nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mata Air Karst Citatah Memprihatinkan

ant, Jurnalis · Rabu 28 Oktober 2015 09:51 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 10 28 525 1239265 mata-air-karst-citatah-memprihatinkan-qP7KoHfMO8.jpg Ilustrasi. (dok.Okezone)

JAKARTA - Peneliti sekaligus pemerhati karst dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), Budi Brahmantyo mengatakan, mata air dan sungai di kawasan karst Citatah, Kabupaten Bandung Barat, semakin memprihatinkan akibat pertambangan kapur.

"Dari penelitian saat ini tinggal tersisa sedikit mata air dan sungai di kawasan karst Citatah," ujarnya di Jakarta, Rabu (28/10/2015).

Sementara peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Republik Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi menyebutkan, pertambangan kapur yang ada di Citatah berpotensi memutus distribusi di kawasan karst tersebut.

"Penambangan di karst berpotensi memutus fungsi karst sebagai pendistribusi air melalui gua. Jika distribusi air terputus menyebabkan mata air hilang dan pemulihan seperti sediakala sangat sulit," katanya.

Kawasan karst merupakan bentang alam di batuan mudah larut seperti batu amping. Karst memiliki jaringan gua sebagai pipa air alami yang menghubungkan zona resapan, zona simpanan, dan mata air yang penting bagi masyarakat di kawasan itu.

Di kawasan karst Citatah terdapat Gua Pawon yang merupakan sebuah tempat yang penting bagi orang Sunda karena di sana pernah ditemukan kerangka manusia purba yang konon adalah nenek moyang orang Sunda.

Gua ini sebenarnya adalah suatu situs purbakala yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, atau sekira 25 kilometer arah barat Kota Bandung.

Kendati demikian, masyarakat patut bergembira menyambut terbitnya rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang pengelolaan kawasan karst, seperti PP Ekosistem Karst yang saat ini masih dalam pembahasan.

Cahyo Rahmadi menyebutkan ekosistem karst bernilai penting. Sudah tentu gangguan pada keseimbangan komponen biotik dan abiotik di karst akan mengganggu kehidupan manusia itu sendiri.

"Kita berharap regulasi tersebut dapat menjadi landasan untuk kebersamaan aksi multi pihak dalam mengelola kawasan karst," tuturnya.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini