juga dapat menciptakan keberanian dalam bertindak, lebih tenang dan terarah dalam menyelesaikan persoalan dan lebih kepada rasa kemanusian atau keadilan untuk memilah-milah reaksi terhadap suatu peristiwa yang terjadi (Zohar dan Marshall, 2007).

Hidup memang sudah sulit, banyak sekali persoalan politik, ekonomi, budaya yang mempengaruhi kehidupan kita. Tetapi, seharusnya bukan alasan bagi sarjana untuk menyerah. Jika semua orang menolak menerima mempekerjakan kita, siapa tahu kita memang layak membuka pekerjaan untuk orang lain.

Tidak semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita baik. Tetapi, kita berhak memilih untuk memberi reaksi yang baik. Daripada terus mengutuk hujan, lebih baik menyiapkan payung sebelum hujan.

Bagi adik-adik yang akan atau sedang menempuh pendidikan sarjana, atau yang sudah sarjana. Mari kita bangun kualitas terbaik dalam diri. Kita adalah raksasa yang masih tidur di tengah hiruk pikuk persoalan negeri. Jadilah sarjana idaman, yang gagah ilmunya, kuat emosionalnya, mantap finansialnya, juga mengakar nilai-nilai spiritual dalam diri.

Kita mungkin bukan manusia terbaik, tetapi berusaha mengoptimalkan kemampuan terbaik. Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti.

Elviyanti

Mahasiswi Program Studi Profesi Ners

STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe

Anggota Komunitas Panteu Menulis Pasee

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini